Postingan

Menampilkan postingan dengan label Umar bin Khattab

Tidaklah dunia akan menjadi obsesi seseorang, kecuali dunia menjadi sangat melekat di hatinya dalam 4 keadaan; kefakiran yang tak kenal kekayaan, keinginan yang tak putus2, kesibukan yang tak pernah habis, dan angan2 yang tak ada ujungnya.

~Umar bin Khattab Allaahu, lindungi kami, tunjukkan kami. Sungguh, kami tidak ingin terperangkap di dalamnya.

Sahabat; Antara Kesturi dengan Uburpan

Gambar
Ribuan tahun yang lalu, Musa memohon kepada Rabbnya untuk menjadikan Harun sebagai sahabat setianya. Yang akan menjadi peneguh, menjadi penguat, untuk senantiasa bertasbih dan mengingat Allah, bersama. Ia, Musa, adalah seorang Ulul Azmi, yang tidak diragukan keteguhan dan kesabarannya. Ia, Musa, adalah seorang Ulul Azmi, tapi seolah-olah ia tidak merasa mampu istiqomah dengan sendirian. Maka ia pinta sebuah rahmat bernama : Sahabat. Menjadi lebih kuat memang, lebih teguh. Tapi apakah kita Musa? Atau kita justru adalah seorang Uqbah? Sungguh sahabat bisa menuntun ke jalan selamat, tapi bukan hal dusta jika dikatakan yang paling sering menghancurkan seseorang adalah sahabatnya. Jadi apakah kita Musa, yang bersahabatkan seorang Harun? Atau apakah Uqbah, yang bersahabatkan Abu Jahal?

Umar tentang Mendidik Anak

Gambar
"Didiklah anak-anakmu itu berlainan dengan keadaan kamu sekarang karena mereka telah dijadikan Tuhan untuk zaman yang bukan zaman engkau ." -Umar bin Khattab- “Tegas tanpa menampakkan kekerasan dan lembut tanpa menunjukkan kelemahan” . -Umar bin Khattab-

Sikap Umar Saat Negaranya Krisis

Gambar
Di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, pernah terjadi krisis luar biasa sekitar tahun 18 Hijriyah. Ibnu Sa’ad, seorang sejarawan Muslim, melukiskan, “Saat itu, terjadi bencana yang hebat, kekeringan terjadi di mana-mana, binatang mati bergelimpangan, orang-orang mati kelaparan, sampai ada yang menggali lubang tikus untuk mencari makanan penyambung hidup.” Pertanian di waktu itu gagal total karena hujan tak kunjung turun dan tanah-tanah yang mengering menimbulkan debu setiap hari. Para pedagang Hijaz (Makkah dan Madinah) tidak berani melakukan perjalanan dagang ke negeri Syam yang terkena penyakit menular. Stok barang di Hijaz pun semakin langka dan harga kebutuhan melambung tinggi. Dalam kondisi semacam ini, Umar bin Khattab tidak pernah mau makan di rumah salah satu putranya, bahkan bersama istri tercinta sekalipun. Kepedulian terhadap penderitaan rakyat, bukan hanya milik Umar. Semua anggota keluarga, harus menunjukkan hal yang sama. Ketika anaknya yang masih k...

Sikap Umar kepada Pembantu

Gambar
Ketika Umar tiba di kota Makkah untuk melakukan ibadah haji maka Sofwan Ibnu Umaiyah menyuguhkan hidangan khusus dalam sebuah baki besar yang diangkat empat orang pelayan yang kuat. Setelah mereka meletakkan baki hidangan itu, maka para pelayan menjauhkan diri mereka, sehingga Umar berkata dengan nada keheranan, “Mengapa kalian tidak menyuruh para pelayan kalian makan bersama dengan kalian. Apakah kalian tidak senang dengan mereka?” ”Tidak demikian, wahai Amirul Mukminin. Akan tetapi, kami lebih mengutamakan diri kami dari mereka,” jawab Sofwan Ibnu Abdillah. Mendengar ucapan Sofwan, maka Umar marah dan ia berkata, ”Tidaklah suatu kaum yang lebih mementingkan diri mereka atas para pelayannya, melainkan Allah akan menghina mereka.” Kemudian Umar berkata kepada para pelayan, ”Duduklah kalian di sini dan marilah kita makan bersama.” Maka para pelayan itu duduk dan makan bersama dengan Khalifah Umar Ibnul Khattab RA. -Manaqib Amirul Mukminin, Ibnul Jauzi hal. 110 Sungguh hal ini sangat ban...

Cemburunya Umar

Gambar
Dengan penuh tawadhu, Nabi SAW duduk, sedang kedua bibirnya sibuk berdzikir dan hatinya merasa tenang oleh pembicaraan para sahabat yang ada di sekitarnya. Nabi SAW bersabda, “Tadi malam aku mimpi melihat seorang wanita yang sedang wudhu di dekat sebuah gedung dekat sebuah gedung di dalam surga. Maka aku tanya, “untuk siapakah wanita ini?” Ia menjawab, “wanita ini diperuntukkan bagi Umar.” “Ketika aku mendengar ucapan tersebut, aku ingat rasa cemburu Umar, sehingga aku segera meninggalkannya.” Mendengar ucapan Nabi SAW seperti itu, maka Umar menangis dan berkata, “Ya Rasulullah, apakah kepada seorang sepertimu aku harus cemburu?” - Bukhari dalam shahihnya no. 3477 Terbukti kalau sifat pencemburu itu wajar. Umar saja cemburu, Aisyah saja cemburu. Itu bukti rasa cinta kita pada suatu yang kita cintai. Tapi hal ini bukan suatu excuse untuk menjadi posesif loh, ya. Bedakan! Kali ini saya akan melihat dari sudut pandang mulianya Rasulullah. Rasulullah begitu ma’rifat kepada sahabatnya, sala...

Sikap Umar terhadap Kesenangan Rasulullah

Gambar
Pada waktu perang Badar, Al Abbas menertawakan lelaki Anshar yang menyebabkan lelaki Anshar itu ingin sekali membunuhnya. Maka Nabi SAW berkata, “Sesungguhnya aku tidak tidur pada malam ini, demi untuk menjaga Abbas, pamanku, karena aku dengar bahwa kaum Anshar akan membunuhnya.” “Apakah aku harus mendatangi mereka?” kata Umar. “Baik, datangilah mereka,” kata Nabi SAW. Maka Umar mendatangi kaum Anshar dan berkata, “bebaskan Abbas.” ”Tidak, demi Allah, kami tidak akan membebaskannya, ”kata mereka. ”Bagaimanakah kalau hal itu dapat menyenangkan hati Rasulullah SAW?” tanya Umar. ”Kalau memang hal itu dapat menyenangkan hati Rasulullah, maka bawalah ia,” kata mereka. Maka Umar membebaskan Abbas dan tangan kaum Anshar, kemudian ia berkata, ”Wahai Abbas, masuklah engkau ke dalam Islam, sesungguhnya jika engkau masuk Islam, maka hal itu lebih aku senangi dari keislaman Al Khattab, ayahku, yang itu tidak lain hanya karena Rasulullah ingin melihat keislamanmu.” -Ibnu Katsir, Al Bidayah Wan Niha...

Bidadari Untuk Umar

Umar r.a. adalah salah satu dari sahabat Rasulullah SAW. Semenjak ia memeluk islam kaum muslimin seakan memperoleh suatu kekuatan yang sangat besar. Sejak itulah mereka berani sholat dan thowaf dika'bah secara terang-terangan. Umar r.a. adalah seorang yang waro', ia sangat teliti dalam mengamalkan Islam. Umar r.a. mempelajari surah Al-Baqoroh selama 10 tahun, ia kemudian melapor kepada Rasulullah SAW, "wahai Rasulullah SAW apakah kehidupanku telah mencerminkan surah Al-Baqoroh, apabila belum maka aku tidak akan melanjutkan ke surah berikutnya". Rasulullah SAW menjawab, "sudah..."!. Umar r.a. mengamalkan agama sesuai dengan kehendak Allah SWT. Karena kesungguhannya inilah maka banyak ayat di Al-Qur'an yang diturunkan Allah SWT berdasarkan kehendak yang ada pada hatinya, seperti mengenai pengharaman arak, ayat mengenai hijab, dan beberapa ayat Al-Qur'an lainnya. Rasulullah SAW seringkali menceritakan kepada para sahabatnya mengenai perjalannya mi'...