Jarak dan Suara

Ketika masih SD dan SMP, saya sering didaulat menjadi pemimpin upacara oleh para guru dan teman. Mungkin selain karena saya mampu meproduksi suara dalam skala besar (baca: lantang), saya juga adalah sosok yang pantas dipajang di tengah lapangan. #skip

Allah Mahabaik telah memampukan kita mengatur besar kecilnya, lembut kasarnya, rendah tingginya suara. Sehingga abang bakso yang lagi ngetem di ujung jalan, setelah kita teriakin “abang baksooooo… beli, baaaaangggg…”, dapat mendengar, lantas menghampiri kita. Suara yang keras atau nada yang meninggi memang sering keluar ketika kita sedang dalam kondisi berjauhan. Benar? Jarak yang jauh, maka harus berteriak. Harus berteriak, karena jaraknya jauh. Hubungan kedua hal tersebut rupanya adalah hubungan karena  dan oleh karena itu; hubungan sebab dan akibat.

Tapi ada kalanya seorang ibu berteriak marah kepada anaknya, seorang bos meninggikan nada suara kepada stafnya, padahal mereka sedang tidak dalam posisi berjauhan. Jarak bos dan staffnya hanya dipisahkan oleh satu meja kerja, jarak ibu dan anaknya pun sungguh semampai  ~ alias satu meter pun tak sampai. Sedang berjauhankah itu? Bukankah kita telah sepakat bahwa berjauhan dan meninggikan suara adalah hubungan sebab akibat?

Ah, sudah setua ini, tapi masih saja sering alfa. Tentu saja masalah jauh dekat ini bukan hanya berlaku untuk jauh dekatnya raga, tapi ini pun berlaku untuk jauh dekatnya hati.  Sama seperti jauhnya raga, jauhnya hati pun dapat membuat kita merasa perlu untuk mengeraskan suara ~ meninggikan nada.

Hati itu memang sangat lincah.  Ia adalah pemain akrobat nomor satu di dunia. Selain bisa terbolak-balik, hati pun bisa menjauh dan mendekat. Jumpalitan ke segala arah. Dan sejauh saya memahami, yang dapat menjauhkan hati adalah kemarahan. Marah karena benci, marah karena kecewa, atau  mungkin juga marah karena cemas.

Tidak, tidak. Marah tidaklah melulu salah. Marah juga bisa hadir justru karena kita sayang ~ kita cinta kepadanya. Rasulullah pun pernah marah kepada sahabatnya, kepada anaknya, bahkan kepada istri tercintanya; Aisyah. Tapi sampaikah Rasulullah menghardik Aisyah? Tidak. Justru ia meminta Aisyah menutup matanya, lalu ia berkata, “taqarrabi..” (mendekatlah kepadaku). Dan setelah Aisyah mendekat, Rasulullah langsung memeluk istrinya, lalu ia berkata, “Marahku telah pergi setelah aku memelukmu.” Lalu ia dapat berbincang sebab marahnya kepada Aisyah dengan tenang, dengan lembut. Dan Aisyah dapat mengerti tanpa dahulu terlukai. Maka jika ingin didengar ~ dimengerti, dekatilah. Mungkin raganya. Mungkin hatinya.

Yang saya percaya adalah bila hati berdekatan, suara yang lembut pun terdengar kuat masuk merasuk. Bila hati berdekatan, bisik-bisik pun akan menggema tiada henti tiada interupsi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #4 : KPR

Day 1. Jakarta – Rantau Prapat : Aku Yakin Ini Ujung Dunia!