Iman #1 Tembus Indera

Tembus Indera. Nyomot (lagi) dari koleksi foto fish eye misua.

Muhammad bin Hatim bin Maimun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Bahz menuturkan kepada kami. Dia berkata; Wuhaib menuturkan kepada kami. Dia berkata; Suhail menuturkan kepada kami dari ayahnya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala memiliki para malaikat khusus yang senantiasa berkeliling mencari di mana adanya majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang padanya terdapat dzikir maka mereka pun duduk bersama orang-orang itu dan meliputi mereka satu sama lain dengan sayap-sayapnya sampai-sampai mereka memenuhi jarak antara orang-orang itu dengan langit terendah, kemudian apabila orang-orang itu telah bubar maka mereka pun naik menuju ke atas langit.” Nabi berkata, “Maka Allah ‘azza wa jalla pun bertanya kepada mereka sedangkan Dia adalah yang paling mengetahui keadaan mereka, ‘Dari mana kalian datang?’. Para malaikat itu menjawab, ‘Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu yang ada di bumi. Mereka mensucikan-Mu (bertasbih), mengagungkan-Mu (bertakbir), mengucapkan tahlil, dan memuji-Mu (bertahmid), serta meminta (berdo’a) kepada-Mu.’ Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang mereka minta kepada-Ku?’. Para malaikat itu menjawab, ‘Mereka meminta kepada-Mu surga-Mu.’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka telah melihat surga-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Belum wahai Rabbku.’ Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimana lagi jika mereka benar-benar telah melihat surga-Ku?’. Para malaikat itu berkata, ‘Mereka juga meminta perlindungan kepada-Mu.’ Allah bertanya, ‘Dari apakah mereka meminta perlindungan-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Mereka berlindung dari neraka-Mu, wahai Rabbku’. Maka Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Belum, wahai Rabbku.’ Lalu Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimanakah lagi jika mereka telah melihat neraka-Ku.’ Mereka mengatakan, ‘Mereka meminta ampunan kepada-Mu.’ Maka Allah mengatakan, ‘Sungguh Aku telah mengampuni mereka. Dan Aku telah berikan apa yang mereka minta dan Aku lindungi mereka dari apa yang mereka minta untuk berlindung darinya.’.” Nabi bersabda, “Para malaikat itu berkata, ‘Wahai Rabbku, di antara mereka ada si fulan, seorang hamba yang telah banyak melakukan dosa, sesungguhnya dia hanya lewat kemudian duduk bersama mereka.’.” Nabi mengatakan, “Maka Allah berfirman, ‘Dan kepadanya juga Aku akan ampuni. Orang-orang itu adalah sebuah kaum yang teman duduk mereka tidak akan binasa.’.”
(HR. Muslim dalam Kitab ad-Dzikr wa ad-Du’a wa at-Taubah wa al-Istighfar, hadits no. 2689, lihat Syarh Muslim [8/284-285] cetakan Dar Ibn al-Haitsam)

Hal yang ghaib seperti Allah, malaikat, surga, dan neraka memang tak bisa ditangkap oleh indra selain nanti di yaumil akhir (hari akhirat) kelak. Akan tetapi, orang-orang mukmin meyakini keberadaannya meski tanpa melihatnya. Orang-orang mukmin tetap mengharapkan adanya ampunan dari Seseorang yang tak mampu mereka lihat. Orang-orang mukmin tetap mengharapkan surga dan minta dijauhkan dengan neraka meski mereka tak pernah melihat surga dan neraka. Kenapa??

Tidak bisa melihat hal-hal yang ghaib seperti adanya Allah, surga, dan neraka, tidak membuat seorang mukmin berhenti beramal. Hal ini disebabkan bahwa iman adalah sesuatu yang kompleks antara sesuatu yang bisa dijangkau dengan akal dan ada yang hanya bisa dijangkau oleh rasa, oleh hati. Yang membedakan orang beriman itu adalah mereka tidak terlalu sering berdebat yang bukan esensial dan tidak sibuk berfilosofi kesetaraan Khaliq dengan makhluq.

Manusia secara fitrah mengagungkan dan menyucikan sesuatu. Sekalipun ia tidak mempercayainya, alam bawah sadarnya akan memberi tahu bahwa ia mempercayainya. Pernah suatu ketika seorang yang mengaku dirinya atheis melakukan aksi terjun payung. Saat payungnya tidak bisa dibuka setelah ia menerjunkan diri, ucapan yang didengar oleh rekannya yang ada di helikopter adalah, “Oh my God!”. Pada satu titik terlemah ia akan bergantung pada Sesuatu yang memiliki kekuatan. Itulah fitrah kelemahan manusia dan ia tak bisa lari darinya sebagaimana ia ditanya oleh Allah saat wujudnya belum di dunia dalam Q.S. al-A’raf:172,
… Alastu bi Rabbikum? (bukankah Aku Rabb kalian?). qaalu: balaa! syahidna (berkata mereka: benar! kami bersaksi)…

Ada pula banyak kasus tercatat dalam al-Quran tentang sifat fitrah manusia menuhankan Satu Dzat yang Agung, Tinggi, dan Berkuasa atas mereka meskipun mereka tidak mengakuinya dalam kondisi normal.
Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) >>al-Ankabut:65<<

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” >>Yunus: 90<<

Akan tetapi, iman tidak lagi berguna (baca: menyelamatkan diri kita di kehidupan akhirat) jika nyawa sudah berada di kerongkongan (baca: dekat dengan ajal). Dan iman tidak tertulis, kecuali hanya di hati berbentuk keyakinan yang menolak semua keraguan. Iman tidak tertulis di KTP, akta kelahiran, dan sejenisnya. Iman merupakan hasil pencarian dalam hidup sebagaimana Ibrahim mencarinya dari “nol”. Dan terakhir, sekali lagi, iman ialah sesuatu yang menembus batas indrawi kita! Karena hanya di akhirat sajalah kita akan beriman sampai tingkat yang paling tinggi: ‘ainul yaqin (keyakinan karena mata benar-benar melihat segalanya).

Komentar

Pos populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR