Having is not collecting, having is giving.

“Wuih, Pak Boss datang. Mana mobilmu, Her? Katanya sudah sukses.”
“Her, di sana itu lho, dijual sawah sekulin (sebuah satuan ukuran sawah yang saya pun tidak tau tepatnya berapa meter persegi), harganya 300juta. Belilah. Si X baru saja beli sawah sekulin di utara jalan itu. Sukses beneran dia.”
“Kebonmu itu mbok dibangun rumah, Her.”

Semuanya diucapkan dalam bahasa daerah Banyumas, lengkap dengan logat kebangsaan mereka sebagai bangsa ngapakers. Sekiranya, itulah sebagian penggalan yang bisa saya tangkap dari sambutan hangat para tetangga suami saya di tanah kelahirannya, Banyumas. Saya hanya bisa melempar senyum, semoga bukan jatuhnya senyum kecut. Betapa saya ingin membabibu mereka tentang abc-nya hidup, tapi sudahlah... Toh suami saya tidak tampak butuh pembelaan. Justru terlihat begitu menikmati momen2 seperti ini. Timpalnya ringan, “Buat apa dibangun, Lik. Saya kan kerjanya di Jakarta. Biar dipake Lik Siyam aja buat mbangun rumah kambing di situ.”

“Mobilnya si A lho, Her, bisa teriak2 “awas2!” kalo mau kepentok.”

Wajar saja mereka membandingkan. Semua orang berhak membandingkan. Membanding2kan satu dengan satu hal lain yang bisa mereka lihat, satu dengan satu orang lain dari apa yang ditampakkan. Dan di kampung ini, mungkin juga di kampung lain, okay di kota lain, ukuran sukses seseorang semua masih tentang harta, terutama harta yang tampak.

Dan saya semakin jatuh cinta (terlepas dengan istilah bangun cinta yang belakangan menjadi populer, saya persisten menggunakan frase jatuh cinta, karena feelnya lebih dapet, eerr~) kepada beliau karena kerendahhatian dan keluwesan merespon semua “sapaan” para tetangganya.

Selesai keliling ke para tetangga, “Yaa.. Itulah, Din, tetangga2nya Kanda. Maaf ya kalo Kandanya belum sukses.” Rupanya beliau mengerti betapa saya butuh pancingan agar apa yang terkunci di bibir ini bisa tercurahkan. “Itu kan bagi mereka, Nda. Ukuran sukses mereka masih seluas apa sawah yang dimiliki, secanggih apa mobil yang dikendarai, semegah apa rumah yang ditinggali. Tapi bagi kita kan orang yang sukses itu orang yang bermanfaat bagi orang lain. Iya, kan? Keep being on this way, Nda. You need no changes.”

Saya mengenal pertama kali kalimat “Having is not about collecting, having is giving” dari Citra (kalimatnya bener kagak, Cit? Hehe), 2 atau 3 tahun sebelum saya menikah. Betapa saya suka soul and spirit yang dihantar oleh kalimat tersebut. Pastilah kalimat tersebut memiliki banyak likers, namun entah bagaimana followersnya. Hehe. Dan kalimat itu harus berterima kasih kepada suami saya yang tidak hanya menyelamatkan kehormatan kalimat itu (memilihnya sebagai cara hidup), namun juga telah memuliakan inti kalimat tersebut dengan paripurna.

Ya, kesuksesan bukan dari apa yang bisa ditampakkan, tapi dari apa yang bisa ikut dirasakan. Bukan dari tawa kita yang terlihat oleh orang lain, tapi dari kesertaan kita dalam tawa orang lain yang membutuhkan. Well, success is not a matter what we possess and dont possess. Because our success consisted of nothing else, but the harmony of our existence to others with our little ownership.

Dan taukah kau, suamiku? Ketika dirimu sedang riang menyapa pantai dengan para ponakan potensialmu, meninggalkan saya dan babe (bapak mertua) berdua saja menjaga markas, babe berbicara dengan takzim, betapa beliau bangga dan bahagia dengan cara hidup yang kau pilih dan tekuni.

“Heri memang berbeda dari kebanyakan. Semasa kuliah, dia tidak pernah pulang sebelum Lebaran. Selalu di hari kedua Lebaran. I’tikaf dulu, katanya. Puasa senin kemisnya juga ga alfa. Disiplin agamanya, disiplin belajarnya. Guru2nya masih banyak yang pada inget sama dia. Dia juga orangnya mau maju, tapi ga mau maju sendirian. Pas dia lihat saudaranya ada yang masih di belakang, dia pasti bantu sebisanya. Sama yang lebih tua, yang lebih muda. Ga pernah hitung2an. Bapak senang, bapak bangga...”

Bukan seluas2nya sawah, tapi seluas2nya kemanfaatanmu. Bukan semegah2nya rumah, tapi semegah2nya ridho orang tua atasmu. Sejahtera bukan berarti memiliki semua hal, apalagi hal termahal. A feeling of well being cant given by your property around you, it's inside you.

Fully inspired by you, my handsome ucux!! Muah!

Nb. Tapi jadi kaya itu penting, loh. Notes ini bukan bermaksud mengendurkan semangat cari rezeki dan berkehidupan yang layak, tapi tentang ukuran sukses yang ternyata tidak hanya berdasar dari apa yang bisa dihitung kasat mata. Iya, kita harus kaya. Gimana mau ngasih, kalo ga memiliki. Ya kan? Faqidusy syaii laa yu'ti!

*di bawah adalah foto sayooo dan babe mertua lagi jaga markas (tiker dan bekal). Hehe.

Komentar

  1. subhanalloh mbak mulki...seneng bacanya. :)

    izin share ya.

    *lebih sering nulis donk mbak biar bagi2 inspirasinya.hihi

    BalasHapus
  2. Hehe, takut pd mual2 klo kseringan baca kegejean dakuuuu.

    BalasHapus
  3. Ihiiiiiiiiiir,,, uhuk uhuk... geje emang yang ini... :)

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR