Hebat Yang Baik Hati


ummiii, aku mau jadi doktel yang hebat, tapi baik hati.” mulki kecil said.

Terkesan dengan kuliah dokter Arifin kemarin siang. Saya memang selalu lebih menyukai kuliah yang tidak hanya bercerita tentang faal organ serta kondisi patologisnya, tapi juga yang berisi sharing hidup seorang dokter atau tenaga medis lainnya. Mereka menyisipkan sebuah hal yang sangat berharga, bernama inspirasi.

Kemarin, dilalah saya duduk di kursi paling depan. Pas banget hanya semeter di hadapan dokter Arifin. Beliau seorang dokter penyakit dalam, yang sering kejatahan mentausiyahi tamu Sarasehan Ramadhan with Dekanat. Di tengah2 penjelasan tentang pengaruh kesehatan ibu terhadap janin, dokter Arifin cerita tentang PTTnya di daerah Wonogiri yang ternyata endemik hipotiroidisme. Hipotiroid akibat kekurangan iodin yang dialami oleh calon ibu bisa menyebabkan kerusakan otak yang irreversible, retardasi mental, tuli persepsi, kretinisme (cebol), dan kelainan neuromuskuler. Tapi sebagai dokter, tugas kitalah membesarkan jiwa pasien2 kita. Memberikan solusi dan memperbaiki kualitas hidup mereka. Jangan menghindar tak peduli, atau ikut2an menyerah dengan keadaan.

Dokter bukanlah manusia yang serba bisa, tapi dokter mesti sempurna usahanya dalam tulus menolong pasien, tulus bersusah2, tulus berempati merasakan kejerian pasien, pun tulus sebagai problem solver. Berkali2 saya menekankan kata tulus, harapannya saya akan bisa sesungguh2nya menjadi dokter yang tulus nantinya. Namun, tulus di sini bukan maksudnya free for all patients, ya. Tulus yang saya maksud adalah bekerja dengan hati, memperlakukan sebaik2nya, dan berusaha semampu2nya, biidznillah.

Dokter yang hebat bukan hanya dokter yang tokcer dalam mendiagnosis penyakit pasien, bukan juga dokter yang tepat jikalau memberi obat, tapi lebih dari itu.
 
Di saat dokter itu tidak hanya mampu membebaskan pasien dari kematian, tapi juga memberikan jalan untuk hidup.
So deep makna dari pernyataan tersebut. Ketika seseorang terlahir kretinisme (cebol) akibat hipotiroid yang diderita ibunya dulu saat mengandung, mainkanlah peran kita sebagai dokter seoptimal mungkin. Jika memang sulit memperbaiki kondisinya yang ”cebol” karena memang kerusakannya irreversible, cobalah untuk manajemen dan edukasi pasien untuk tidak menyerah fighting demi hidup yang lebih baik. Edukasi untuk konsumsi iodium yang banyak, tularkan optimisme lewat kata2 empati nan tulus. Pun mereka berhak menikah nantinya dan tak perlu cemas keturunannya juga ”cebol” jika dirinya cukup iodium.

Begitulah... profesi apa pun, memang tak cukup kompeten secara keilmuan saja, tapi juga hadirkan hati di setiap pekerjaan kita. Akan ada sebongkah ketulusan, yang pada akhirnya hadirlah segunung totalitas upaya. Hm... berani masuk kedokteran, mesti siap sibuk. Tuntutan itu sudah diajarkan semenjak bangku kuliah. Dengan jadwal kuliah yang mengikat, laporan yang menjerat, ujian2 yang selalu mencegat, diharapkan hadir seorang dokter dengan daya survival yang kuat. Tantangannya di sini, apakah kita cukup menjadi calon dokter yang biasa (pada umumnya, kuliah-belajar-ujian) atau jadi calon dokter yang berbuat (peduli tentang maslahat ummat). Insya Allah, pilihan yang kedua akan lebih hebbatt!! (ini kenapa jadi akhiran –at2 smua, ya?) hehe.

Sampai2 ada anekdot, ketika seorang dokter menikah pertama kalinya, sesungguhnya ia telah memiliki tiga istri/suami.  
Karena sesungguhnya istri pertamanya adalah pasien, istri keduanya adalah buku, dan istri ketiganya itulah baru orang yang dinikahinya
 Hehe. Berarti bagi yang ingin memiliki istri/suami seorang dokter, siap2 dinomortigakan, ya. Hehe, bercanda. Diambil positivenya saja, berarti dokter tersebut bener2 dokter siaga, bukan dokter loyo yang gampang mengeluh atau not care dengan pasien. Berbahagialah jika pasangan kalian adalah dokter yang mencintai pasiennya. Hakekat orang yang mencintai itu kan memberi dan akan berusaha menyenangkan seseorang yang dicintainya. Begitu mulianya jika konsep cinta diterapkan di bidang profesi apa pun. (ett ett... yo tapi mesti sadar diri juga sama kewajiban2 rumah tanggalah, ya. ojo sampe jadi istri/suami durhaka. Hehe)

Pun dengan rekan sesama dokter. Saat kuliah berteman, bahkan belajar bersama, prinsipnya ayo kita berjuang untuk lulus semua. Tapi ternyata, ketika sudah sumpah dokter yang salah satunya berikrar akan memperlakukan teman sejawat seperti saudara kandung, tak jarang dari mereka yang sikut2an berebut pasien. Masya Allah... ga banget! Bahkan pun ada yang black campaigne terhadap dokter lainnya. Misal ada pasien Diabetes Mellitus datang ke dokter A, tapi hasilnya belum lebih baik. Lantas datang ke dokter B. Contoh sikut menyikut, menjatuhkan nama baik orang, atau black campaigne, ”bah... racun ngene kok dikek-i wong!” ini kisah nyata, bro. Silakan istighfar2 sebanyak2nya. Semoga kita terlindung dari sifat2 buruk tersebut.

Bicara tentang diabetes mellitus, adakah di antara kalian yang memiliki genetik diabetes mellitus? Dari ibu? Ayah? Jangan berkecil hati, ya. kita bisa mengendapkan genetik itu sehingga tidak muncul ekspresinya. Terapi termujarab seorang calon atau memang sudah tersangka diabetes itu adalah pantau life style, terutama pola makan dan olah raga. Memang harus ada usaha dan pengorbanan, kawan! Jangan maruk2 makan jeroan, durian, dsbnya, yaaa...^^

Ayo semangat cadok2, belajar yang seriusss... yang kau hadapi nanti manusia, punya rasa, pun punya nyawa. Belajar terapi yang seaman dan seefektif mungkin. trennya sekarang ini herbal, ya. mau ah belajar tentang herbal. Kuasai komptensiii, tinggikan empatiii, berikan edukasiii, ingatkan mereka pada illahiii, semoga kita semua diridhoiii. Aamiin.

Komentar

  1. Pernah nonton Team Medical Dragon jadi kagum tokoh dr. Ishida Uryu yang melawan system rumah sakit yang hanya menjadikan pasien sebagai barang dagangan saja. Semoga di Indonesia ada dokter macam dia.hhmmfh.

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Pos populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR