Minggu, November 01, 2009

Bukan karena zina, membunuh, mencuri, atau pun riba.

Minggu, 1 November 2009

Sungguh, bukan karena berzina, membunuh, mencuri, memakan riba, dan melakukan keburukan lainnya Iblis mendapat laknat dari Allah SWT. Iblis mendapat laknat bukan pula karena ia mengingkari Allah sebagai Pencipta. Atau bukan pula karena ia mengingkari keberadaan surga dan neraka. Ia dilaknat Allah karena tidak patuh terhadap perintah untuk sujud kepada Adam AS. Dan hal ini dilakukannya bukan tanpa alasan.

Ia mengajukan alasan pada Allah atas keberatannya tersebut, yaitu ia diciptakan dari api, sedangkan Adam AS dari tanah, apakah pantas ia untuk sujud kepada Adam AS? Iblis membuat parameter sendiri dalam apa yang mesti dilakukan atau yang mesti ditinggalkan. Sombong total!

Kisah yang diabadikan di Al Quran ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita, betapa kesombongan menjadi penyebab celaka. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya terdapat seberat dzarah kesombongan.”

Kesombongan sekecil apapun itu, sudah cukup bagi Allah SWT untuk memasukkan kita kekal di nerakaNya, tidak pernah masuk surga. Demikian berbahayanya sikap sombong. Karena itu, kita harus benar-benar menghindarinya. Memahami batasan sombong adalah keharusan bagi kita.

Kawan, patutlah kita waspada, terhadap semua yang kita lakukan, ucapkan, bahkan pikirkan. Apakah komponen kesombongan itu ada pada diri kita? Jika ada, segeralah musnahkan dan bertaubat, kawan. Jatuhnya laknat Allah kepada Iblis adalah karena kesombongannya. Padahal kita sama2 tau, yang berhak memakai jubah besar ”kesombongan” hanyalah Allah SWT; Rabb kita, Illah kita, Penguasa kita.

Kita, manusia, diberi anugerah oleh Allah sebuah akal yang luar biasa, yang menjadi keistimewaan kita dibanding makhluk2Nya yang lain. Optimalkanlah ia, manfaatkanlah semanfaat-manfaatnya. Namun hati2lah, jangan sampai anugerah ini menjadi boomerang telak bagi diri kita atas hadirnya laknat Allah. Hati2lah dalam berlogika, hati2lah dalam berpikir. Jika mengobati memang selalu lebih sulit, maka jauhilah keadaan patologis sombong. Jauhi faktor pencetusnya, faktor predisposisinya, bahkan faktor risikonya.

Pantaskah kita sombong hanya dengan label mahasiswa FK, padahal kita tau ada Allah Yang Mengetahui segala yang terjadi di seluruh dunia ini, bahkan Allah tau keberadaan semut kecil nan hitam di ruangan gelap sekali pun.
Pantaskah kita sombong hanya dengan keahlian kita dalam membuat program yang nantinya kita anggap bisa menjadi pesaing berat facebook, padahal kita tau ada Allah yang memiliki kemampuan dalam membuat program dalam diri manusia secara sempurna tentang impuls, neurotransmitter, dan aksi.

Pantaskah kita sombong hanya dengan memiliki 3 pabrik cokelat, 4 pertambangan, dan 5 hotel, sehingga kita merasa sudah memberi kesejahteraan kepada orang2 yang bekerja di situ, padahal kita tau ada Allah Sang Maha Berkehendak atas turunnya hujan dan rezeki2Nya yang luas.

Hati-hati, kawan. Tipu daya iblis itu lembut begitu melenakan, begitu halus tak terasa akan adanya, tapi begitu tajam menyayat jati diri sebagai hamba. Yuk, kita persering istighfar dan taubat, atas segala kesalahan yang kita sadari, atau tidak kita sadari. Atas kesombongan yang kita sadari, atau tidak kita sadari.

Sekali lagi, sombong = laknat Allah.

Jumat, September 04, 2009

Mendengar

Jum'at, 4 September 2009.

Sebenernya masih ada tanggungan menggambar pharynx dan cavum nasi untuk laporan anatomi nih, tapi break dulu ah :) main sama mister black lappy dulu, semoga jadi lebih fresh, lantas jadi bisa gambar dengan sangat indah nan eksotis, mengalahkan fenomena yang dihadirkan Leonardo Da Vinci dengan Senyum Monalisanya. Hyaalah.. ngehayal aneh malem2. Kejadian sebenarnya adalah desperate menggambar mode : on. Heheh :)

Kali ini mau berbagi apa, ya… yang lagi saya rasain banget-banget yaitu, The Power of Listening. Terdengar simple, simple banget malah. Tapi ngaku deh, ga semua orang bisa atau mau mendengarkan, kan? Termasuk diri kitakah? Kalau saja ternyata jawabannya iya, suwer deh, kita dalam kondisi merugi.

Kok bisa? Jelas2 kalau bicara itu mengesankan lebih hebat, apalagi kalau berhasil mempengaruhi lawan bicaranya sehingga sepakat dengan apa yang kita bicarakan. Hm, yaa.. bicara juga penting kok. Berbicara dan berbagai seninya pun bermanfaat banget buat hidup kita. Tapi yang ingin saya share di sini adalah ayo kita jadikan diri kita pendengar yang baik pula. Banyak banget gunanya!

Siapa saja orang2 yang mesti bisa dan mau ”mendengar”? Semua!
Seorang anak atas nasehat hidup bapak ibu dan gurunya,
seorang istri atas curahan bahagia juga penat perjuangan suaminya,
seorang ibu atas cerita seharian putra-putrinya,
seorang dokter atas keluhan sakit pasiennya,
seorang akhwat atas share emosi sahabatnya,
seorang mutarobbi atas transfer dan ilustrasi ilmu murobbinya,
seorang murobbi atas pikiran2 outstanding mutarobbinya,
seorang guru,
seorang tukang parkir,
seorang artis,
semua,
bahkan seorang panglima perang pun mesti bisa dan mau mendengar.
Ya, seorang pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang mau mendengar. Lebih langka pemimpin yang mau mendengar daripada mau berbicara. Kalau kita termasuk yang mau mendengar, maka berbahagialah! Kita termasuk yang sedikit itu.

Dengan mendengar, kita punya pengalaman tanpa kita mengalaminya langsung.
Dengan mendengar, kita punya kesempatan berfikir lebih lama, lebih jeli.
Dengan mendengar, kita dapatkan lagi inspirasi, mengetahui bagaimana cara pandang orang.
Dengan mendengar, kita berkesempatan kembali kikis sikap egois dan self-centered kita.
Dengan mendengar, kita sudah memberikan ruang ekspresi untuk lawan bicara kita, setidaknya sudah kita beri satu solusi kepadanya, tanpa mesti membuka mulut untuk mengatakan sepatah kata.
Dengan mendengar, kita berhasil menghargai orang dengan sebaik2nya.
Dengan mendengar, kita sudah menunaikan hak ukhuwah.
LUAR BIASA!

Yang jelas, dengan mendengar, kita akan mengetahui ada masalah apa, secara utuh. Selanjutnya akan ada simpati, akan ada saraf2 otak yang mencoba menalar, akan ada gagasan2 utuh yang menjawab, setidaknya kita telah mencoba memahami akar masalah yang sebenarnya terjadi secara utuh. Saya sengaja untuk mengulang kata utuh berkali2 (maaf jika jadi ga enak dibaca, heheh), karena memang di situ pula point saya. Dengar. Utuh.

Dengan mendengar, kita dapatkan plusplus. Sesuatu yang belum sadar kita butuhkan, tapi ternyata telah kita dapatkan. Luar biasa, bukan?

Cobalah untuk setia... eh, salah! Kok malah lagunya KD. Cobalah untuk mendengar...
Keep inspiring, keep outstanding!

-MR-
Medical Faculty of Sebelas Maret University.
~Maaf, saya terus2an lebih banyak bicara (bahkan terlalu), self centered, ya? Tapi yakinlah, saya pun ingin mendengar. So please, cobalah untuk lebih banyak bicara. Loh? Kok jadi kebalikan dari isi yang di atas, ya? Heheh. Ini, untukmu.

Selasa, Agustus 25, 2009

Hadir Kembali!

Selasa, 25 Agustus 2009

Euphoria nih ketemu si my mister black lappy. Sudah ga ketemu tiga minggu. Berarti tiga minggu juga tidak menyalurkan emosi yang biasa tercurah di sini, tiga minggu juga tidak mengabadikan inspirasi dalam bentukan ms. word. Sekarang lagi pengen nulis yang ringan2 aja ah, selingan aktivitas malam ke-4 Ramadhan 

Sebelumnya, saya ingin memohon maaf lahir bathin dulu untuk semuanya, kalau selama ini secara langsung atau tidak langsung,
ada sikap saya yang mendzolimi,
ada hak-hak kalian yang lalai saya penuhi,
ada kepercayaan kalian yang saya khianati,
ada janji yang belum saya tunaikan,
atau ada hutang yang belum saya lunasi (hwaaa, jadi inget utang pulsa! Gawat! Semoga ada kesempatan untuk melunasi. Mesti mesti!)

Flash back beberapa hari lalu, rasanya luar biasa campur aduk saat meninggalkan rumah untuk kembali ke Solo memulai semester baru, semester lima. Sungguh waktu berpacu dengan cepatnya. Bergegas, Mulkiii! Hophophop! Saya berangkat dari rumah setelah diwanti2 sama abi dan umi agar lebih semangat dan tekun kuliahnya, diwanti2 juga untuk serius garap skripsi, harus lancar urusan gapai cita2 walau memiliki fokus yang lain-lain juga. Saya pun punya tekad-an baru, yaitu belajar cari uang. Semangat, semangat! Mau berguru ah sama anak Financial Mandiri (FM), untuk menumbuhkan jiwa meng-uangkan kesempatan dan semoga dapet inspirasi nyata dalam melahirkan uang, heheh. Teman, adakah yang mau berbagi uang? Eh, salah. Maksudnya berbagi ilmu, pengalaman, dan saran untuk orang seperti saya dalam mencari uang? Ayyo, butuh pencerahan nih. Kok saya jadi terkesan mata duitan, ya? Heheh.

Ohya, buat yang nganterin saya ke stasiun, kak Arie Wahyundari, kak Rendra d’Coul, dan kak Rizal, tenks, yaaa. Yang mau pergi siapa, yang heboh siapa. Dasar, the bestlah kalian semua. Mau2an aja sih semarak keroncongan gara2 baru makan buka puasa jam 7pm, sederhana banget lagi, ga ada kolak, atau sup buah, atau es kelapa yang so homy. Maaf kalo jadi mendzolimi dan ucapan trima kasih saya pasti ga ada gunanya apa2 untuk kalian, hanya Allah sebaik-baik pembalas. Semoga Allah senang dan ridho atas kebaikan yang kalian lakukan, berbuahkan rahmat dan karunia dunia akhirat dari Allah. Aamiin.

Hm...
Sekarang sudah sampai Solo lagi, rasanya kaki ini menapak kembali di bumi.
Sekarang sudah sampai Solo lagi, seperti terbangun kembali ke alam nyata.
Sekarang sudah sampai Solo lagi, saatnya kembali kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas. Semangat semangat!

Oyya, punya kamar baru niii x) semoga bisa hadirkan fikiran2 yang lebih fresh! Aamiin.

@ qowi: happy birthday ya, adikku. Semoga makin sholeh dan makin membanggakan umi abi. Semoga Allah ridho atas segala yang kau usahakan.

@ umi dan abi : terima kasih banyak, ya. Saya belajar banyak banget hal di rumah, mungkin kalian tidak sadar sedang dipelajari, heheh, maaf kalau seperti mencuri ilmu. Tapi kalian memang so inspiring. Kalian akan terus temukan sikap childish saya, karena saya memang anak kalian. Tapi yakinlah, saya bertanggung jawab atas kehidupan saya, ke depannya insya Allah akan lebih, dalam menata hidup merencanakan masa depan. Sadar banget nih sudah gede. Saya akan selalu berusaha menunaikan hak-hak kalian, menghormati kalian sebagai posisi orang tua yang memang memiliki tempat khusus nan mulia di hati saya, tapi saya pun ingin dimengerti. Ya, wajar ditanya dan memang tugas saya menjawab, insya Allah. Itu bukti keyakinan atas rencana2 saya. Aamiin.

@ mbah Tufriyah : makasih ya konsep saling mengerti dan menghargainya. Mesti sehat terus ya, mbah.

@ kak Arie dan kak Rendra : semangat untuk revisi2 KTI dan TA-nya. Wajarlah revisi2 dikit. Semoga lulus dengan memuaskan, langsung deh bisa mengabdikan ilmunya ke masyarakat. Aamiin.

@ kak Rizal : Anda punya banyak hutang sama saya. Ayo, semangat bayar! Loh? Heheh.

@ Solo : Insya Allah akan saya coba jawab lagi tugas dengan segala ujiannya yang Allah berikan di kota hadiningrat ini. Insya Allah saya akan terus belajar menyimpan rasa optimis dalam berharap, insya Allah saya akan terus belajar hadirkan husnudzon atas segala keputusanNya, yang merupakan jawaban usaha2 saya. Di kota ini, saya banyak belajar. Tenks, Solo :)

 

ORANGE UMAR | Creative Commons Attribution- Noncommercial License | Dandy Dandilion Designed by Simply Fabulous Blogger Templates