Menyapa Samudera : Harmonis

Yang kusukai dari naik kereta ekonomi adalah kondisi yang membuat mau gamau akan saling memperhatikan dan ngobrol sepanjang perjalanan dengan penumpang lain akibat rekat2nya posisi duduk penumpang. Dan kali ini bersama mereka; sepasang suami istri yang sangat harmonis. Sejujurnya awalnya aku senep dgn pasangan trsbt karena berani2nya tingkah PDA mereka nyaingin PDAku sama masheri. Haha. Tapi senep ternyata berubah menjadi seneng, sampai2 aku mencuri momen keharmonisan mereka. Ehehe..  

Saat ini si suami menjaga kehormatan dirinya dengan menjadi tukang cilok. Namun mengobrol dengannya bisa kutangkap, ia memiliki semangat yg tinggi untuk berdagang dan mengembangkan usahanya. Tidak berhenti di cilok, ia juga sedang berlatih membuat kerupuk. Ia terlihat memiliki kemampuan untuk memelindungi istrinya dari rasa insecure dengan sikap penuh tanggung jawabnya; untuk lahir juga batin istrinya.  Ia pun terlihat pintar merawat rasa nyaman istrinya, dengan melibatkan dan menyediakan ruang musyawarah dalam rumah tangganya. Dan ia memimpin agenda itu dengan sabar dan santun.  

Sedangkan si istri, sama seperti perempuan lain, terlihat memiliki banyak keinginan. Tapi apa yang menjadikannya spesial? Ia mau mendengarkan suami. That's it. Pendidikan formalnya lebih tinggi dari si suami, tapi ia pintar sekali menjaga posisinya tetap sebagai ma'mum. Ia menyadari suaminya sangat merasa terhormat jika ia "meminta" sesuatu, tapi di saat yang sama ia pintar memilah pinta mana yang kiranya si suami sanggup memikul bebannya. Ia begitu supportive dan ceria. Sehingga tampak luruh sebagian beban si suami setelah mereka bertukar pikiran.  

Keharmonisan itu milik siapa saja. Tidak tergantung pengantin baru atau lama. Tidak tergantung dengan memiliki seberapa banyak harta. Pun tidak tergantung satu atap atau jauh2an. Ia milik siapa saja; yang memang pantas mendapatkannya, dan diizinkanNya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR