Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tarbiyah Dzatiyah

Rumah #1 : Rencana

Gambar
Rencana Allah vs Rencana kita Aku termasuk orang yang mengimani : “Rencana Allah adalah rencana yang terbaik.  Selalu yang terbaik, karena Ia adalah kombinasi dari Maha Tau dan Maha Penyayang. Di satu sisi, Ia ga pernah salah- ga pernah tidur-  dan tau segalanya. Di sisi yang lain, Ia Maha Penyayang; selalu baik dan ga mungkin nakalin, ngisengin, apalagi jahatin hambaNya.”   Makdarit.. Jika rencanaNya precisely match dengan rencana kita, bersyukurlah. Namun jika rencanaNya berbeda dengan rencana kita, yuk lebih, lebih, dan lebih bersyukur lagi. Loh, kenapa? Kok gitu? Karena aku yakin, sebenarnya kita sedang diamankan dari apa2 yang buruk jika rencana kita itu justru malah kejadian- yang kita gatau apa- yang di luar perhitungan kita. Atau karena kita sedang dianugerahi apa2 yang jauh lebih cocok untuk kita – yang akal kita kadang suka ga nyampe – yang sering di akhir2 kita malah ngucap “Alhamdulillah.. blessing in disguise euy.”   ♥ Misalnya maskodok.   ...

Menyapa Samudera; Yang Berharga

Gambar
Assalamu’alaykum, Samudera. Jika kita tinggal di Indonesia, yang terpakai rupiah. Jika di Jepang, Yen. Jika di Amerika, dolar. Jadi, walau kita punya segambreng dolar, untuk bisa jajan cincau di pasar gembrong, tetap harus kita ubah dulu dolar itu menjadi rupiah bukan? Karena beda tempat, akan beda mata uangnya- beda yang terpakainya. Begitu pula dengan hidup. Jika kita hidup dalam "pandangan" Allah, yang terpakai adlh kesukaanNya- keridhoanNya. Jika kita hidup dalam "pandangan" manusia, yang berharga adalah kesenangan- penghormatan- kekaguman- pujian  manusia lain kepada kita. Dan hidup dalam pandangan manusia itu seperti hidup dalam game zombi vs plant. Kita akan merasa saaangat senang ketika banyak uang dan bintang pada saat game berlangsung. Tapi setelah game selesai, yasudah.. selesai semuanya. Dan bergunakah uang dan bintang itu untuk kehidupan nyata? Pun jika kita hidup dalam "pandangan" manusia, sebenarnya bergunakah segala pujian- sanjungan- ap...

Menyapa Samudera; Berlalu

Gambar
Assalamu’alaykum, Samudera. Suatu hari nanti, jika Allah izinkan kami untuk memiliki rumah, aku punya rencana untuk memiliki sebuah hiasan dinding yang besar, yang bertuliskan “ini akan berlalu”. Weird? Mungkin. Tapi dibanding memajang foto pernikahan *yangkatanyacantik*, atau foto keluarga *yangkatanyaromantis*, atau gambar bernyawa lainnya, rasanya poster tiga kata itu akan lebih ada manfaatnya. Iya.. agar kami dan orang2 yang hilir mudik di rumah kami terus diingatkan, bahwa semua yang di dunia ini hanya sementara, dan akan berlalu. Jika sedang merasa berat dengan cicilan rumah, lihat saja, “oh iya, tenang saja… keadaan "mencekik" ini akan berlalu". Pun jika sedang merasa bahagia dengan sebuah nikmat, lihat lagi, “jangan melampui batas, biasa saja senengnya, ini akan berlalu.” Pun jika sedang gila karena merasa diri kita ganteng atau cantik, lihat lagi *yangbanyakdansering*, “heh.. ga usah njijiki gitu. Cantik gantengmu akan berlalu....

Menyapa Anjani; Katarak

Gambar
Assalamu’alaykum, Anjani. Jika melihat orang yang terkena katarak, terbersit rasa iba dalam hati. Fungsi penglihatan mereka menurun. Padahal.. mampu melihat secara jelas adalah nikmat yang tak hingga; melihat suami, melihat anakcucu, melihat ikan menari-nari, melihat bunga warna-warni, dan melihat segala ciptaanNya. Sedangkan... Orang yang terkena katarak, memiliki lensa mata yang keruh. Akibatnya, penglihatannya kurang terang, kabur, tidak jelas. Sehingga mereka jadi sering salah melihat, bahkan ada yang tidak mampu melihat sama sekali. Hm.. aku jadi teringat akan hati. Sepertinya hati memiliki kemiripan dengan lensa mata. Jika hati kita keruh atau kotor, kemampuan melihatnya pun akan menurun. Hati melihat? Hey, pernah kan kamu mendengar istilah mata hati? Iya.. Jika hati kita bersih, kita akan sadar dengan keadaan. Jika hati kita bersih, kita akan peka dengan kebaikan. Namun jika hati kita keruh, kita akan sulit untuk melihat dan membedakan mana kebenaran, mana kesalahan. Jik...

Menyapa Anjani; Gelas

Gambar
Assalamu'alaykum, Anjani    Pernahkah kamu merasa bahwa gelas2 ini ada miripnya dengan kita- manusia? Tilikan ini bermula saat aku makan siang di sebuah rumah makan sederhana, yang memiliki bentuk dan ukuran gelas sama untuk semua jenis minumannya.   Saat diisi air putih, gelas itu harganya 1000. Saat diisi teh hangat, harganya menjadi 2000. Jika kita pesan susu kedelai, kita harus bayar 5000. Beda lagi jika diisi beras kencur, kunyit asem, atau es kelapa. Dan saat diisi jus mamamia, wah.. harganya mencapai 15.000.   Kudapati yang membedakan harga gelas satu dengan gelas yang lain adalah isinya. Sedang wadahnya, akan dikembalikan. Pun kita- manusia, pengamalan syahadah dan konsekuensinya adalah pembeda derajat satu dengan lainnya, sedangkan raga akan dikembalikan ke muasalnya, yaitu tanah.

Ga Nyangka Bisa Curhat Sepolos Ini

Gambar
Aku baru aja liat2 foto metamorfosisku; dari SD hingga sekarang. Ada yang tidak berubah; aku tetap tidak punya alis. Hihi. Tapi ternyata, lebih banyak yang berubah; pipiku yang semakin cempluk dan gayaku berpakaian.   Zaman SD SMP, aku tomboy pisan. Sukanya pakai kaos gombrong polos atau motif garis2. Pakai celana jeans atau kargo. Gasuka pakai sepatu apapun, pokoknya in love banget sama sandal jepit. Jilbab? Pake! Tapi bagian depan jilbabnya, aku iket ke belakang. Kalo foto, seringnya gaya jempol telunjuk kelingking, alias gaya metal. Kalo gaya jumpalitan ada, mungkin dijabanin juga. #kelewatlincah   Zaman SMA, masih tomboy sih. Tapi sudah keliatan agak manis gegara sudah pensiun pakai celana, udah jadi rok-er sejati ceritanya. Jilbab juga udah ga diiket2 lagi, udah mengulur hingga perut. Udah mulai akrab sama sepatu, tapi yang model sneakers; low or high sneakers. Ga usah tanya punya flat shoes atau sepatu cewek lainnya. Jawabannya pastilah enggak punya. Atasannya? Tetep k...

Batu

Gambar

Hadiah Hidayah

Gambar
Karena bukan siapa-siapa dan bukan apa2, lagi-lagi aku memaknai hidayah dengan sangat sederhana. Hidayah itu hadiah :) Yang merupakan hak mutlak Allah, yang akan Ia berikan pada manusia yang Ia kehendaki.   Seperti halnya hadiah. Jika kita diberi, alhamdulillah, bersyukur tiada henti kepada Allah. Tapi jika tidak diberi, kita mah punya kuasa apa untuk mencuri hidayah? Orang kelilipan debu aja kita langsung panik ngucek2 mata, ketempel knalpot aja harap2 cemas bakal jadi keloid atau ga. Kita mah apa, lemah fyuh~ tanpa kehendak dariNya.   Terus gimana? Santai2 aja, doing nothing aja bisa dong? Kita belum berada di surga, gaes. Yang tinggal mbatin aja, lalu sulur anggur sudah menghampiri kita. Kita tetap harus berusaha memantaskan diri agar diberi hidayah, mempersiapkan diri untuk menerima hidayah. Berusaha :) Petualangan menjemput hidayah itu bagai petualangan mencari harta karun saat pramuka dulu. Butuh ilmu sebagai peta, tuntunan hingga mencapai lokasi harta karun. Peta s...

Berbagi

Gambar

Taat

Gambar

Jaga Hati

Gambar

Dear, Muslimah...

Gambar

Jarak dan Suara

Ketika masih SD dan SMP, saya sering didaulat menjadi pemimpin upacara oleh para guru dan teman. Mungkin selain karena saya mampu meproduksi suara dalam skala besar (baca: lantang), saya juga adalah sosok yang pantas dipajang di tengah lapangan. #skip Allah Mahabaik telah memampukan kita mengatur besar kecilnya, lembut kasarnya, rendah tingginya suara. Sehingga abang bakso yang lagi ngetem di ujung jalan, setelah kita teriakin “abang baksooooo… beli, baaaaangggg…”, dapat mendengar, lantas menghampiri kita. Suara yang keras atau nada yang meninggi memang sering keluar ketika kita sedang dalam kondisi berjauhan. Benar? Jarak yang jauh, maka harus berteriak. Harus berteriak, karena jaraknya jauh. Hubungan kedua hal tersebut rupanya adalah hubungan karena  dan oleh karena itu; hubungan sebab dan akibat. Tapi ada kalanya seorang ibu berteriak marah kepada anaknya, seorang bos meninggikan nada suara kepada stafnya, padahal mereka sedang tidak dalam posisi berjau...

Kisah Coass #9 : "Coass Tua"

Stase terakhir ini akan habis dalam waktu dua minggu. Hampir sampai. Syukurlah. Hati ini ceria, terbayang hari di depan yang sepertinya akan lebih berwarna. Namun, rasanya kok langkah kaki kian memberat, ya? Sikap pun jadi angot-angotan. Hm… Orang2 bilang ini sindrom coass tua. Maunya duduk saja, malas bergerak. Sudah peot, bahkan ngoyot. Padahal jika kehidupan coass diibaratkan dengan lari marathon, saya harusnya mempercepat lari ketika hampir mencapai garis finish. Lari sekencang-kencangnya dengan tenaga terakhir, hingga titik nadir, hingga puas menyudahi. Hidup sebagai coass adalah sebuah perjalanan. Dan bicara tentang jalan, saya mengenal beberapa tipe jalan Yaaa… walau memang tidak sepandai orang teknik sipil sih, tapi cukuplah untuk bekal memahami hidup. #apasih?   Saya cerita dikit, ya. Kemarin atau kemarinnya lagi, tepatnya waktu sore yang pesona jingganya terhalang oleh awan hitam, saat itu saya merasa lapar. Karena gas kompor di kontrakan sedang habis, saya ...

Janji

Besok pagi suami saya bakal datang. Hepi deh. Hepinya tuh kaya si Bilbo Baggins pas berhasil nemuin Arkenstone. Serasa cukup baginya Arkenstone saja, tidak usah lagi seperempatbelas bagian harta bawah gunung yang dijanjikan Thorin kepadanya.   As usual, setiap suami mau datang, ada persiapan2 khusus yang saya lakukan. Dari berbagai persiapan itu, bagian yang paling saya perhatikan adalah : berusaha sebaik2nya agar tepat janji dan tepat waktu ketika menjemput beliau.   Hal kecil ya? Mungkin bagi kalian. Tapi saya pernah kena omelan yang panjang karena saya telat 15 menit dari waktu yang saya janjikan. Dan akhirnya, saya harus menanggung derita. Di atas motor, sepanjang perjalanan dari stasiun balapan ke kontrakan, saya dihukum. Saya hanya diperbolehkan mendengarkan omelannya (baca: ceramah), tanpa boleh menyentuh beliau (baca: pegangan beliau). Itu hukuman yang berat loh bagi saya. Iyalah, kaya apaan aja suami istri boncengan, tapi istrinya ga boleh pegangan sama suaminya, ma...

Kisah Coass #8 "Teman"

Teman yang baik adalah yang membantu mencarikan tissue ketika kaki temannya ketumpahan es jeruk, tidak usahlah ia sampai berjongkok-jongkok mengelap kaki temannya itu. Maka ketika teman kita mendapat penguji yang sulit, teman yang baik adalah teman yang mau membantu kesiapan ujian, seperti belajar bersama atau diskusi, tidak usahlah sampai rela atau menawarkan bertukar penguji. Jika mau menjadi teman yang baik, jika mau membantu teman, bantulah yang membuatnya kuat, bukan justru yang membiarkannya tetap, bahkan semakin lemah. Kasihan teman kita itu, tidak akan punya daya juang, tidak akan punya daya tahan. Alih-alih membantu teman, eh justru nyusrukkin teman. Prinsipnya bukan melulu "yang waras ngalah" karena ini memang bukan sedang di RSJ.

The First

The first to apologize is the bravest. The first to forgive is the strongest. The first to move forward is the happiest. Yeah!!

Tidaklah dunia akan menjadi obsesi seseorang, kecuali dunia menjadi sangat melekat di hatinya dalam 4 keadaan; kefakiran yang tak kenal kekayaan, keinginan yang tak putus2, kesibukan yang tak pernah habis, dan angan2 yang tak ada ujungnya.

~Umar bin Khattab Allaahu, lindungi kami, tunjukkan kami. Sungguh, kami tidak ingin terperangkap di dalamnya.

Having is not collecting, having is giving.

Gambar
“Wuih, Pak Boss datang. Mana mobilmu, Her? Katanya sudah sukses.” “Her, di sana itu lho, dijual sawah sekulin (sebuah satuan ukuran sawah yang saya pun tidak tau tepatnya berapa meter persegi), harganya 300juta. Belilah. Si X baru saja beli sawah sekulin di utara jalan itu. Sukses beneran dia.” “Kebonmu itu mbok dibangun rumah, Her.” Semuanya diucapkan dalam bahasa daerah Banyumas, lengkap dengan logat kebangsaan mereka sebagai bangsa ngapakers. Sekiranya, itulah sebagian penggalan yang bisa saya tangkap dari sambutan hangat para tetangga suami saya di tanah kelahirannya, Banyumas. Saya hanya bisa melempar senyum, semoga bukan jatuhnya senyum kecut. Betapa saya ingin membabibu mereka tentang abc-nya hidup, tapi sudahlah... Toh suami saya tidak tampak butuh pembelaan. Justru terlihat begitu menikmati momen2 seperti ini. Timpalnya ringan, “Buat apa dibangun, Lik. Saya kan kerjanya di Jakarta. Biar dipake Lik Siyam aja buat mbangun rumah kambing di situ.” “Mobilnya si A lho, Her, ...

Eid: Forget and Forgiven

Gambar
Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Let our relationships flourish after being born anew this Eid. Move on to forgive and embrace everyone on Eid day against whom we have harbored rancor in the past.