Postingan

Menampilkan postingan dengan label Problematika Ummat

Mengelola Keuangan Keluarga #4 : Tabel Pemasukan - Pengeluaran

Gambar
Tabel punya saya gimana? Untuk bakunya, saya buat tabelnya di laptop. Ada penyesuaian tabel dari saat ke saat (ga hanya dari tahun ke tahun, hehe). Karena jika ada perubahan income, tabel pasti berubah (walau ga major sih). Jika ada perubahan komponen2 pengeluaran, juga pasti tabelnya berubah lagi. Hehe. Untuk kesehariannya, saya lebih suka untuk mencatatnya di agenda saya. Tapi untuk memfoto langsung agenda saya, saya malu pisan. tulisannya jelek. hehehe.. A. Pemasukan Pemasukan Tetap Suami : Pemasukan Tetap Istri : Pemasukan Lain : Kalo saya dan suami, tentang pemasukan lain yang seribu duaribu rupiah tidak kami masukkan ke catatan keuangan. Males soalnya. Hehe. Ga rapih, ya? Kalo pemasukan lain seperti tunjangan prestasi dan gaji 1314151617181920, baru dimasukin. Harus jelas soalnya lari kemana nantinya. B. Pengeluaran Tabel yang saya punya seperti ini.  Area peach : untuk alokasi hepi2 sama the needy. Area biru : untuk alokasi nabung menabung...

Mengelola Keuangan Keluarga #2: Hey Generasi Millenial!

Gambar
1.        Besarnya pendapatan itu relative. Ga ada yang bisa mengatakan penghasilan kecil itu pasti kurang atau penghasilan besar itu pasti cukup. No, semua sangat relative. Tergantung si pelaku. Apakah dimanfaatkan, atau sekedar dihabiskan. Penghasilan besar belum tentu merasa “kebutuhan”nya tercukupi kok. Pun sebaliknya. Karena komponennya tidak hanya KEBUTUHAN di sini, tapi juga KEINGINAN. Kuncinya apa? Jeli untuk mengetahui apakah itu kebutuhan atau keinginan. Keinginan itu sungguh lebih luas dari semesta. Semesta masih ada batasnya, sedangkan keinginan tidak berbatas. Boleh kok berkeinginan, tapi lihat kondisinya. And be creative! Banyak jalan menuju Paris, sis! Tapi jika sudah berbulan2 berusaha tertib, lalu berkaca dari list pengeluaran bulanan yang benar2 dibutuhkan tapi masih lebih besar pasak daripada tiang, berarti itu saatnya bekerja dan berdoa lebih giat lagi. In syaa Alllh, akan tambah lebar rezekinya, ikhtiaaaaar yuk! 2. ...

Demanding Interviewee

Gambar
Beberapa waktu lalu gue sempat menjalani beberapa tes dan wawancara kerja di sebuah dink**. Belum ada hasilnya sampai sekarang. Katanya sih akhir juni. Bener2 nothing to loose dulu kirim dokumen ke dink**, udah lama banget juga. Bahkan gatau sebenarnya ada open recruitment posisi DU atau ga di area itu. Kirim, kirim aja.. Eh, alhamdulillah dipanggil. Dan kemarin dibilang, “ohya, kelengkapan dokumennya kurang ya, dok.” *grin* Tes kompetensi berjalan biasa, psikotest juga biasa, tes komputer juga biasa -bahkan gue baru tau ada tes komputer pas pengawasnya bilang, “ya, psikotes sudah selesai. Sekarang kita tes komputer” *what, ngapain ya kira2?* Nah, terakhir sesi wawancara. Kok ya kebagian wawancaranya langsung sama kepala umpegnya. *ga kenapa2 sih* Dan pertanyaannya langsung, “Dok, apakah siap ditempatkan di mana aja? Dalam artian, di seluruh bagian ((dia nyebut daerahnya))?” Dan jawaban gue adalah... Muter2 diplomatis, yang bisa disimpulkan adalah “Nggak. Gamau yang jauh...

Sarang Kodok #3 : Prinsip & Cara Kodok

Gambar
Nah... Poin2 “ kelola latte factor ” itu gue dan lakik terapin juga dalam proses membeli, memperbaiki, dan mengisi “Sarang Kodok”. Dont get me wrong, ya : poin2nya aja. Lakik gue itu bisa dibilang high standard. High standard itu bukan berarti pecinta barang mahal dan branded loh, ya. Kalo yang harganya 5000, tapi masuk di kualifikasi standardnya dia, ya bakal milih yang ini. Dia ga bakal milih produk dari merk terkenal, tapi sebenarnya overpriced, secara kualitas sebenarnya so-so. Jadi jangan sampai gue memilih sesuatu dengan alasan, “yang ini lebih murah, Nda.” Dia bakal sama sekali ga suka kalo gue abai dengan kualitas. Kalo dia udah keluar kalimat, “inget apa kata kanda?” itu tandanya kelar udah hidup gue *lebay* Dia cuma minta, “kalo kamu mau yang murah. Yang diturunin itu harganya. Bukan standardnya. Bukan seleranya.”  nah loh.. Berat ga tuh hidup gue? *chuckles* Trus apa yang gue dan lakik gue lakukan? Mencari, mencari, dan mencar...

Latte Factor

Gambar
Halo, guys! Its been a while i didnt write anything in this lonely diary online. *pukpuk* so many things going on sejak gue balik dari Nganjuk. Sebenarnya ide juga memori di kepala gue saling berebutan untuk ditongolin duluan. Ssst.. Sst.. Be calm ya, kiddos. Let me try to review one by one. Sebenarnya gue pecinta hal yang sequence. Tapi berhubung gue dan lakik cuma punya satu laptop, so kali ini gue post cerita pendek randomly aja, ya. Secara laptopnya lagi digotong lakik gue buat nemenin dia final dikpim di Magelang. Gue ngetik di tab ini *niat abis ga tuh?* Banyak yang nanya ke gue, “gimana caranya ngatur keuangan? Ada tips? ” Well.. tiap ada yang nanya gitu honestly gue bingung karena sebenarnya gue belum merasa menjadi CFO yang baik. Jauh. Kalo gue jawab, “bikin pos distribusi masing2 dan money diary” itu klasik abis. Secara kayanya hampir semua orang udah tau teori itu, bahkan mungkin they do it better than me. Trus? Kali ini gue pengen cerita tentan...

Menyapa Samudera : Waspada

Gambar
Jangan salah sangka, kita tidak hanya akan diuji pada apa yang kita belum punya, tapi kita pun akan digoda pada apa yang sudah kita punya. Hedon untuk si kaya, malas untuk si papa, angkuh untuk si baik rupa, riya' untuk alim ulama, nyinyir untuk si sholeha, juga tamak untuk si penguasa. Jangan lepas waspada, selain tengok kiri, sudah seharusnya kita juga tengok kanan. Karena sungguh, ia akan  menyerang dari arah mana-mana.

Menyapa Samudera : Rem

Gambar
Assalamu'alaykum, Samudera. Pernah merasa ga punya tas, lalu maunya beli2 lagi, padahal sudah punya ransel, beberapa handbag, juga slingbag? Rasanya masih kurang saja, entah dengan alasan kebesaran buat kondangan, atau kekecilan buat kerja, atau sekedar alasan kurang unyu, atau kurang banyak (?). Pernah merasa not enough dgn lipstick yg sudah dipunya, lalu lapar sana-sini beli warna dan merk macam2? Padahal gatau itu lipstick bakal habis kapan, atau bahkan sampai akhir pun ga akan pernah habis. Pernah merasa ga punya baju, padahal baju udah numpuk selemari bahkan sampe tumpe2? Pernah merasa maunya beli2 lagi sepatu, padahal jumlah sepatu udah ngalah2in jumlah hari dalam seminggu? Ga heran kalo kerjaannya tiap hari baper banget ngeliat onlineshop2, lalu laper pingin ntransfer. "Sis, aku keep ini ya, sis." -,-" . Di kala aku merasa sedang tersisip "maruk" sebagai nama tengahku,- di kala bukan hanya logika fungsi yang bicara, tapi logika style yang sedang ja...

Menyapa Samudera : Kuat

Gambar

Menyapa Samudera : Terbahagia

Gambar

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Gambar
17 Februari 2015 Benar saja, keesokan sorenya, ummi, abi, maskodok, dan  istri mendatangi rumah yang ditaksir. Dan Alhamdulillah, penilaian Abi dan Ummi terhadap rumahnya positive. Bahkan Abi sampai tidak jadi menawar harga rumah. Waddduh! *tepok jidat* Mungkin karena benar2 sudah lihat lokasi, kondisi rumah, dan tau kalo rumah sekitar situ banyak dijual sampai 1-1.5M. Abi hanya bilang, “Bagus. Pemilik rumahnya juga keliatan orang baik dan jujur. Yaudah.. bicarain lagi aja sama Mas Donnynya kalo kalian emang suka.” Perasaan maskodok dan istri campur2 banget saat itu. Mereka memang suka dengan rumah dan pemiliknya, tapi bingung bagaimana cara bayarnya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Maksudnya gini, maskodok dan istri ingin semua pihak sama2 puas dan senang. Pihak maskodok dan istri ridho, pihak mas Donnynya pun ridho. Ga ada yang merasa terugikan sedikitpun. Uwuwuwuwuwuuuuuuu.. Akhirnya mereka saling menyemangati dan menguatkan. Bismillah, maju terus. Oh iya.. intermezzo. ...

Rumah #5 : Kesan Pertama

Gambar
Rumah yang sempat dilihat istri maskodok sangat beragam; baik yang dinilai dari segi lokasi, kondisi, dan harga rumah. Ada yang menghadirkan ekspresi, “oooh..” Ada yang cukup dengan,”hm..” Ada yang, “alamaaaak..” Bahkan ada yang, “happppaaaaah??” *kaya gayanya Bastian di sitkom Tetangga Masa Gitu* Tapi tenang tenang… ekspresi2 itu hanya menari2 di dalam pikiran istri maskodok saja kok. Ekspresi wajah yang keluar hanya sebatas senyum2 ceria. Kan ceritanya lagi behave, walau sebenarnya similikiti. *oposih* Namun ketika diantar oleh seorang agen bernama mbak Novi ke sebuah rumah di Griya Bintaro Estate di sebuah senin yang cerah, ekspresi istri maskodok langsung, “kandaaaa wawawawaaaaa kandaaaaaaa…” Yang biasanya video rekaman baru dilaporkan ketika maskodok sudah pulang kerja, tapi kali itu istri maskodok ga tahan untuk ga ngeshare video, denah, dan lokasi saat itu juga. Betapa tidak? Rumah tersebut memiliki semua spesifikasi yang mereka inginkan. Bahkan beyond. Beyond banget. L...

Rumah #4 : KPR

Gambar
Istrinya maskodok, yang masih (tampak) similikiti, hepi banget karena maskodok memberikan space yang longgar buat dirinya untuk involve dalam perjalanan pencarian rumah ini. Mulai dari renegosiasi rencana ke maskodoknya sendiri, bertingkah sok tua dan sok meyakinkan ketemu dengan agen dan penjual rumah yang usianya 2-3kali lipat di atas dirinya, sampai ke pencarian informasi tentang KPR, dan proses selanjutnya. Jika istri maskodok mau ongkang2 kaki saja, cuma terima hasil jadi, sebenarnya bisa2  saja kok. Maskodok cukup mengerti dan cakap dalam melakukan banyak hal- termasuk urusan rumah ini. Tapi  jiwa selalu mautauaja dan mauikutcampur istri maskodoklah yang butuh media penyaluran. Dan Alhamdulillah, maskodok sangat mengerti kebutuhan istrinya itu *nyusahin emang dia bahaha* Tentang KPR, awalnya, istri maskodok ga ngerti sama sekali. Blas. Dan jika istrinya mau tanya langsung ke maskodok sebenarnya bisa aja, tapi kok ya dirasa kurang greget. Diskusi mana enak kalo yang s...

Rumah #3 : Mencari Calon Rumah

Gambar
1. Tentukan spesifikasi rumah yang dicari. Menurut maskodok dan istri, menentukan spesifikasi rumah yang dicari adalah bagian pertama juga utama dalam pencarian rumah. Spesifikasi maskodok : a) Luas tanah di atas 100m2, luas bangunannya kecil aja gapapa, kondisi bangunan jelek gapapa. b) Dekat dengan stasiun KRL. c) Harga 500-800juta. d) jalan depan rumah muat untuk mobil lewat. Poin ini penting jika rencananya akan mengambil KPR. Spesifikasi istri maskodok : a) Bintaro. b) Bintaro. c) Bintaro. d) Bintaro. Muehehehe. *plakk!*   2. Mencari Rumah Banyak jalan menuju Mekkah, begitu pula banyak jalan treasuring rumah. Ini yang mereka tempuh : ● Web. Web yang paling sering diakses : (www.rumah123.com) Tinggal masukkan spesifikasimu di baris pencarian, maka voilaaa! Akan muncul foto + deskripsi singkat tentang rumah yang dijual. Misal : “Rumah mungil untuk kantong mungil. LT : 100m2, LB : 36m2. Lokasi strategis, 10 menit dari kelurahan, 5 menit dari tukang mi ayam, 3 menit dari ...

Rumah #2 : Kesepakatan dan Kenekatan

Gambar
Sebenarnya: Sungguh setiap keluarga tidak wajib memiliki rumah sendiri- atas kepemilikan pribadi. Tidak ada kewajiban atas itu. Kewajiban suami kepada istri dan kewajiban istri kepada suami adalah hanya saling melindungi; dalam aspek yang luas namun terbatas. Jadi bagi yang masih mengontrak rumah, atau tinggal di rumah bapak ibunya, atau memang memutuskan menemani mertuanya, kalian tetap sah sebagai sebuah keluarga yang hebat. *hormat sepenuhnya* ~~~~~~~~~~~~~~~~~ Rencananya beli rumah tahun keempat pernikahan, kok tahun ketiga malah sudah terbeli (baca : sebagian hutang)? Kok bisa?   Ini bermula dari kegelisahan istri maskodok. Kegelisahannya bukan berasal dari irihati dan dengki melihat orang2 lain yang sudah memiliki rumah, bukan. Melainkan karena selepas sumpah dokter, istri maskodok sempat punya waktu selo untuk mempelajari dan memikirkan banyak hal lainnya; termasuk rumah. Begitu tau, jawdrop! Harus reschedule, pikirnya .   Loh? Kenapa terkesan  istri maskodok ...

Rumah #1 : Rencana

Gambar
Rencana Allah vs Rencana kita Aku termasuk orang yang mengimani : “Rencana Allah adalah rencana yang terbaik.  Selalu yang terbaik, karena Ia adalah kombinasi dari Maha Tau dan Maha Penyayang. Di satu sisi, Ia ga pernah salah- ga pernah tidur-  dan tau segalanya. Di sisi yang lain, Ia Maha Penyayang; selalu baik dan ga mungkin nakalin, ngisengin, apalagi jahatin hambaNya.”   Makdarit.. Jika rencanaNya precisely match dengan rencana kita, bersyukurlah. Namun jika rencanaNya berbeda dengan rencana kita, yuk lebih, lebih, dan lebih bersyukur lagi. Loh, kenapa? Kok gitu? Karena aku yakin, sebenarnya kita sedang diamankan dari apa2 yang buruk jika rencana kita itu justru malah kejadian- yang kita gatau apa- yang di luar perhitungan kita. Atau karena kita sedang dianugerahi apa2 yang jauh lebih cocok untuk kita – yang akal kita kadang suka ga nyampe – yang sering di akhir2 kita malah ngucap “Alhamdulillah.. blessing in disguise euy.”   ♥ Misalnya maskodok.   ...

Menyapa Samudera; Yang Berharga

Gambar
Assalamu’alaykum, Samudera. Jika kita tinggal di Indonesia, yang terpakai rupiah. Jika di Jepang, Yen. Jika di Amerika, dolar. Jadi, walau kita punya segambreng dolar, untuk bisa jajan cincau di pasar gembrong, tetap harus kita ubah dulu dolar itu menjadi rupiah bukan? Karena beda tempat, akan beda mata uangnya- beda yang terpakainya. Begitu pula dengan hidup. Jika kita hidup dalam "pandangan" Allah, yang terpakai adlh kesukaanNya- keridhoanNya. Jika kita hidup dalam "pandangan" manusia, yang berharga adalah kesenangan- penghormatan- kekaguman- pujian  manusia lain kepada kita. Dan hidup dalam pandangan manusia itu seperti hidup dalam game zombi vs plant. Kita akan merasa saaangat senang ketika banyak uang dan bintang pada saat game berlangsung. Tapi setelah game selesai, yasudah.. selesai semuanya. Dan bergunakah uang dan bintang itu untuk kehidupan nyata? Pun jika kita hidup dalam "pandangan" manusia, sebenarnya bergunakah segala pujian- sanjungan- ap...

Menyapa Gunatalikrama; Pintu

Gambar
Assalamu’alaykum, Gunatalikrama. Pernahkah kamu merasa tidak memiliki kesempatan? “Ah, bahasa inggrisku jebloks. Mana bisa aku  lanjut sekolah di luar negri?” sedangkan yang lain, “Hiks… aku rakyat jelata begini, sepertinya jalanku buntu untuk bisa sekolah spesialis jantung.” Sedangkan di pojok yang lain, “aku orang yang fakir, tidak punya harta untuk beramal, adakah sempat bagiku berinfaq untuk orang lain walau hanya terjadi sekaliii saja dalam hidupku?” Di sebuah tempat, kita menunggu kesempatan itu mengetuk pintu kita. Tapi.. satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun terlewati, belum juga kita dengar bunyi ketukan pintu yang kita nanti. Tidak jarang kita tetap berdiam, menunggu, dengan harap2 cemas.. bisakah- akankah- kapankah. Lalu merasa : ga- lau. bisa saja ujungnya : pu- tus- a- sa. Lalu berbalik, lantas : bu- bar- ja- lan. Padahal, di masa-masa penantian kesempatan, daripada galau yang berujung bubar jalan, seharusnya ...

Menyapa Gajendra; Berkemih

Gambar
Assalamu’alaykum, Gajendra. Bahagia adalah ketika kita bisa berkemih dengan lancar; keluar deras, tanpa nyeri, tanpa sendat, bermula dengan pas, berakhir dengan tuntas. Dan apa yang kita rasakan setelahnya? Leegaa . Jika sedang melihat beberapa lembaran merah, aku jadi ingat dengan berkemih. *kokbisa* iya… Karena rezeki itu bagaikan darah dalam tubuh kita; yang membawa zat2 penghidupan yang dibutuhkan oleh tubuh. Maka ga heran, jika darahnya sehat, tubuhnya in syaa Allah juga sehat. Dan seperti yang kamu tau, darah pun mengalir ke ginjal. Di ginjal, darah akan disaring; dikeluarkan beberapa zatnya dalam bentuk air kemih. Iya, ia harus dikeluarkan. Pun rezeki kita, memang sudah keniscayaan, ada bagian yang memang harus dikeluarkan- kepada yang berhak. Ia yang menahan2 untuk berkemih, berpotensi terkena batu ginjal&/batu saluran kemih. Jika sudah begitu, kebahagiaan berkemih akan sirna; akan nyeri, tersendat, menggelisahkan, bahkan meracuni tubuh. Pun hal itu, jika kita menahan...

Menyapa Gunatalikrama; Be Easy

Gambar
Assalamu'alaykum, Gunatalikrama Mungkin pernah beberapa kali kita temukan pemaksaan kehendak dalam penyampaian kebaikan. (?) Niatnya baik, konten yang disampaikan pun baik dan benar, tapi mungkin tanpa sadar terturut hawa nafsu, sehingga terlupa bahwa makan pun tidak baik jika buru2.   Memang sih, kita mah maunya begitu kita sampaikan, orang tersebut langsung ngerti, lantas berubah. Ga pandang backgroundnya dulu, ga mengenal sudut pandangnya dulu,  ga peduli dasar pemikirannya dulu. Pun kita sering lupa, bahwa kita tuh hanya penyampai, bukan penggerak hati, bukan penghadiah hidayah, pun bukan pengubah persepsi.   Berusahalah untuk menyampaikan apapun dengan bahasa yang baik, dengan gaya yang asik, dan ga usah "maksa". Karena "menyampaikan" apapun jika dengan cara "kasar"~"maksa"~"nyinyir", sepertinya ga akan ada manfaatnya acan2. Tegas boleh banget, tapi yuk usahakan ga kasar.   Intinya gini, kata imam syafi'i aja, "be h...

Look At Their Brain

Gambar