Berilmu Tidak Sama Dengan Lebih Bijaksana

Dulu saya sering gumun*, kalo lagi capek, abis pergi abis main abis ujian dan abis-abis yang lainnya, yang paling enak abis selonjoran adalah mandi dengan air dingin (Bukan dari kulkas. Kalo air yang dari kulkas, saya sebut air luar biasa dingin. Hhe, apaan sih lo, Mul!) Yup, tapi kenapa bapak saya bilang lebih baik mandi pake air anget? Saya merasa itu kesia-siaan. Tetep aja gerah, ga joss rasanya. Ternyata memang ada alasan beneran a.k.a ilmiah yang melatarbelakangi saran tersebut, badan kita pegal-pegal kan karena ada respirasi anaerob dalam sel-sel tubuh gara2 kekurangan oksigen, nah, ternyata air anget akan membuat vasodilatasi yang akan mengantarkan aliran darah lebih cepat dan dengan kata lain suplai oksigen pada sel-sel tersebut pun akan lebih cepat, jadi rasa pegal-pegal itu pun akan lebih cepat menghilang.

Kemudian, apakah setelah saya –istilahnya- tau ilmunya lantas jadi mengubah kebiasaan? Tidak juga. Saya tetap mandi dengan air dingin. See? Ilmu ternyata tidak lantas membuat kita bijak. Jadi bagaimana dengan pernyataan yang menyatakan ilmu adalah sumber kebijaksanaan? Salahkah?



Bolehlah kita sama-sama tilik contoh lain kalau ilmu belum tentu menjadi sumber kebijaksanaan. Banyak praktisi-praktisi kesehatan yang merokok. Padahal mereka tau dengan sangat pasti bahwa rokok berdampak sangat buruk untuk kesehatan pribadinya, apalagi untuk orang di sekitarnya. Sekalipun mereka spesialis paru, superspesialis bedah paru, atau apapun jenjang pendidikan tinggi kesehatan mereka, semua tidaklah jamin. Sekali lagi, walau pasien mereka banyak yang akan, hampir, atau telah meninggal karena kebiasaan merokok, semua tidak bisa jamin. Seorang dokter yang saya kenal, yang kebetulan seorang perokok juga, mengatakan hal yang beliau cintai saat merokok adalah suasananya, apalagi kalo lagi kongkow2 dengan teman-teman yang lain. Sensasi tersebut tidak akan terbayarkan oleh sebungkus permen karet yang selalu menjadi saran alternative gerakan anti tobacco.
Lagian, bapak-bapak emang kagak doyan permen kali, demennya nyari duit, terus ngebakarnya sendiri deh. Hhe, piss! Jadi benarkah ilmu adalah sumber kebijaksanaan? Oke, mungkin. Tapi saya tidak berani jamin jika kepemilikan ilmu itu tidak disertai dengan rasa tanggung jawab.

*heran

Komentar

  1. MASALAHNYA KEBANYAKAN ORANG SEKARANG TUW.... TAU HAL ITU GA BAIK,, TAPI TETEP AJA DILAKUIN. GA BERPIKIR PANJANG HIDUP KAN BUKAN DI DUNIA AJA.....
    BINGUNG MENCARI PATOKAN ANTARA BENAR DAN SALAH....

    BalasHapus
  2. @thinkhard: patokan yang benar? wah, banyak, bung! AlQur'an slh satunya, kan?

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Pos populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR