Janji

Besok pagi suami saya bakal datang. Hepi deh. Hepinya tuh kaya si Bilbo Baggins pas berhasil nemuin Arkenstone. Serasa cukup baginya Arkenstone saja, tidak usah lagi seperempatbelas bagian harta bawah gunung yang dijanjikan Thorin kepadanya.  

As usual, setiap suami mau datang, ada persiapan2 khusus yang saya lakukan. Dari berbagai persiapan itu, bagian yang paling saya perhatikan adalah : berusaha sebaik2nya agar tepat janji dan tepat waktu ketika menjemput beliau.  

Hal kecil ya? Mungkin bagi kalian. Tapi saya pernah kena omelan yang panjang karena saya telat 15 menit dari waktu yang saya janjikan. Dan akhirnya, saya harus menanggung derita. Di atas motor, sepanjang perjalanan dari stasiun balapan ke kontrakan, saya dihukum. Saya hanya diperbolehkan mendengarkan omelannya (baca: ceramah), tanpa boleh menyentuh beliau (baca: pegangan beliau). Itu hukuman yang berat loh bagi saya. Iyalah, kaya apaan aja suami istri boncengan, tapi istrinya ga boleh pegangan sama suaminya, malah pegangannya sama besi di bagian belakang motor. Eeergh, apa banget, kan?  

Padahal saya sudah nyengir-nyengir, sudah pasang tampang seimut-imutnya, tapi hukuman tetap beliau tegakkan. Kutanya,
"kanda kenapa ngomel2 gitu? Laper banget ya?"
"Udah hilang lapernya.."
"Glek.. Trus kenapa? Udah kangen banget ya sama aku? Aku juga kangen banget loh sama Kanda…"
"Kalo kangen seharusnya blablablablaaaaaa…"
Panjang deh omelannya kaya benang layangan. He.  

Yang dipermasalahkan suami sebenarnya bukan karena beliau jadi harus menunggu saya dalam keadaan lapar atau kangen. Menunggu saya 15 menit baginya adalah hal remeh. Menunggu saya 29 tahun untuk menikah dengannya saja beliau bisa sabar. Apalagi cuma menunggu 15 menit? Hehe.

Suami ingin saya lebih hati-hati lagi dalam mengutarakan sebuah janji. Sudah dewasa, seharusnya sudah lebih pandai mengukur kemampuan diri. Banyak orang-orang melalaikan janjinya karena ia gagal memetakan waktu dengan agendanya. Saya janji datang jam 7, namun datang jam 7.15. Tentu berbeda jika sedari awal saya janjinya datang jam 7.15. Sama2 datang jam 7.15, tapi beda rasanya.

Datang terlambat, lalu beralasan macet banyak anak sekolahan. Datang terlambat, lalu beralasan menyelesaikan cucian baju dahulu. Suami mengajarkan saya untuk tidak ringan untuk beralasan, menciptakan udzur2 yang kedengarannya syar'i. Padahal, seharusnya macet atau menyelesaikan cucian sudah masuk pertimbangan sebelum berani berjanji.

Suami juga ingin saya tidak mudah melanggar janji, tidak membuat janji yang tidak mungkin saya tepati. Karena jika sering melanggar, khawatirnya saya akan merendahkan makna "janji" itu sendiri, melunturkan kesakralannya. Padahal sepemahamannya (saya juga ~ saya juga ~ hehe), kualitas orang dalam yang menyikapi janjinya adalah cerminan kualitas kehidupan beragamanya. Nah loh!

Makaaa.. sebelum berjanji, ukur kemampuan kita dahulu, pikirkan masak2. Jika sudah berjanji, usahakan dengan sebenar2 usaha untuk menepatinya, jangan menguzur2kan diri. Yuk, pofesional! Hihi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR