Selasa, Maret 06, 2012

PEMIMPIN, like a Doctor.

Suami dan selir2nya.

Sudah lama tidak membahas tentang hal satu ini. Tidak ada trigger. Tapi berhubung sering mendengar cerita suami, saya jadi tertarik untuk mensintesa sesuatu. Ide itu untuk dituangkan, bukan untuk dilupakan. Yang harus dilupakan itu rasa cemburu, bikin capek soalnya. #hlah? abaikan. ga banget cemburu ama ikan :p

Like a doctor. Kurang lebih begitulah pemimpin. Karena ia memiliki "mikroskop" yang dengannya ia bisa melihat berbagai permasalahan dengan lebih jelas, sudah seharusnya seorang pemimpin bisa memvonis sakit atau sehatnya orang2 yang dipimpinnya, juga sakit atau sehatnya sistem kerja yang sedang dijalankan.

Diagnosis yang tepat adalah tanggung jawab seorang dokter. Seorang  dokter sudah seharusnya bisa membedakan mana penyakit dan mana gejala. Sakit perut bukanlah penyakit, tapi gejala dari suatu penyakit. Maka yang dilakukan seorang dokter bukan sekedar mengobati sakit perut, tapi menghilangkan penyakit yang menyebabkan sakit perut. Pun seorang pemimpin. Jika orang2 yang dipimpinnya diserang malas dan pesimis, sungguh hal itu bukanlah penyakit. Hal itu hanyalah gejala yang muncul dari suatu permasalahan.

Selesaikan permasalahannya karena itu tanggung jawab seorang pemimpin, seperti seorang dokter yang sudah seharusnya tepat dalam memberikan obat. Tidak justru hanya membuatnya kecanduan obat karena kambuh2an. Makdarit, dokter yang bijak tidak akan sembarangan memberikan obat. Ia akan benar2 berusaha mengetahui penyakit apa yang diderita pasiennya. Jika ia benar2 sudah tau, ia tidak boleh ragu bertindak. Kalau memang memerlukan amputasi suatu bagian tubuh pasien, ia harus tega melakukannya. Pun, pemimpin.

Like a doctor. Kurang lebih begitulah pemimpin. Kucuran materi bukanlah visi utama, melainkan menyembuhkan penyakit. Sangat tidak terhormat mengorbankan idealisme untuk rupiah. Dengan sengaja memberikan obat, bukan untuk menyembuhkan penyakit, tapi justru untuk memelihara penyakit. Agar pasien itu kembali dan kembali. Sungguh, dengan cara apa pun kita menjemput rezeki, jumlah rezeki kita tidaklah berubah. Lantas, tegakah kita "mengerjai" pasien?

Pun pemimpin. Tidaklah senonoh pemimpin yang justru memelihara permasalahan yang terjadi di sistem kerjanya. Entah karena ketidakberaniannya mengambil keputusan, atau demi kepentingan golongan, atau demi kepentingan rekeningnya. Jika memelihara permasalahan bukanlah tindak pidana yang ada pengadilannya di dunia, sungguh ada pengadilan di hari kesudahan. Ketika mulut terkatup, namun indera lain menjadi saksi. Lantas, beranikah kita memelihara permasalahan?

Pemimpin itu seperti dokter; bertanggung jawab, berani, dan ikhlas.

dedicated to my super husband :) dan pemimpin2 lainnya.

Kamis, Februari 23, 2012

Aisy #4 "Usus Gundul vs Sayur Buah"

Makan. Sumber gambar dari koleksi suami juga.
Seperti biasa, siang itu pun mereka berkumpul di ruang keluarga, makan siang bersama. #ga punya ruang makan. Panda pulang dari kantor, Bunda pulang dari klinik, khusus untuk menemani Aisy dan Haqi makan dan cengkrama siang. Kebiasaan makan bersama, sekalipun itu adalah makan siang, memang sudah menjadi komitmen awal Panda dan Bunda untuk keluarga kecilnya itu. Tentu someday ada yang skip, mungkin Panda, Aisy, Haqi, atau Bunda. Tidak mengapa, asal kirim kabar sebelumnya.


Aisy (7thn) : Bun, inget Farah, kan? Teman sebangku Aisy.

Haqi (5 thn) : Ooh.. yang ngefans sama Haqi ya, mbak? Tiap ketemu, nyubit pipi Haqi mulu -,- 

Aisy : Ih, Haqi kaya Panda deh. Suka GR-an. Bun… Inget ga, Bun?

Panda : #mesem. nyerok sayur.

Bunda : Iya. Kenapa, Mbak?

Aisy : Farah cerita sekarang males makan. Padahal dulu2 makannya doyan kok, Bun. Katanya rasanya kembung.

Haqi : Masuk angin kali, Mbak. Orang pintar minum Taulak Angeun.

Aisy : Yee.. emang Panda suka masuk angin.

Panda : #mesem. nyerok sayur.

Haqi : Maag?

Aisy : Mbak Aisy ga tauu.. makanya mbak Aisy tanya Bunda. Buuun.. Farah kenapa?

Bunda : Emang sih, mbak, kembung suka bikin males makan. Tapi bukan kembung aja penyebab anak2 seumuran Mbak Aisy males makan.

Aisy : Emangnya?

Bunda : Bisa gara2 sariawan, radang tenggorokan, gangguan saluran pencernaan, TBC, dll.

Haqi : TBC, Bun? Takhayyul, Bid’ah, dan C(k)urafat, ya?

Aisy : Yee.. itu mah virus2 aqidah. Ya kan, Panda?

Panda : Exactly right. #nyerok sayur

Aisy : TBC yang Bunda maksud Tuberculosis. Paru2nya kena kuman Mycobacterium TBC. Ya kan, Bun?

Bunda : Exactly right.

Haqi : #nyengir

Aisy : Trus gimana, Bun?

Bunda : Keluhannya Farah kembung, ya… Kembung itu gara2 gas yang berlebih di beberapa bagian saluran pencernaan. Saluran pencernaan ada apa aja, hayo?

Aisy + Haqi : mulut, esophagus, gastric, duodenum, jejunum, ileum, colon, anus!!

Bunda : #senyum. Naah… Farah suka makan buah atau sayur ga?

Aisy : Ga.. sukanya makan sosis dan nugget terus. Ga suka makan sayur dan buah.

Bunda : Bisa jadi Farah kembung karena ususnya gundul. Tapi belum tentu juga. Sebaiknya Farah diperiksakan aja ke dokter biar jelas :)

Aisy + Haqi : Haaa? Ususnya gunduuuuuul?

Bunda : Iya, jangan salah… Ga hanya kepala dan hutan aja yang bisa gundul. Tapi usus juga. Gini, permukaan dalam usus kalo kita lihat lewat mikroskop itu seperti rumput. Namanya jonjot usus (villi). Makin tinggi rumput, makin bagus. Ujung rumput ini mengeluarkan enzim untuk menghancurkan dan mencerna makanan.

Aisy : Terus, Bun? Oh iya… Farah juga jadi jarang nge2’nya.

Bunda : Nah, kalo jonjot ini gundul, berarti kan sedikit enzimnya. Kalo sedikit enzimnya, makanan tidak akan tercerna dengan baik; masih padat. Trus makanan itu jadi tempat yang bagus buat berkembangnya bakteri. Jadinya produksi gas naik dan suka susah buang air besar.

Haqi : Kok bisa jadi gundul, Bun? Usus Haqi gundul ga, Bun?

Bunda : Kalo Haqi males makan sayur dan buah, usus Haqi juga bisa jadi gundul.

Haqi : Berarti ususnya Panda gondrong banget ya, Bun. Suka banget makan sayur ama buah soalnya. Udah rambutnya gondrong, ususnya juga gondrong. Hehe…

Panda + Bunda + Aisy : #ketawa

Aisy : Kok males makan buah dan sayur jadi bisa gundul ususnya, Bun?

Bunda : Seumuran kalian kan lagi masa2nya pertumbuhan dan perkembangan… nah, kalo kalian males makan sayur dan buah, salah satu akibatnya adalah tidak terangsangnya usus sehingga pertumbuhannya tidak optimal.

Aisy : Terus, Bun?

Bunda : Infeksi yang ga terobati dengan tuntas juga bisa membuat rumput usus mudah rusak. Alergi juga bisa.

Aisy : Terus Farah harus gimana, Bun? Biar doyan lagi makannya…

Bunda : Ya… harus dilihat dari permukaan dulu. Farah kenapa ga mau makannya… Apa karena emang bosan sama makanannya… Apa karena bosan dengan suasana makannya… Itu dulu yang dibenahi.

Aisy : Terus kalo masih ga mau makan?

Haqi : Iiih… Mbak Aisy kepo banget sih. Terus2 mulu. Kepo deeeh.

Aisy : #melotot

Bunda : Coba ke dokter. Biar dilihat apa ada sariawan di mulutnya, radang tenggorokan, maag, atau memang karena ususnya gundul.

Aisy : Kayanya Farah ga ngeluh sariawan dan sakit tenggorokan deh.

Bunda : Hm… Kalo emang gara2 usus gundul, dokter akan memberikan obat berisi enzym untuk menyupport pencernaan, misalnya cotazym dan vitazym. Tapi ngasih obat ini cuma sementara. Tetap Farah harus makan makanan berserat untuk merangsang pertumbuhan rumput ususnya.

Aisy : Oh gitu…

Haqi : Bundaaaaa… Haqi boleh tambah sayur?

Bunda : Yaaah.. Sayurnya sudah dihabisin sama Panda.

Aisy : Aisy juga mau. Yang di dapur?

Bunda : Juga. Sudah dihabisin semua. Daritadi Panda diem aja tuh lagi ngabisin sayur.

Aisy Haqi : Pandaaaaaa… >,<

Panda : #mesem. tidak nyerok sayur lagi. habis.

Jumat, Februari 17, 2012

Kartun Islam #4 "Jihad"






Memahami Islam untuk Pemula : Jihad

sumber : One Islamic World - Understanding Islam for Dummies

Kartun Islam #3 "Aurat dan Hijab"





Memahami Islam untuk Pemula : Aurat dan Hijab

sumber : One Islamic World - Understanding Islam for Dummies

Kartun Islam #2 "Rukun Islam dan Rukun Iman"







Memahami Islam untuk Pemula : Rukun Islam dan Rukun Iman.

sumber : One Islamic World - Understanding Islam for Dummies

Kamis, Februari 16, 2012

Kartun Islam #1 "Allah, Rasulullah, dan Islam"






Memahami Islam untuk Pemula : Apakah Islam, Siapakah Allah dan Rasulullah.

sumber : One Islamic World - Understanding Islam for Dummies

Jumat, Februari 10, 2012

Bingkai Kejujuran


Dalam Bingkai. Kerjaannya suami juga.


Hore! Besok adalah ulang tahun pernikahan saya dan suami yang ke 0,417 (haha. Maksudnya 5 bulan pernikahan). Saatnya proyek kado 11 Februari 2012. Hmm... Sebenernya proyek kado 11 januari 2012 belum jadi siih. Eeeh malah udah keburu ketauan ama bliaunya duluan. Huh. Ga seru. Jadi males2an nerusin proyek yg kemarin :P

Balon imajinasi.
Suami : “aaaa... tidak bisa. Dinda harus nyelesein. Kanda jedotin kepala kanda ke tembok deh biar amnesia, biar lupa ama apa yang udah dinda bikin.”Aye : “Hah? Jedotin kepala ke tembok? Ntar lupa lagi kalo udah punya istri. Lupa lagi ama cintanya kanda ke dinda.”Suami : Makanya selesein #terkekeh2. #ngancem Aye : -,-
Tus. Tusuk balon imajinasinya.

Emang apa proyek 11 Februari 2012? Tepat, tulisan. Kalo suami dikasih kado barang mulu, takut bosan . Jadi dikadoin tulisan aja #alibi, padahal medit. Tapi tulisan ini ga hanya untuk suami saya saja, tapi buat kalian juga, Sobba dan Sobbi #huh prolog kepanjangan.

Mulai! Bismillah...

Saya ingin menceritakan tentang tema pernikahan saya dan suami; "Kami Bingkai September dengan Jujur." Uum... Tema ini usul dari suami. Saya mah iya2 saja. Earcatching lagian. Tenaaang... Ada filosofinya kok. Ini salah satunya, silakan klik ini atau ini :)

A. Kami Bingkai September dengan Jujur
Bingkai; sesuatu yang memagari dan membatasi. Kenapa ga pake kata benteng aja? Kan lebih kokoh. Coba : Kami bentengi september dengan jujur. Errr... Emoh, ga romantis blas :P

Jujur... Setelah menikah, saya mencoba menggali lagi benang merah dan hikmah antara jujur dan pernikahan (selain filosofi yang di link tadi). Dan inilah laporannya : #iyebanget

1.       Tidak ingin pernikahan kami hancur.
Ya.. sebenarnya ini penganalogian dari hadits ini :
“Di antara tanda kiamat kecil adalah banyaknya kebohongan.” (HR. Ahmad)
Allah menciptakan semesta ini dengan kebenaran. So, sifat yang harus menjadi landasan tegaknya langit dan bumi adalah kebenaran. Ketika sudah banyak manusia yang berbohong, berarti sudah datang tanda2 hari kehancuran, kiamat. Sama dengan rumah tangga, jika sudah banyak kebohongan di dalamnya, tunggu saja kiamatnya rumah tangga kita. Naudzubillahi mindzalik.

2.       Ingin cinta kami abadi.
Salah satu tujuan menikah adalah meneduhkan farj, sepakat? Tapi sepasang kandin (kanda dinda –suami istri) yang ingin cintanya kekal hingga ke surga, hendaknya menjaga juga lisannya. Jika sama2 masuk surga, bukan hal yang tidak mungkin menjadi sepasang kandin lagi selama di surga. It means kandinan selama2nya; abadi. Yeay.
“Siapa yang menjamin apa yang ada di antara janggut dan kumisnya serta apa yang ada di antara kedua kakinya kepadaku, maka kujamin surga untuknya.” (HR. Bukhari)
Bagaimana bisa kandinan lagi kalo kandanya di surga, tapi istrinya di neraka? Apalagi kalo sama2 di neraka, boro2 deh kandinan. So, sepasang kandin sama2 harus menjaga kehormatan, juga keselamatan lisannya.

3.       Agar setan tidak datang pada kami.
Sungguh kebaikan akan datang bersama saudaranya, demikian dengan keburukan, ia akan datang bersama saudaranya pula. Jujur adalah saudara kebaikan, sedangkan bohong adalah saudara keburukan. Apalagi ada sebuah hadits yang isinya :
“Apabila seorang hamba berbohong, malaikat yang menyertainya akan menjauh sekitar satu mil karena bau busuk perbuatannya.” (HR. Tirmidzi)
Jika malaikat sudah menjauh, maka siapa yang akan mendekat? Bukankah setan? Dan jika setan sudah mendekat, dengan senang hati ia akan semakin menyeretmu dan rumah tanggamu lebih jauh dalam keburukan.

Naah.. mari kita bingkai pernikahan kita dengan kejujuran :)

B. Jujur itu Sendiri
Berkata jujur itu menjadi berat ketika ada sesuatu yang membuatnya berat. #halah. Seperti seorang dokter yang ingin mengobati pasiennya, ia butuh tau apa penyebab penyakit pasiennya itu. Termasuk tentang jujur, kita perlu tau apa sih yang membuatnya berat.

Saya tau bahwa selalu jujur tidaklah mudah. Banyak sekali orang tidak menjaga kejujurannya, (1) karena ia tdak ingin terperangkap kondisi yang sulit. Bagi seorang istri, ia berbohong kepada suaminya mungkin agar ia tidak dimarahi setelah melakukan kesalahan. Atau bagi seorang anak kepada ayahnya. Atau bagi seorang laki2/perempuan kepada kawannya.

Takut pada kondisi sulit itu wajar. Saya sepakat. Saya juga sering takut. Tapi takut bukanlah excuse sehingga bohong menjadi halal. Mungkin dengan bohong, kita jadi tidak dimarahi. Tapi sebenarnya, bohong akan mendatangkan lagi rasa takut : takut ketauan jika berbohong. Timbul lagi kan rasa takut? Benar2 lingkaran setan.
“Kejujuran adalah ketenangan, sementara kebohongan adalah kegelisahan.” (HR. Tirmdzi)
Kalau kita berkaca dari kata Rasulullah sih jujur itu akan mendatangkan ketenangan, walau mungkin kita akan menerima hal yang tidak kita sukai. Misal : dimarahin :D tapi jiwa kita tenang.

Sekali lagi kita akan belajar dari pendahulu2 kita. Kali ini dari Ka’ab bin Malik. Salah seorang sahabat Rasulullah yang tidak berangkat, menyambut seruan Rasulullah untuk berjuang di Perang Tabuk. Perang yang berlangsung di cuaca yang amat panas dan lokasi perang yang amat jauh. Rasa enggan berangkat berperang menyerang beberapa muslim, termasuk Ka’ab bin Malik.

Sekembalinya Rasulullah dan para sahabat dari berperang, orang2 yang tidak berangkat, satu2 menghadap Rasulullah. Mereka meminta maaf dan mengada2kan alasan, yang bukan alasan sebenarnya. Namun, berbeda dengan Ka’ab. Ia jujur, ia mengatakan bahwa ia tidak memiliki alasan untuk tidak berperang, ia hanya merasa enggan.

Ia berhasil mengalahkan rasa takut dihukum dan rasa takut dimarahi oleh orang yang sangat dihormatinya. Ia berhasil. Ia berhasil bersikap sebagai orang beriman. Ia berhasil untuk tidak syirik; lebih takut kepada Allah dan hukumanNya daripada Rasulullah dan hukumannya. Bahwa mungkin Rasulullah bisa saja tidak tau kalau dirinya berbohong, tapi sesungguhnya Tuhannya Rasulullah pasti tau.

Saya jadi ingat sebuah riwayat yang mengatakan bahwa mungkin saja seorang mukmin itu memiliki rasa kerdil atau takut, mungkin saja seorang mukmin memiliki rasa pelit, tapi tidak dikatakan ia seorang mukmin jika ia berbohong.

Solusi. Obat itu awalnya memang pahit, tapi menyehatkan, begitu pula dengan jujur. Seperti yang sudah dipaparkan di atas, bagaimana pun jujur itu menghadirkan ketenangan, walaupun mungkin kita akan menerima sesuatu yang tidak kita sukai. Tapi, habis itu rasa takutnya selesai. Berbeda dengan berbohong. Oke, mungkin akan selamat untuk sementara waktu, tapi sesungguhnya kita dicekam rasa takut yang tidak juga usai. Taukah dirimu? Bohong yang berkepanjangan; takut yang berkepanjangan itu bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Karena ketika bohong, kerja hormon stres dan saraf simpatis meningkat; kerja jantung lebih cepat, tekanan darah naik, kerja saluran cerna menurun, dll. Bohong itu benar2 racun. Sedangkan jujur itu obat. Memang awalnya obat itu pahit atau tidak enak, tapi bukankah obat itu menyembuhkan?

Ada juga orang yang tidak bisa menjaga kejujurannya (2) karena ingin memperoleh keuntungan. Hm... seperti mahasiswa yang mencontek agar nilainya bagus. Seperti seorang suami yang korupsi agar dibanggakan istrinya karena bisa memenuhi nafsu gadget atau gaunnya. Seperti seorang pedagang yang mengurangi timbangannya. Seperti seorang calon istri yang menyatakan ia baik2 saja, tidak mengatakan dirinya memiliki penyakit kepada calon suaminya. Dll. Banyak sekali ketidakjujuran karena ingin mendapatkan keuntungan. Masya Allah.

Salah satu teladan yang bisa kita contoh dalam mengcounter alasan ini adalah Sofyan at-Tsaury. Dikenal sebagai Amirul Mukminin fil Hadits karena beliau seorang ahli hadits. Beliau adalah seseorang yang senantiasa berkata jujur dan benar. Beberapa kali ia mengkritik khalifahnya saat itu (dinasti Abasiyyah), padahal as we know, salah satu hal yang berat adalah berkata benar kepada pemimpin. Namun, beliau bukanlah orang yang ABS (Asal Bapak Senang). Sampai2 sang Khalifah menawarkannya menjadi seorang gubernur untuk meredam kekritisan dan passionnya terhadap kebenaran itu. Sungguh ia bukan budak kekuasaan, ia menolak jabatan itu, dan tetap menjadi seseorang yang senantiasa berkata benar sekalipun kepada pemimpin.

Solusi. Eum, letakkan dunia di tanganmu dan akhirat di hatimu. Keuntungan dunia adalah fana, sedangkan keuntungan akhirat mengekal abadi.

Dan yang terakhir (dalam pembahasan saya), alasan orang tidak berhasil menjaga kejujurannya (3) karena ia merasa iri dengki. Seperti kisahnya saudara2 Nabi Yusuf, yang tidak berkata jujur bahwa merekalah yang sudah mencelakai Nabi Yusuf AS. Rupanya saudara2nya iri terhadap Nabi Yusuf AS yang tampan dan sangat disayangi oleh ayah mereka. Hm... saya jadi ingat sinetron2 di tv. Kok rasanya banyak ya “saudara2 Nabi Yusuf AS” zaman sekarang ini. Ada saja akal jahatnya, mudah sekali berbohong, dan lancar sekali menangis2 palsu.

Solusi. Bacalah shiroh2 pendahulu kita; Rasulullah, Umar, Aisyah, ulama2, dll., insya Allah iri kita kepada orang2 sekitar akan hilang, karena melihat pendahulu2 yang lebih hebat lagi :)

Jujur... iya, saya sepakat sulit sekali untuk selalu jujur. 3 alasan di atas (bisa saja lebih kalau Sobba dan Sobbi mau explorasi lagi, kalau ga pas sama ilmu psikologi, maap2 aja ya) selalu saja menguji tekad kita untuk bersikap dan berkata jujur. Masya Allah...

Mohonlah kekuatan kepada Allah untuk terbingkai kejujuran. Jujurlah kepada Allah, insya Allah akan diberi. Jujurlah kepada Allah jika kita menginginkan kekuatan dariNya untuk senantiasa bersikap jujur. Seperti Umar bin Abdul Aziz yang bertekad untuk selalu berusaha jujur setelah ia tau bahwa tidak jujur itu mengerikan; bukan termasuk orang beriman. Dan Umar bin Abdul Aziz bisa, ia benar2 tidak berkata selain kejujuran semenjak itu :) Subhanallah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Jujurlah jika kita membutuhkan bantuanNya.

Sudah berusaha jujur, tapi kejadian yang dateng dirasa buruk terus? Ga ada damai2nya? Ketika di dunia kita tidak merasakan nikmat dari berbuat jujur, yakinlah ada suatu masa saat perbuatan jujurmu akan dibalas dengan kebahagiaan yang setimpal. Ingat Sumayyah? Ya... Syahidah pertama. Beliau tidak mau berkata selain yang benar, bahwa Allah adalah Tuhannya yang Ahad, bukan Latta dan Uzza. Ia terima siksaan dari Abu Jahl; pedih, perih, sakit. Tapi ia tetap tidak mau berkata bohong. Setelah tetap jujur, tidak ada lagi kesenangan baginya di dunia, ia mati ditombak kemaluannya. Ia syahid. Ia syahid karena tetap berkata yang benar. Sungguh ada masa bagimu Sumayyah, bangkit dengan wajah berseri2.
“Pada hari kiamat engkau menyaksikan orang2 yang berbohong kepada Allah, wajah mereka menjadi hitam...” (Az-Zumar : 60)
Hari ini, Allah masih melindungi kita dari terlihatnya segala aib2 kita; kebohongan2 kita. Namun di hari akhir nanti, sungguh kita tidak bisa menyembunyikannya. Wajah seseorang yang jujur akan berseri2, sedangkan orang yang suka berbohong akan berwajah hitam. Masya Allah... Semoga kita termasuk orang yang berwajah berseri2 di hari ketika ada orang yang berwajah berseri2, tapi juga ada yang menghitam.

:: special dedicated to my beloved Kanda, yang sudah mengajarkan terus tentang kejujuran :)

CMIIW

-----------------------------------------------------------------------------------
Oya FYI... para ulama membolehkan kita berkata tidak sebenarnya ketika; (1) berperang (2) mendamaikan orang yang berseteru (3) membuat senang istri. Namuuun... sekali lagi, minimalisasi berkata tidak jujur (lebih baik menggunakan seni kata2) dan perhatikan NIATnya ketika kita akan berkata tidak jujur.

Senin, Februari 06, 2012

Sabar adalah Cahaya

Terang Gelap. Koleksi foto IR suami.

Oh ow. Saya teringat dengan satu kalimat hebat. Pendek saja. "Sabar adalah cahaya." Iya, itu adalah kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah SAW, seseorang yang” do” diucapkannya maka itu sunnah, seseorang yang ”re” dilakukannya maka itu sunnah, dan seseorang yang “mi” ditetapkannya maka itu sunnah. Doremi. #maksud?

Cahaya! Kenapa Rasulullah bilang sabar itu cahaya? Oh ow. Apakah karena ujian itu adalah kegelapan? Maka sabar dalam mengahadapi ujian adalah cahaya yang menuntun kita keluar dari kegelapan. Hm, rasanya begitu.

Ingin saya katakan kepada mereka.
Hai kawan, sabar adalah cahaya! Bersabarlah, skripsimu yang rumit itu akan segera selesai. Kau hanya perlu menambah sedikit lagi sabar dalam proses penyelesaiannya.”
 
Hai ukhti, sabar adalah cahaya! Bersabarlah, jarak yang terentang antara kau dan suamimu adalah tidak buruk sama sekali. Betapa manisnya rindu yang terhiasi rasa sabar. Dan betapa indahnya pertemuan yang terliputi rasa rindu.”

 “Hai mbaaak, sabar adalah cahaya! Bersabarlah, dan isilah waktumu dengan ikhtiar maksimal. Allah akan mengaruniakanmu momongan yang sangat kau rindukan, kemudian.” 

“Hai ibu, sabar adalah cahaya! Bersabarlah, anakmu kini sudah dijaga oleh sebaik2 Penjaga. Bukankah kau sepakat bahwa anak itu adalah titipan? Ketika Yang Memilikinya menghendakinya kembali, maka kita mesti relakan...”

Bagaimana mungkin sabar bukanlah cahaya? Jika bersabar itu
Apabila anak seorang hamba meninggal, Allah berkata kepada para malaikatNya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hambaKu?” Mereka menjawab, “Ya.” Allah kembali bertanya, “Kalian mencabut nyawa buah hatinya?” Mereka menjawab, “Ya”. Allah bertanya lagi, “Lalu apa yang dikatakan hambaKu?” Mereka menjawab, “Ia memujiMu dan mengucapkan : Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mendengar hal itu, Allah memerintahkan, “Bangunlah untuk hambaKu sebuah rumah di surga dan namakanlah rumah itu Bayt al-Hamd (Rumah Pujian)” [HR. Tirmidzi]
Bagaimana mungkin sabar bukanlah cahaya? Jika dengan bersabar, maka kematian satu anaknya, maka Allah ganti anaknya tersebut dengan tujuh anak yang kesemuanya hafal AlQuran. Itulah yang nyata dialami Ummu Sulaim dan Abu Thalhah.

“Sabar adalah cahaya! Sabar adalah cahaya!”

Oh sungguh, ujian kita bukanlah apa2. Sabar; lagi, terus, dan selamanya. Namun, ketika kita sedang kepayahan dalam bersabar, bacalah cerita; tentang Rasulullah, para keluarga dan sahabat, juga Nabi dan Rasul sebelumnya. Dan sepertinya kita akan menemukan lagi definisi sabar yang lebih baik lagi. Membesar lagilah sabar kita, kemudian.

Merindukan keturunan? Sudah selama Nabi Zakariya ASkah dirimu dalam menunggu keturunan? Bahkan sampai usia lanjut, ia tidak pernah kehilangan kesabaran, dan selalu berdoa “Rabbi laa tadzarni farda wa Anta khayrul warisin...”

Rindu suami di Jakarta (#eh, curhat)? Nabi Adam AS dan Siti Hawa pun sempat terpisah jarak. Nabi Adam di India, sedangkan Siti Hawa di Irak. Dan Allah Mahabaik dengan takdirNya mempersatukan mereka kembali di Jabal Rahmah setelah 100 tahun terpisahkan, menjadikan mereka legenda cinta paling romantis antara laki2 dan perempuan.

Lelah berdakwah? Nabi Nuh AS berdakwah kepada kaumnya untuk mengesakan Allah SWT selama 950 tahun. Namun tidak lebih dari 80 orang yang mengimani risalah yang dibawa olehnya. Artinya, setiap 12 tahun hanya mendapat 1 saja orang beriman. Hebatnya, Nabi Nuh AS tetap sabar.

Sakit menahun? Nabi Ayyub AS yang sakit parah selama 18 tahun bahkan tidak memohon, “Wahai Tuhan, sembuhkanlah aku dari penyakit ini.” Tetapi beliau hanya berdoa, “Tuhan, aku terkena penyakit dan Engkau adalah Sang Paling Penyayang.” Karena ia malu kepada Allah yang sudah memberikan anugerah yang sangat banyak selama 80 tahun hidupnya, maka ia merasa sangat tidak pantas jika ia tidak bisa bersabar dengan penyakitnya yang hanya 18 tahun.

Bukan... Pasti bukan kitalah orang yang paling sulit ujiannya. Ia Rasulullah SAW, sang kekasih Allah, adalah orang yang mengalami ujian paling berat. Ia ditinggal wafat satu persatu oleh keluarganya semenjak kecil, penghinaan besar yang ia terima di Thaif, dipanggil Mudzammam oleh kafirin kaumnya sendiri, giginya patah dalam peristiwa Uhud, dll. Namun, ia yakin ada cahaya yang dapat membantunya menyelesaikan tiap ujian, tiap kegelapan, yaa.. cahaya yang ia maksud itu adalah kesabaran :)

Dan siapakah yang paling sabar?
“Tidak ada yang lebih sabar daripada Allah. Ia disekutukan dan dianggap punya anak, namun Ia mengampuni dan tetap memberi mereka rezeki.” (HR. Imam Ahmad)
Allah memang Mahasabar. Meskipun tidak dipatuhi oleh makhlukNya, namun Ia tetap menjamin rezeki mereka. Meskipun makhlukNya banyak melakukan pelanggaran, Ia selalu memaafkan dan mengasihi mereka.

Ya, Sobba dan Sobbi. Semua berdiri di atas kesabaran.  Namun ada yang berkata, “Saya butuh solusi konkret dari permasalahan saya. Sabar hanyalah teori.” Oh, sungguh... Alam telah mengajarkan kita tentang sabar dalam kebertahapan bergilirnya alam. Surya tidak hadir secara tiba2 di puncak langit, tetapi dari malam gelap yang pekat, ia terbit sedikit demi sedikit di sejuknya pagi, naik perlahan2 dengan sinar yang semakin terang. Taman melati pun tidak bermekaran tiba2. Butuh kesabaran; penanaman bibit, pemeliharaan, pengawasan, sehingga benar2 menjadi taman melati yang indah dan cantik.

Sabar adalah cahaya! Untuk membantu kita keluar dari gelapnya masalah, keluar secara bertahap. Dan oh ow, saya ingat satu lagi kalimat hebat. Iya, kalimat yang diucapkan oleh Pencipta Rasulullah (yang juga Pencipta seluruh alam semesta), Allah SWT :
“Sesungguhnya hanya orang2 sabarlah yang diberi ganjaran tanpa dihitung.” (Az-Zumar : 10)
Dan siapakah yang paling bisa dipegang janjinya?

*FYI : Sabar adalah cahaya (HR. Ahmad)

Rabu, Februari 01, 2012

Gombal #4


Nabi Isa AS (2) "turun kembali ke dunia"


Menara Putih.

Postingan ini adalah sambungan dari postingan sebelumnya, masih bertema tentang Nabi Isa AS. Tapi kali ini, kita akan belajar bersama tentang Nabi Isa AS di masa yang akan datang, akhir zaman. Mengimani Allah sebagai Tuhan, berarti harus mengimani Sifat2 WajibNya dan Asmaul HusnaNya juga. Mengimani Nabi dan Rasul2 Allah berarti juga harus mengimani risalah dan mukjizat2 yang mereka terima. Begitu pula dengan mengimani Hari Kiamat, sudah sepatutnya kita mengimani komponen2nya; bahwa akan ada Dajjal, Imam Mahdi, dan turunnya Nabi Isa AS sebelum tibanya hari kehancuran.

Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkhutbah kepada kaum muslimin, khutbah beliau kali ini adalah khutbah yang paling banyak menyebutkan kata Dajjal. Beliau meperingatkan kaum muslimin agar berhati2 terhadap fitnah Dajjal. Lalu seorang sahabat, bernama Ummu Syuraik, bertanya kepada Rasulullah, “ Wahai Rasulullah, dimana orang2 Arab saat itu?”  Rasulullah menjawab, 

“Orang2 Arab pada waktu itu sedikit jumlahnya dan kebanyakan mereka berada d Baitul Maqdis dan imam mereka seorang yang saleh. Ketika imam itu maju untuk shalat shubuh bersama mereka, tiba2 Isa bin Maryam turun di antara mereka, maka imam itu pun mundur lagi ke belakang dan mempersilakan Isa AS menjadi imam. Isa AS meletakkan tangannya di antara kedua pundak imam itu, lalu berkata “Majulah dan shalatlah, karena shalat ini telah diiqamati untukmu.” Imam itu pun mengimami shalat mereka.

Seusai shalat, Isa AS berkata, “Bukalah pintu itu” Pintu pun terbuka, tetapi di belakang pntu itu Dajjal berdiri bersama 70ribu orang Yahudi. Semuanya membawa pedang berhias dan berpakaian mewah. Setelah Dajjal melihat Isa AS, ia segera menghilang di tengah massa bagaikan garam larut dalam air dan lari menjauh. Isa AS berkata, “Saya punya pukulan yang tidak bisa kau tandingi.” Akhirnya ia mendapatkannya di pintu Lud Timur dan membunuhnya, dan Allah mengalahkan orang2 Yahudi. Tidak ada sesuatu pun di muka bumi ini yang dapat dijadikan tempat bersembunyi orang Yahudi. Dimana saja mereka bersembunyi, Allah jadikan benda tempat bersembunyi itu dapat memberitahukan, baik benda itu berupa batu, tembok, pohon, ataupun binatang. Kecuali pohon gharqad (pohon berduri), karena pohon itu termasuk  salah satu pohon mereka. Semua benda itu berkata, “Hai hamba Allah yang muslim, di sini terdapat orang Yahudi, kemarilah dan bunuhlah dia.”

Maka Isa bin Maryam menjadi penguasa dan imam yang adil di tengah umatku. Ia menghancurkan salib, membunuh babi, membebaskan jizyah (pajak yang dikenakan kepada nonmuslim), dan meninggalkan zakat; baik zakat kambing atau unta. Tidak ada lagi pertengkaran dan permusuhan. Binatang2 berbisa pun tidak berbisa lagi, sehingga anak kecil bisa memasukkan tangannya ke mulut ular tanpa berbahaya, seorang anak perempuan kecil dapat membuka mulut singa tanpa berbahaya, serigala di tengah2 kambing bagaikan anjing penggembalanya. Dunia penuh kedamaian seperti sebuah wadah penuh dengan air; tidak ada perselisihan pendapat dan tidak ada yang disembah selain Allah. Tidak ada peperangan lagi dan suku Quraisy mendapatkan kembali kerajaannya.” (HR. Ibnu Majah) shahih.

Para ulama sepakat, bahwa Nabi Isa AS masih hidup, hanya diangkat oleh Allah jasad dan ruhnya, dan akan kembali turun ke dunia di daerah Damaskus pada akhir zaman nanti. Hal ini tidak diragukan, berdasarkan; AlQuran, Hadits, dan ijma. Tidak ada pengingkaran atas hal ini, kecuali oleh para filsuf dan orang2 yang tidak beriman.

“Saat dia seperti itu, Allah mengutus Isa bin Maryam; ia turun  di menara putih di Damaskus timur. Ia berpakaian dua potong, dengan memegang sayap malaikat. Bila ia mengangguk maka kepalanya meneteskan air, dan bila menengadah maka kepalanya meneteskan butir2 air bagaikan mutiara. Setiap orang kafir yang mencium baunya pasti mati, dan nafasnya mencapai jarak sejauh mata memandang. Ia mencari Dajjal sampai mendapatkannya di Babul Lud dan membunuhnya.” (HR Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, dan Abu Dawud)

Nabi Isa AS, di akhir zaman nanti, kembali turun ke dunia masih sebagai Nabi. Tapi tidak lantas ia disebut sebagai nabi terakhir, tidak. Nabi terakhir tetaplah Nabi Muhammad SAW. Karena Nabi Isa AS nanti akan menauhidkan Allah dengan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, bukan dengan syariat baru. Dan setelah ia menyelesaikan amanahnya (menauhidkan Allah dan membunuh Dajjal), ia akan wafat.

“...Isa AS akan berada di bumi selama 40 tahun, kemudian meninggal dan orang2 muslim menshalati jenazahnya.” (HR. Ahmad)

Dan Sobba dan Sobbi, turunnya Nabi Isa AS di akhir zaman nanti bukanlah tanpa hikmah. Semua yang Allah ciptakan, tuliskan, dan takdirkan sungguh saling berkaitan dan berhikmah.  Takdir diturunkannya Nabi Adam AS dari surga ke dunia pun berhikmah, yang sudah tertulis lengkap bahkan dari 40 tahun sebelum diciptakannya Nabi Adam AS itu sendiri. Dan kali ini kita sedang mencari hikmah turunnya kembali Nabi Isa AS ke dunia. Bismillahirrahmanirrahiim...

Hikmah pertama adalah untuk mematahkan keyakinan orang2 yang mengklaim telah menyalib mati Nabi Isa AS. Allah akan membuktikan bahwa bukan seperti itu adanya, bahwa yang mereka salib adalah orang yang dimiripkan dengan Nabi Isa AS, bukan Nabi Isa AS itu sendiri.


Hikmah kedua adalah menggugurkan pengagungan yang berlebihan kepada Nabi Isa AS seperti yang sekarang ini terjadi, bahwa ia adalah anak Tuhan atau penjelmaan Tuhan. Ia akan mengaku bahwa ia adalah hamba, Nabi, dan Rasul Allah. Nabi Isa AS akan menegakkan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Esa dan menyangkal konsep ketuhanan selain itu. Pun ia akan menegaskan sifat haram babi (bukan hanya babi hutan) dengan membunuh para babi, yang sekarang syariat yang dibawanya dulu sudah banyak dicederai.

Hikmah ketiga adalah menghilangkan fitnah yang ditimbulkan Dajjal dengan membunuhnya. Seperti yang dikatakan Rasulullah, bahwa Allah tidak menciptakan fitnah yang lebih besar daripada fitnah Dajjal. Dajjal adalah makhluk yang keluar pada waktu kedudukan agama sangatlah lemah, sedikit pengikutnya, dan orang2 enggan mencari ilmu agama. Dan Dajjal akan mengatakan, “Saya adalah Tuhan kalian.” Ia buta sebelah, padahal Allah tidaklah seperti itu, tidak buta. Dan tertulis di antara kedua mata Dajjal, “kafir”, yang bisa dibaca oleh orang beriman walau orang beriman itu sebenarnya buta huruf.

Hikmah keempat adalah turunnya Nabi Isa AS ke dunia karena ajalnya sudah dekat, agar ia bisa dikubur di bumi. Karena setiap makhluk yang diciptakan dari tanah pasti tidak akan mati, kecuali kembali ke tanah.
“Dari tanah itu Kami ciptakan kalian, dan kepadanyalah Kami kembalikan, dan darinyalah Kami keluarkan kalian sekali lagi.” (Thaha : 55)

Itulah beberapa hikmah yang bisa kita tangkap (mungkin masih banyak sebenarnya, kalo yang ngulas adalah ahli tafsir dan ahli hadits :p) atas turunnya kembali Nabi Isa AS ke dunia. Wallahu'alam. Semoga bermanfaat. CMIIW.