Mengelola Keuangan Keluarga #4 : Tabel Pemasukan - Pengeluaran

Tabel punya saya gimana?

Untuk bakunya, saya buat tabelnya di laptop. Ada penyesuaian tabel dari saat ke saat (ga hanya dari tahun ke tahun, hehe). Karena jika ada perubahan income, tabel pasti berubah (walau ga major sih). Jika ada perubahan komponen2 pengeluaran, juga pasti tabelnya berubah lagi. Hehe.

Untuk kesehariannya, saya lebih suka untuk mencatatnya di agenda saya. Tapi untuk memfoto langsung agenda saya, saya malu pisan. tulisannya jelek. hehehe..

A. Pemasukan

  1. Pemasukan Tetap Suami :
  2. Pemasukan Tetap Istri :
  3. Pemasukan Lain :
Kalo saya dan suami, tentang pemasukan lain yang seribu duaribu rupiah tidak kami masukkan ke catatan keuangan. Males soalnya. Hehe. Ga rapih, ya? Kalo pemasukan lain seperti tunjangan prestasi dan gaji 1314151617181920, baru dimasukin. Harus jelas soalnya lari kemana nantinya.

B. Pengeluaran

Tabel yang saya punya seperti ini. 
Area peach : untuk alokasi hepi2 sama the needy.
Area biru : untuk alokasi nabung menabunglah.
Area pink : untuk alokasi kebutuhan bulanan.
Area hijau : untuk alokasi kebutuhan dadakan, atau pas lagi pengen apa gitu. Harapannya sih nyisa, yaaa. Biar bisa masuk tabungan. hehe. Tapi kalo pas lagi ada aja keperluan, alokasi ini duluan yang maju, agar rekening savingnya ga terlalu terganggu. hehe.

Cara pengisian :

  1. Tulis di kolom "asal", akan ditransfer dari bank apa komponen itu dibayar/ditransfer. Misal : BSM suami atau BRIS istri.
  2. Tulis nominal transfer / bayar / jatah monthly di kolom nominal.
  3. kalo yang rigid/fixed seperti komponen sharing, family, debts, saving, housing, operasional suami, per bulannya tinggal saya centang2in (⇃) aja ngisinya.

Sedangkan untuk pengeluaran konsumsi, operasional istri, spare money, saya membuat tabel khusus di agenda saya tiap bulannya :

Kalau keperluan operasional suami, biarin aja terserah dia deh. hehe. Saya mengelola yang ada di saya aja. Kalau pas rekapan bulanannya ternyata ada sisa, alhamdulillah masuk tabungan. yeay! Kalau ternyata minus, yaudah.. ditulis apa adanya. Hehe. 

Nyatet seperti ini kan bukan bermaksud harus surplus terus (alhamdulillah kalo efeknya seperti itu, hehe), tapi karena memori kita terbatas, kalo ditulis kan jadi bisa dilihat lagi, dipake buat apa sih kemarin, pada lenyap kemana. hehe.

Apa yang membuat saya kontinyu mengerjakan seperti ini?

  1. Karena senang dengan hasil dari pencatatan model seperti ini. Rem saya bukan lagi baru bekerja saat rekening saya habis, tapi ketika jatah alokasi per komponennya sudah mulai "merah".
  2. Karena saya senang jika bisa menjawab pertanyaan atau diskusi dengan suami by data. bukan pakai feeling atau "kayaknya2.." atau "kalau ga salah.." Malu euy :(

-end-




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR