Endapan

Tandon air di kontrakan belum pernah saya bersihkan. Saya sedikit malas dan banyak takut untuk mencapai genteng kontrakan. Gegara demi mencapai genteng, cuma bisa diakses dengan tangga bambu. Saya berani naik, tapi takut turun! Wow, what a visioner i am. Berfikir sampai beberapa tahap ke depan. Hm... Dulu ketika saya masih putih abu2, ummi saya bilang kalo saya termasuk anak yang visioner. Dan sekarang saya baru agak2 merasa bahwa saya memang visioner.  Untuk itu, terima kasih tandon air, genteng, dan tangga bambu. *huekekekkk. Setteress*

Praktis, si tandon air tidak pernah saya kuras dan sikat. *poor you. Puk2..* Maka setiap saya mengisi bak mandi ketika isi tandon sudah menipis habis, akibatnya butiran pasir, kepingan hitam, dan lembaran daun kecil pun ikut meramaikan bak mandi saya. “Ck... Ah!” 1 detik pertama pasti saya menggerutu, lalu di detik berikutnya, tangkas tangan saya mematikan keran. Dan air masih menggelombang.

Seperti siang ini, rutinan itu kembali terjadi. Dan sudah menjadi hobi saya: melihat butiran-kepingan-lembaran tersebut pasrah menggelombang, lalu mengendap. Saya menikmati tiap milisekonnya. Pegendapan demi pengendapan itu terus mengingatkan saya tentang, “Setelah gelombang yang berayun atau berguncang, errr... alay. After all good or bad things, we need time to relax, realize then" Relax untuk menenangkan dan menetralkan diri. Selanjutnya realize; memahami-menyadari bahwa setelah riak, apapun jenisnya, akan ada makna yang terendap. Bekal menjalani detik kehidupan yang selanjutnya. Dan kali ini, baiklah... terima kasih keran air, butiran pasir, kepingan hitam, dan lembaran daun kecil.

Catatan: btw... tentang berani naik tapi takut turun, saya jadi ingat kata2 Mitch Albom dalam For One More Day. Ini saya cuplikkan:

“It’s funny. I met a man once who did a lot of mountain climbing. I asked him which was harder, ascending or descending? 

He said without a doubt: descending, because ascending you were so focused on reaching the top, you avoided mistakes. 

The backside of a mountain is a fight against human nature,” he said. “You have to care as much about yourself on the way down as you did on the way up.” 

Komentar

  1. seperti di bak kamar mandi di sekolah sy, kalo udah masuk musim dingin gini, air malah sulit, dan endapan malah naek.

    BalasHapus
  2. mau saya bantu? saya pengalaman lho bersihin tandon ar rohmah. sampai masuk2 segala XD

    BalasHapus
  3. Ga heran kalo mbak Mulki yang manjat2. Xixixi. Blog ini telah mengabadikan jejak2nya yang kurang lebih mirip2 itu jauh2 hari di masa lampau. Betul kan mbak.

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR