Bahasa Cintaku


Entah apa yang kalian rasakan ketika mendengar kata hebat, keren, TOP, atau luar biasa. Kata2 yang katanya bentuk pujian, yang ternyata secara faktual; abstrak. Menurutku. Hebat? Bagian mananya? Keren? Apanya? Maaf, no offense. Pikirankulah yang cukup weird untuk mandang sesuatu. Sampe2 aku ngerasa ga cocok jadi anggota DPR. Bagaimana bisa bawa suara rakyat kalo mikirnya suka ga umum? Kekeuh-an pula. Raaarrr banget, kan? Ini tentang kalian bagiku. Intinya: terima kasih untuk semua pembelajarannya.

Terima kasih untuk Nana Sutono. Guru tentang negosiasi advokasiku ga banyak, tidak semua orang mau melakukannya, apalagi bisa melakukannya dengan baik. Dan kamu adalah yang terbaik!

Terima kasih untuk Hasna Amania. Kamu tak selalu GJ. Bagaimana seorang GJ tulen bisa mengatakan, “Kamu bukan da’i, Ki, ketika kamu tidak mau menyampaikan kebenaran.” Thanks, Na.

Terima kasih untuk  Chairunnisa Puji Hapsari. Belajar darimu, memang sudah seharusnya ketika suatu pekerjaan atau tanggung jawab itu belum selesai, kita wajib gelisah. Nb: positivkan gelisahmu, nis.

Terima kasih untuk  Taufik Ali Zein. Karenamu aku membuka buku tentang seni kritik-mengkritik. Bagaimana menjadikan sebuah kritik seenak kripik.

Terima kasih untuk  Yovan Indra. Kamu menginspirasi bahwa kita dituntut untuk bicara lewat karya nyata.

Terima kasih untuk  Windi Wardani. Orang yang paling sering aku bikin menangis :) ikhtiar dan doa moga cukup untuk membuat  takdir Allah berpihak pada mimpimu yang besar.

Terima kasih untuk  Lestari Handayani. Awesome! Aku kagum sama kamu, bu. Justru aku menilai kamulah yang paling dewasa.

Terima kasih untuk  Koni AU. Tidak ada yang paling istiqomah dalam barisan ini melebihi dirimu, bu.

Terima kasih untuk  Agustin dan Agustina. Kalian dan aku sama2 bukan tipe orang publik, twin. Tapi percayalah, keberjalanan fungsi  suatu badan, mesti ada yang tipe tangan, tapi juga perlu tipe yang seperti jantung.

Terima kasih untuk  Umam Fazlurrahman. Cerdas, namun rendah hati. Kamu akan selalu diridhoi ketika kamu bisa menjaga keduanya.

Terima kasih untuk  Yustin Kurnia. Profesionalitasmu diakui semua orang, termasuk orang yang tidak mudah mengakui orang lain seperti diriku.

Terima kasih untuk  Nadia Nur Ganischa. Muslimah itu seperti dirimu.

Ketika bersama kalian, aku belajar menjadi seorang Koleris yang Plegmatis, Melankolis yang Sanguinis.
Tidak bisa kubersajak, merangkai senyawa kata sehingga lembut membuat nyaman, sehingga indah diterima dalam hati. Tidak bisa kubermetamorfosa untuk memuji, ber-eufimisme untuk mengkritik. Semua jelas, bahkan keras. Semoga tak mengurangi makna yang ada, dari hati.

Semoga perjalanan kita kemarin KHUSNUL KHOTIMAH.

Semoga hidup kita selanjutnya lebih dinamis, sehingga lebih terbuka lebar ruang untuk mengaktualisasi diri. Ketika tidak di lembaga, sesugguhnya perjuangan dan pengabdian kita baru mulai diuji. Karena kita harus aktif mencari ladang pengabdian sendiri; membuka fikiran, berfikir lebih strategis, dan mencari link bergerak. Yup, jaga semangat kontribusi.

Maaf untuk kekekeuh-an yang mungkin kadang tidak pada waktunya, seretnya kontribusi, minimalnya pemberian, kekakuan sikap, keakuan yang tinggi, kosongnya inspirasi, dan biasnya keteladanan.

Tanganku tidak sehangat tangan kalian, fikiran dan sikapku pun mungkin terkadang dirasa manipulative. Tapi I DO really care of you, guys.  I’m sorry for not showing it enough. Tidak banyak yang bisa aku berikan kepada kalian, sahabat. Maka wajar saja ketika nantinya mungkin aku adalah bagian yang terlupakan.

Nb: Hm, aku selipin doa ini deh. Semoga cepat dapet jodoh. Jodoh adalah cerminan dan kebutuhan kita. Aku penasaraaan banget siapa jodoh kalian nantinya. Nisa yang ucik2, Umam yang pemikir, Lestari yang metal, hahahaa… Penasaran terbesarku bukan pada jadi manusia apa kalian nanti, tapi siapa jodoh kalian nanti. Siapa pun ia, ialah cermin dan kebutuhan kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR