Kangen Dimarahin



“Yasudah, jangan banyak bacot dulu deh. Yang penting sekarang usaha aja dulu yang bener." Ngekngok. Kalimat yang tidak berperasaan. Tega dan menghujam. Pas denger responnya, saya langsung diam. Yang tadinya lagi ngomong (ngeluh, red) panjang lebar jadi diam membatu. "Yasudah, jangan banyak bacot dulu deh. Yang penting sekarang usaha aja dulu yang bener." Masih terngiang-ngiang. Pedas pisan euy. "Jangan sok lemah deh…" Hiks, ini lebih tidak berperasaan. Kebangetan.


Yup, tapi setelah itu, alhamdulillah rasanya agak membaik. Emang bener, mengeluh tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik. Memangnya dengan mengeluh, dunia menjadi mengasihani kita? Bagaimanapun juga, the earth keeps on rotating and time keeps on running. Dunia ga akan menunggu orang yang larut dalam kekalutan. Sering hadir rasa-rasa seperti itu, walaupun sometimes because of no reason. Rasa yang justru bisa merekatkan sayap kita yang seharusnya bisa meregang lebar untuk tinggi mengudara. Jadi semacam inhibitor

Memang, dalam hidup sulit banget merasa tenang. Mati saja belum tentu menghadirkan ketenangan, bukan? Tiada hari tanpa merasa khawatir kayanya (ini sih berlebihan, hehe) Moga ketakutan kekalutan ini hanya menjadi hantu-hantu menyeramkan buat saya, yang lantas membuat saya berlari berusaha mencari Tempat
Berlindung Yang Paling Baik.

Dan alhamdulillah, sekitar saya senantiasa mengingatkan, secara langsung maupun tidak, untuk tidak larut dalam kalut. Dasar manusia, selalu membutuhkan orang lain. Sering kali bisa nasehatin orang lain, tapi ternyata sulit mengarifi diri sendiri. Butuh dimarahi dulu.

--------------------------------------------------------------------------------------------------
Well, selalu ada kisah yang melatarbelakangi setiap tulisan saya. Termasuk tulisan ini. Sebenarnya saya sedang kangen dengan seseorang. Karena telah lama saya tidak merasakan sikap2 lugasnya, telah lama saya tidak merasakan keoptimisan dirinya atas kapasitas kemampuan akan dirinya sendiri, telah lama saya tidak merasakan sifatnya yang tidak hanya mau maju sendiri, senantiasa mencerminkan kalimat, “yuk, bareng2.”

Ada yang berbeda dengan diri orang ini, yang membuat saya tidak muak dengan sikapnya. Tepat, cocok dengan kebutuhan saya. Tidak semuanya bisa seperti ini, lho. Mungkin karena kelugasannya. Semua jadi terasa logis dan tidak berlebihan.

Komentar

  1. sometimes because of no reason,
    kitanya yang belum bisa mengambil hikmahnya kali y...

    kangen ma seseorang ???
    eHm, biasanya yg logis dan tidak berlebihan itu laki-laki..
    heEe.. :)
    ayahmu kah itu, Mulki ???
    ohohohohoOo..

    BalasHapus
  2. @nisa: iya, nis.. smuanya mesti ada sebab-akibatnya :) hehe, bukan abiku, nis. sahabatku dulu. hehe.

    BalasHapus
  3. jangan banyak bacot deh... banyakin nulis aja... haha...

    BalasHapus
  4. wahahaha... arief ngajak ribbott...

    BalasHapus
  5. mencoba menautkan alamy blog disni...

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR