Surat Balasan

Saya pernah berjanji, saya akan memberi balasan untuknya. Yang kala itu, saya yakin tidak akan lama sedarinya. Dan memang benar, saya hanya butuh 2.5 tahun untuk menunggu. Menunggu untuk membuat balasan pantun hati untuk salah satu adik yang saya banggakan. Dan saya rasa, sekarang adalah waktunya. Bismillah!    
--------------------------####-------------###-----------#####-------------
Hey, dik.  

Eerr.. mulai dari mana ya baiknya? Tidak apalah, toh kamu sudah terbiasa dengan aku yang random selama ini. Coba ikuti saja dulu ya, kemana kata2 ini akan menyamudera.  

Zaman dahulu kala, aku pernah bertanya pada bayanganku yang cantik di cermin. Pikirku, selain cantik, mungkin ia juga bijaksana. Aku bertanya, berapa lamakah waktu yang dibutuhkan untuk perkenalan? Satu minggu? Satu bulan? Satu tahun? Kala itu, aku tidak diberi jawaban berupa nominal dan satuan waktu oleh bayanganku yang cantik. Aku hanya dikuatkan lagi : "Allah akan mengumpulkan orang-orang yang beriman."  

Dan setelah melewati banyak lembaran waktu setelahnya, agaknya aku berani sedikit menyimpulkan. Entah simpulan (sementara) ini akan membuatmu ringan, atau justru sebaliknya. Perkenalan akan membutuhkan seluruh sisa usia kalian. Ia akan ambil bagian dari  perjalanan panjang yang akan kalian tapaki bersama.

Jalani saja, walau dengan melodi hatimu yang tak selalu merdu. Jalani saja, walau dengan langit hatinya yang tak melulu biru. Perkenalan antara kalian memang tidak akan sudah-sudah. Tapi bukankah itu yang justru menjadikannya akan selalu menarik?    

Hey, dik.  

Sampai saat ini, aku suka ~ ah, suka saja tidak cukup,  aku terkesan melihat usahamu dalam menjaga sesuatu; menjaga amanah, menjaga emosi, menjaga hamster, menjaga bukuku yang kamu pinjam, menjaga apapun! Termasuk perihal dirimu menjaga hati. Berbahagialah ia yang akan memetik hatimu yang indah, yang telah kamu jaga dengan sebaik2 penjagaan.

Ini memang akhir dari penjagaanmu terhadap hama berjenis kumbang. Namun sebenarnya, ini adalah pertanda dimulainya babak penjagaanmu yang baru. Penjagaan yang akan leeeebih panjang masanya, lebih kencang terpaannya, tapi percayalah, lebih besar nilainya.  

Iya, aku tidak bohong. Kamu akan teeerus melanjutkan pekerjaan itu: menjaga hati. Menjaga hatimu tetap hangat, ketika tidak hanya sekali masakanmu menjadi dingin begitu saja, karena ia tetiba saja mengabari harus pulang larut, meeting penting katanya. Menjaga hatimu tetap bersyukur, ketika suatu hal menuntut kesabaranmu yang amat sangat berkepanjangan, meski lelah sudah dirasa. Menjaga hatimu tetap tawadhu' ketika nantinya payment profesimu berkali lipat dari pemberiannya setiap bulan. Menjaga hatimu tetap berada di posisi yang sama, posisi makmum yang selalu mencinta imamnya, memuliakan bagaimana pun keadaannya.    

Hey, dik.  

Sejak awal, aku belum mengucapkan selamat untukmu, ya? Astaghfirullah, hal sepenting itu malah aku terlupa, padahal sudah sedemikian panjang. Mumpung ingat, maka : selamat ya telah bertemu dengan yang selama ini dipenasaranin! Hihi. Semoga pertemuan ini membawa rahmat dan barokah yang melipat ruah, ya.  

Jadikan pertemuanmu dengannya adalah tentang menuntut ilmu, semakin terpacu mengkhatamkan buku-buku, bersama melihat dunia, membedah hikmah alam, dan tidak bosan menghadiri ta'lim. Jadikan pertemuanmu dengannya adalah tentang mengaji, agar kelak sesuatu yang kalian bina selalu akrab dan diterangi sinar AlQuran. Jadikan pertemuanmu dengannya adalah tentang mengatasi keterbatasan dan mensinergiskan kekuatan, agar tangguh berlayar, bahkan menjadi teladan bagi bahtera lain. Jadikan pertemuanmu dengannya adalah tentang berlomba satu sama lain, membuat yang wanita menjadi sosok yang dicemburui bidadari surga dan membuat yang pria sosok yang dicintai makhluk langit dan bumi. Yap yaa… Karena memang pertemuanmu dengannya tidak hanya sekedar pertemuan dua hati yang dimabuk cinta.    

Hey, dik.  

Kehidupan yang akan kamu jalani dengannya bukan hanya sekedar menjadi keriput bersama, bukan pula untuk hidup berleha-leha dengan satu jenis harta bertitel cinta. Kehidupan yang akan kamu jalani dengannya adalah jalan panjang; yang kadang penuh bunga, begitu mudah dan indah. Tapi kadang jalan itu akan menanjak, begitu menguras energi dan perbekalan. Dan di lain waktu bisa saja jalan itu menukik tajam, melenyapkan seluruh kewaspadaan.

Iya, ia adalah jalan yang panjang, maka tidak heran jika bisa saja salah satu di antara kalian atau keduanya sekaligus akan merasa lelah, lalu melamban. Jika terjadi, maka gendonglah, papahlah, gandenglah, apapun ~ apapun yang dapat kamu lakukan untuk sama-sama terus berjalan. Saling menopanglah agar tidak kalah, tidak berhenti. Karena bukankah kalian sudah sama-sama sepakat, bahwa kalian baru boleh berhenti ketika surga telah bersama-sama kalian tapaki? Semoga Allah perkenankan, ya :)      

Nb. Untukmu: Aku pernah baca dimana gitu. Mungkin kamu pernah baca juga. Tapi (sepertinya) tidak ada salahnya aku tuliskan di sini. "Seorang wanita, ketika siap dinikahi, maka ia pun harus siap atas tiga hal berikut; 1) dimadu 2) diceraikan 3) ditinggalkan; dalam kondisi hidup atau mati." Jengggg!!! Aku menodai kebahagianmu, ya? Sengaja. Biar kakimu tetap menapak di bumi. Wkwkwkk…  

Nb 2. Untuk masnya: maaf jika ditemui penggunaan kata "kalian" beberapa kali. Hal tersebut semata2 karena kekuranglihaian saya dalam menulis. Tidak bermaksud untuk "mengecilkan" masnya.  Secara saya sadar banget, saya kalah usia dan kalah lain2nya juga dibanding masnya. Maaf ya jika ada yang nyangkut2 ga enak di hati. Ga ada niat buruk sama sekali. Btw, selamat, ya! Anda sungguh beruntung!

Komentar

  1. Selamat yaaa "dik", semoga barokah istiqomah sakinah ma waddah wa rohmah.....
    Aaaaaah, pasti semesta akan indah karena mentari, langit, bulan dan bintang berlomba saling menghiasi.... :P

    BalasHapus
  2. semoga benar feeling saya... :D

    BalasHapus
  3. Ha ha ha ha. Tanda2 semakin dekat. Semua sudah pada menyiarkan dalam penyiratan.

    BalasHapus
  4. salam kenal yah, semoga sukses selalu.

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Pos populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR