Menikah Antar Suku

Assalamu'alaykum Wr Wb.  

Halo, dik. Sblmnya, maaf yaa balesnya lama. Telat buka hape. Pertanyaanmu tentang nikah antar suku, khususnya antar sunda-jawa, sangat menggelitik. Mitos itu bilang kalo orang sunda nikah dengan orang jawa akan membawa keburukan, kesulitan, dan ga langgeng. Begitu, ya? Itu mitos sejak lama, tapi ternyata masih saja ada beberapa pihak yang menjadikannya bahan pertimbangan ketika akan menikah.  

Yang dulu pernah kubaca, mitos ini timbul sejak Perang Bubat, perang antara kerajaan Majapahit (jawa) dan Pajajaran (Sunda). Yang tadinya Hayam Wuruk berniat menikahi Dyah Pitaloka (anak dari Raja Linggabuana), tapi karena (in my sotoy opinion, maap kalo salah) terjadi kesalahpahaman, maka mereka tidak jadi menikah, justru terjadi perang antar kedua kerajaan tersebut. Sepertinya kejadian itu sangat traumatik, akibatnya meninggalkan luka masa lalu yang sulit mengerin hingga sekarang. Untuk sejarah lengkapnya, aku ga berani cerita sih, cuma tau sedikit dan takut salah. Jd ttg sejarah stop sampai di sini, ya.  

Terus gimana menyikapi mitos nikah beda suku tersebut, sunda jawa, atau yg lain? Kita bahas per aspek, yuk :

1) Tentang Mitos
Sebaiknya kita istighfar, lalu memohon perlindungan ke Allah agar terlindung dari kepercayaan turun menurun tersebut. Lalu menguatkan iman kita, bahwa jalan hidup yang berliku, lurus, kaya, miskin, itu adalah takdir dari Allah. Tidak ada kekuatan lain yg mendominasinya, termasuk kekuatan mitos. Semua terjadi atas kehendak dan izin Allah.  

Lalu kalo ada, "tuh ada tetangga pojok sana, lakinya sunda bininya jawa, sengsara tuh hidupnya. Lagi proses cere' malah. Kualat noh... Ngelanggar sih." Ini bukan berarti mitosnya yg terbukti, tapi ujian dan takdir Allah kepada mereka memang seperti itu. Banyak juga teman, saudara, kerabat, tetangga saya yg nikah sunda-jawa, alhamdulillah, mereka baik2 saja. Beranak pinak, bercucu picu. Silakan survey  ke suami istri beda suku, lebih banyak yang bertahan atau berpisah? Lebih banyak yang rukun atau sengsara? :)  

2) Tentang Boleh atau Ganya
Menikah antar suku diperbolehkan dalam Islam: asal aqidahnya sama. Nikah beda negara saja boleh. Nikah beda jenis kelamin malah harus. Kalau luang, buka ali imron ayat seratus tiga deh. Allah menjadikan kita saudara, padahal tadinya kita tercerai berai (suku-isme), asal kita sama2 Islam, asal kita sama2 berpegang teguh pada agama Allah. Dan hanya Allahlah yang maha berkehendak menyatukan atau memisahkan. Dalam Islam, tidak ada kasta. Suku Jawa dan Sunda sama derajatnya, Melayu, Batak, Padang, Dayak, Sasak, Aborigin,Indian, Kaukasian, Tionghoa juga. Tidak ada yang lebih tinggi satu di antaranya. Dan kata Rasulullah, menikahi wanita itu karena empat perkara; cantiknya, hartanya, keluarganya, dan agamanya. Namun alasan keempatlah yang paling utama; aqidah akhlaknya.  

3) Tentang Restu Orang Tua
Dalih yang sering keluarga atau sesepuh kasih ke kita apa sih? Biasanya seputaran tradisi, kebiasaan, selera, dan watak, ya? Memang ga dipungkiri perbedaan2 pada sisi itu memang ada. Bakal jadi tantangan tersendiri bagi pasangan beda suku. Dan mungkin saking sayangnya orang tua ke anaknya, saking inginnya kalo anaknya hidup lempeng, ayem, tanpa hambatan, maka tidak sedikit yang terganjal restu orang tua.  

Mau marah ke orang tua? Boikot? Eh, nanti dulu. Sabarnya diperlebar lagi. Walau ga setuju dengan pendapat orang tua, menganggap jalan pikirnya sempit atau kekanakan, ga lantas membuat kita boleh ngerasa lebih "tua" dari orangtua. Pelan-pelan...   Sudah mau menikah berarti sudah dewasa kan, ya? Silakan berdiplomasi sebijaksana dan sehormat mungkin kepada orangtua perihal ini. Bahwa, salahkah ia terlahir sebagai lelaki sunda? Ia tidak bisa memilih ibu mana yang mengandungnya. Bahwa, yang akan kita nikahi adalah seorang yang beriman dan sholih; yang menempatkan syariat di atas tradisi kedaerahan; yang bersedia melakukan penyesuai2an dengan pasangannya demi tercapai sakinah, mawaddah, warrahmah. Bahwa, yang akan menikahi kita adalah seorang yang memegang teguh pada teladan Rasul, ia paham bahwa seorang istri harus ia lindungi, baik kondisi fisik, hati, dan kehormatannya.  

Silakan berusaha..jangan lupa berdoa. Karena yang memiliki, menggengam, melunakkan dan membolak-balikkan hati manusia adalah Allah. Sungguh bukan argumentasi kita yang menentukan, bukan tone tegas suara kita, bukan pula raut wajah super melas kita, tapi kehendak Allah untuk melunakkan hati orang tua kita.   Lalu kalo ternyata orang tua tetap tidak memberi restu? Prinsip saya, restu-ridho-doa orang tua sangat penting untuk hidup kita. Jika saya sudah berusaha sebaik2 usaha, berdoa sedalam2nya doa, namun orang tua tetap tidak merestui, mungkin memang inilah petunjuk Allah kepada kita. Mungkin inilah jalan pertolongan yang Allah beri kepada kita, agar selamat dari kemudhorotan di depan sana, yang sekarang kita belum mengetahuinya. Mungkin ini adalah lorong yang harus kita tempuh, walau kini gelap, tapi pasti ada cahaya benderang di ujung lorong.  

4) Tentang Keraguan Pribadi
Mungkin ada yang bertanya2, sanggup ga ya menikah dengan laki-laki sunda? Sambel bikinan aku maknyus ga, ya? Wajah aku sebening dia ga, ya? Cocok ga ya; sifatnya? Wataknya? Hobinya? Kebiasaannya? Dompetnya?  

Memang hal2 tersebut potensial untuk menimbulkan konflik. Tapi sekali lagi, ketika kita yakin beliau paham ilmu agama, tenanglah... :) ketika kita yakin beliau tipe yang hidup untuk masa depan, dampingilah... :) Terserah, mau nikah beda suku atau beda negara, ga masalah :) pastikan saja, beliau seorang yang teguh menjunjung syariat Islam. Ya ga mesti nikah sama ustadz juga tapi, yaaa.. Yang penting akhlaknya baik. Maka ia akan bisa menempatkan diri di posisinya dan memperlakukanmu sesuai porsimu.  

Lantas, apakah rumah tangga akan berjalan dengan lancar? In syaa Allah. Tapi jika selama perjalanan rumah tangga ada lampu merahnya, ya wajar saja, namanya juga jalanan... Jika untuk mengecap indahnya rumah tangga harus ada pengorbanan, ya wajar saja, untuk masuk jalan tol juga harus bayar :)  

Pasti... Pasti butuh sekali sabar yang luas, pasti butuh sekali maaf yang berlimpah, pasti banyak sekali kekagetan2; baik yg kita sukai atau tidak sukai, pasti banyak sekali tantangan... Bukankah itu serunya? Itulah kenapa kita sering dengar istilah bittersweet of love :)  

Justru menurut saya, ambil saja sisi untungnya. Kita jadi belajar tradisi suku lain, bahasanya, tata kramanya, keseniannya, nature wisdomnya... Aaakk.. Itu akan membuat kita semakin kaya! Saya malah jadi antusias sendiri. Banyak hal baru yang bisa kita pelajari. Hidup kita justru akan semakin semarak!  

Last but not least... Selama kalian sama2 takut kepada Allah, selama ada cinta di antara kalian (eh bener iniiih), selama kalian teguh memegang syariat, in syaa Allah bisa deh mendewasa bersama. Growing old together, mengecup keriputnya, memeluk ringkihnya. Aiiiih... Trus kalian menjadi salah satu penakluk mitos deh. Cieeehhh... Keren, kaan?  

Ohya, jangan lupa berdoa. Kita mah lemah, ga bisa apa2, mohon kepada Allah agar dibagi pertolongan. Okeh? Wallahu'alam. Mohon maaf atas segala kesalahan.

#opini pribadi. Tidak bs menjadi rujukan#

Komentar

  1. kalau menikah beda agama gimana bu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya balik lagi ke masing-masing pribadinya, jika sanggup menikah beda agama dengan keadaan Indonesia yang cukup risih dengan pernikahan antar agama ya fine-fine saja. Paman saya seorang Muslim menikah dengan Katolik sampai saat ini rukun-rukun saja.

      Hapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR