Kisah Coass #9 : "Coass Tua"

Stase terakhir ini akan habis dalam waktu dua minggu. Hampir sampai. Syukurlah. Hati ini ceria, terbayang hari di depan yang sepertinya akan lebih berwarna. Namun, rasanya kok langkah kaki kian memberat, ya? Sikap pun jadi angot-angotan. Hm… Orang2 bilang ini sindrom coass tua. Maunya duduk saja, malas bergerak. Sudah peot, bahkan ngoyot. Padahal jika kehidupan coass diibaratkan dengan lari marathon, saya harusnya mempercepat lari ketika hampir mencapai garis finish. Lari sekencang-kencangnya dengan tenaga terakhir, hingga titik nadir, hingga puas menyudahi.

Hidup sebagai coass adalah sebuah perjalanan. Dan bicara tentang jalan, saya mengenal beberapa tipe jalan Yaaa… walau memang tidak sepandai orang teknik sipil sih, tapi cukuplah untuk bekal memahami hidup. #apasih?  

Saya cerita dikit, ya. Kemarin atau kemarinnya lagi, tepatnya waktu sore yang pesona jingganya terhalang oleh awan hitam, saat itu saya merasa lapar. Karena gas kompor di kontrakan sedang habis, saya bermaksud membeli nasi sarden di sebuah warung makan yang jauhnya hanya beberapa puluh langkah dari kontrakan. Berhubung sekarang pertamax kian mahal, saya putuskan untuk jalan kaki sajalah. Hitung2 sekalian glukoneogenesis dengan fat burning. Iya, tidak? Hihi. Tapi semakin saya berjalan, ayunan langkah saya kian berat, nafas mulai menyengal, dan cuping hidung mulai bergantian kembang kempisnya. Tebak, tipe jalan apa yang sedang saya lalui? Jalan menanjak. Menuju tempat yang lebih tinggi.  

Dan swing ~ mari kita ganti scene ke perjalanan coass lagi. Lupakan tentang nasi sarden.
Pantas saja jika langkah ini kian berat. Karena memang ini jalan mendaki yang puncaknya tercapai sedikit lagi. Itu sudah menjadi tabiatnya, tabiat jalan mendaki, tabiat demi mencapai puncak. Ya memang begituuu. Ga usah heran-heran amatlah.  

Dan ketika langkah sudah nian beratnya, bisikan yang melemahkan justru kian kuatnya. Bisikan dari ia yang sudah mengazzamkan diri sejak zaman Adam untuk menggagalkan manusia mencapai puncak, untuk mengajak manusia untuk kalah saja; dengan banyak mengeluh, bahkan mengutuk.  

Bertahan, Cemul! Sedikit lagi. Sungguh, tidak ada mujahidah yang tidak bermujahadah. Dan ketika udara kian tipis sehingga membuat kita merasa sesak, sungguh sebenarnya kita di jalan yang tepat untuk mencapai puncak. Yuk ah.  Kata Jack Sparrow mah the problem is not the problem. The problem is your attitude about the problem.  

Tetap cemungut eaaa…

Komentar

Pos populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR