Selamat Tinggal 20ku yang EKSTRIM!!


Well, I’m turning on 21.
Dengan angka di depan yang mirip bebek, moga sifat saya tidak membebek kwek-kwek. Dengan angka di belakang yang mirip lidi, moga saya bisa jadi lebih gemuk, minimal nyampelah BB saya untuk bisa donor darah. Bayangkan saja, 21 tahun di alam semesta, belum pernah donor darah SATU KALI PUN! Rasa pengennya sudah nyampe ubun2. Gggrrr…
 
Menuju tanggal 17 Juni 2010, sejujurnya kepala saya rasanya sangat kesemutan. Kesemutan yang terus-menerus. Kalau tangan kesemutan, bisa kita tiup2 untuk menghibur si tangan… Lah kalo kepala, gimana niupnya? Urusan yang bertumpuk-tumpuk dalam satu waktu, menguji cara pandang saya dalam menyusun prioritas, menguji saya atas keyakinan bahwa dengan membantu orang lain, Allah akan memberikan kemudahan dalam urusan-urusan saya.

Dari milad ke 20 sampai ke 21
Saya merasa ini TAHUN TER-EKSTRIM dalam hidup saya. 
Semuanya serba ekstrim, semuanya serba sangat, semuanya serba banget.

Sangat banyak derai tawa bersama sahabat! Tapi juga sangat banyak bulir air mata bersama mereka.
Allah pun menunjukkan kasih sayangNya yang sangat berlimpah dengan beberapa amanah untuk menjaga saya, tapi saya justru sangat merasakan ini juga bentuk ujian. Bahkan di kala lemah, saya rasakan ini cobaan. 
Banyak ucapan terima kasih kepada saya, tapi saya yakin banyak pula hadirnya kekecewaan.
Susah senang di tahun ini sangat ekstrim, kawan! EKSTRIM! Lebar senyumnya ekstrim, manyun cemberutnya juga ekstrim.

Insya Allah satu tahun ini, tidak mungkin terlupa. Iya.. bagaimana bisa terlupa? Berasaaa banget hidup bukan lagi sebagai anak kecil, walau saya akui masih banyak sifak kekanakkan yang sering termanifestasi. Hyaa… sadar banget kalau hidup sudah sangat menuntut kedewasaan. Saya masih in progresslah…

Pengen jadi dewasa, tapi ga pengen jadi tua :p :p walau jadi dewasa, ga pernah mau berhenti bermain, ga pernah mau berhenti senang2, ga pernah mau jadi sok serius, atau bahkan jadi lupa bagaimana caranya bercanda. mau terus lincah bermain!! Karena kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua, kita menjadi tua karena kita berhenti bermain!!

Okelah tentang 21… mau kemana saya mengarahkan diri ini ????

1.    Mulki yang teratur.
Teratur makan, teratur istirahat, teratur olah raga, teratur belajar, teratur membina, teratur memikirkan alam semesta…

2.    Mulki yang tawazun.
Tawazun, it means seimbang.  Seimbang antara senang2 dan ngerjain skripsi. Seimbang antara muter2 kampus dan nongkrong kajian di masjid. Seimbang antara “say hi” di dunia luar dan aktualisasi diri di dalam rumah.

3.    Mulki yang sehat.
Capek rasanya pusing terus karena hipoglikemia dan sebel rasanya ketika malam hari yang berharga harus terkorbankan gara2 demam. Gimana bisa produktif kalo ga sehat??

4.    Mulki yang terbuka.
Please.. mau sampe kapan nyakitin sahabat2 dengan sikap tertutup? Ayo dong bisa curhat sampe mblewer2 ke ummi dan abi TENTANG SEMUANYA! Ga yang baik2 doang, ga yang bagus2 doang. Cerita juga kalo lagi sedih karena ga bisa ngerjain ujian, cerita juga kalo sediiiiiiiiiih banget karena kehilangan semua data skripsi, cerita juga kalau kadang kena remedial. Ga sok baik2 aja seperti biasanya.

5.    Mulki yang banyak senyum.
Dengan anugerah garis wajah yang keras dari Allah, emang udah takdir bahwa saya mesti banyak senyum, biar orang2 pada ga takut dari pertemuan pertama. Biar orang2 tuh tau “gubrak”nya saya dari awal, tidak sungkan, apalagi anggapan bahwa saya itu tidak terjangkau. Pergi dah jauh2 anggapan sampah kaya gitu.

6.    Mulki yang real.
Lebih tepatnya lebih rajin merealisasikan mimpi2nya. Ga hanya jago ngonsep! Sakit banget rasanya ketika konsep saya yang udah “surga” banget, tapi semua hanyalah fatamorgana karena saya yang bermalasan dalam mewujudkannya, menunggu orang lain menghadirkannya untuk saya, atau bahkan mengharapkan Allah menakdirkan secara gratis untuk saya. Itu ga banget, Mul! Capek!

7.    Mulki yang  cerdas.
Cerdas dalam mensyukuri  segala nikmat yang sudah Allah kasih, cerdas dalam memutuskan tempat pelampiasan yang benar, cerdas untuk selalu sadar bahwa ketekunanlah kunci kepuasan!! Tekun pangkal puas!!

8.    Mulki yang tulus.
Ga perhitungan. Karena kamu emang bukan tukang hitung, Mul!
Ga boleh sebel kalo sms tausiyah saya ga dibales. Ga boleh mangkel kalo “atraksi badut” saya belum bisa ngusir gurat sedih orang lain. Ga boleh ngungkit yang dulu2, mesti pemaaf, ga boleh ada bekas paku di papan atau whatever kata orang.

9.    Mulki yang beriman sepenuuuuh hati.
Ga mandang ada surga atau neraka.

Itu memang harapan Mulki terhadap Mulki sendiri, harapan pribadi kepada pribadi.
Yang saya yakini, ketika saya terus memperbaiki diri dengan sebenar2nya, fitrah untuk bermanfaat kepada orang banyak, fitrah untuk memperbaiki orang lain, pasti juga akan muncul. Itu fitrah! Kebaikan itu menular, kawan!

Makin baik diri kita, makin sholeh diri kita, akan makin berkualitaslah aktivitas kita, akan makin muntijahlah dakwah kita. Saya yakin seyakin2nya… menjadi pribadi yang tidak hanya berkualitas, tapi juga berkapasitas…  semoga!

Untuk semua hal yang telah saya alami.. untuk semuanyaaa... 
Hamba berterima kasih kepadaMu, Rabbi... 
Tuntunlah hamba selalu, jangan pernah biarkan hamba sendiri dalam segala urusan hamba, walau sekejap mata...

Episode selanjutnya: Zombie Perjuangan.

Komentar

  1. Smangat mbak,,,,,,,,

    btw, saya sudah 2 kali donor dan umur saya 20 tahun. haha.

    blogwalking,,,,,,
    ayo ramaikan blog anak BEM

    BalasHapus
  2. amien.............
    aku mau melewatkan usiaku yang ke 21.... Tambah tua...

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Pos populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR