Postingan

Menampilkan postingan dengan label Samudera

Menyapa Samudera : Rem

Gambar
Assalamu'alaykum, Samudera. Pernah merasa ga punya tas, lalu maunya beli2 lagi, padahal sudah punya ransel, beberapa handbag, juga slingbag? Rasanya masih kurang saja, entah dengan alasan kebesaran buat kondangan, atau kekecilan buat kerja, atau sekedar alasan kurang unyu, atau kurang banyak (?). Pernah merasa not enough dgn lipstick yg sudah dipunya, lalu lapar sana-sini beli warna dan merk macam2? Padahal gatau itu lipstick bakal habis kapan, atau bahkan sampai akhir pun ga akan pernah habis. Pernah merasa ga punya baju, padahal baju udah numpuk selemari bahkan sampe tumpe2? Pernah merasa maunya beli2 lagi sepatu, padahal jumlah sepatu udah ngalah2in jumlah hari dalam seminggu? Ga heran kalo kerjaannya tiap hari baper banget ngeliat onlineshop2, lalu laper pingin ntransfer. "Sis, aku keep ini ya, sis." -,-" . Di kala aku merasa sedang tersisip "maruk" sebagai nama tengahku,- di kala bukan hanya logika fungsi yang bicara, tapi logika style yang sedang ja...

Menyapa Samudera : Kuat

Gambar

Menyapa Samudera : Terbahagia

Gambar

Menyapa Samudera; Yang Berharga

Gambar
Assalamu’alaykum, Samudera. Jika kita tinggal di Indonesia, yang terpakai rupiah. Jika di Jepang, Yen. Jika di Amerika, dolar. Jadi, walau kita punya segambreng dolar, untuk bisa jajan cincau di pasar gembrong, tetap harus kita ubah dulu dolar itu menjadi rupiah bukan? Karena beda tempat, akan beda mata uangnya- beda yang terpakainya. Begitu pula dengan hidup. Jika kita hidup dalam "pandangan" Allah, yang terpakai adlh kesukaanNya- keridhoanNya. Jika kita hidup dalam "pandangan" manusia, yang berharga adalah kesenangan- penghormatan- kekaguman- pujian  manusia lain kepada kita. Dan hidup dalam pandangan manusia itu seperti hidup dalam game zombi vs plant. Kita akan merasa saaangat senang ketika banyak uang dan bintang pada saat game berlangsung. Tapi setelah game selesai, yasudah.. selesai semuanya. Dan bergunakah uang dan bintang itu untuk kehidupan nyata? Pun jika kita hidup dalam "pandangan" manusia, sebenarnya bergunakah segala pujian- sanjungan- ap...

Menyapa Samudera; Berlalu

Gambar
Assalamu’alaykum, Samudera. Suatu hari nanti, jika Allah izinkan kami untuk memiliki rumah, aku punya rencana untuk memiliki sebuah hiasan dinding yang besar, yang bertuliskan “ini akan berlalu”. Weird? Mungkin. Tapi dibanding memajang foto pernikahan *yangkatanyacantik*, atau foto keluarga *yangkatanyaromantis*, atau gambar bernyawa lainnya, rasanya poster tiga kata itu akan lebih ada manfaatnya. Iya.. agar kami dan orang2 yang hilir mudik di rumah kami terus diingatkan, bahwa semua yang di dunia ini hanya sementara, dan akan berlalu. Jika sedang merasa berat dengan cicilan rumah, lihat saja, “oh iya, tenang saja… keadaan "mencekik" ini akan berlalu". Pun jika sedang merasa bahagia dengan sebuah nikmat, lihat lagi, “jangan melampui batas, biasa saja senengnya, ini akan berlalu.” Pun jika sedang gila karena merasa diri kita ganteng atau cantik, lihat lagi *yangbanyakdansering*, “heh.. ga usah njijiki gitu. Cantik gantengmu akan berlalu....

Menyapa Samudera; Ikatan

Gambar
Assalamu'alaykum, Samudera      Tentu kamu pernah mendengar, "hanya maut yang mampu memisahkan kita." Janji setia seperti itu saja sudah mampu membuat hati seseorang menari mengangkasa. Manis, juga menentramkan. Bahkan lebih manis dari gulali, lebih menentrakan dari lullaby.     Tapi sungguh ada hidup paskamaut; saat ikatan persahabatan-kekeluargaan-pernikahan akan bisa terurai. Istri terpisah dari suami, anak lupa pada ibu, pun karib bisa menjadi musuh. Pahit, juga memilukan. Bagi para pecinta, adakah yang lebih pahit dari perpisahan? Adakah yang lebih memilukan dari terlupakan?     Aha! Zukhruf bagian tengah hampir akhir bisa menyambung harapan. Bukalah... Demi sebuah kisah yang tak terputus maut. Demi berkekalan, bercihuyria di dunia, kembali di surga. In syaa Allah.

Menyapa Samudera; Mengenal Diri

Gambar
Assalamu'alaykum, Samudera Sebagai anak udik, adalah keharusan bagiku memperluas pergaulan agar tidak menjadi semakin udik. Jika tidak mampu bebas sepenuhnya dari udik, setidaknya aku bisa menjadi anak udik yang memiliki banyak teman. Itu motif pertamaku dulu, saat aku mendaftarkan diri untuk masuk ke sebuah organisasi saat aku masih siswa. Dan yang namanya motif pertama, tentu akan ada yang kedua, ketiga, dan seterusnya.     Aku mengikuti alur kaderisasinya dengan polos (dan udik tentunya). Salah satu momen berharga untukku adalah ketika ditanya, "Apa kelebihan dan kekuranganmu? Bagaimana karaktermu? Jelaskan dengan jujur." dan aku terdiam 1 detik, 10 detik. Aku digertak. 1 menit, 10 menit. Aku dimaki. "Bagaimana kamu ini? Teman2mu yang lain bisa menjawabnya dengan mudah. Ini bukan pertanyaan sulit!" tapi entah mengapa aku merasainya sulit. Sejak itu aku menganggap, pelajaran yang sulit bukanlah matematika atau fisika, melainkan mengenal diri sendiri dengan j...