Kisah Seekor Ujangwati

Seekor kutu loncat bernama Ujangwati -nama ini terinspirasi dari film Ujang Pantry-hehe, the most ridiculous name I’ve ever heard :p-. Si Ujangwati sebagai peloncat handal memiliki kemampuan mementalkan tubuhnya (baca: meloncat) setinggi 3 meter (Behh!) Dia meloncat ke sana ke mari dengan riang gembira layaknya seorang anak kecil yang baru mendapatkan sebatang cokelat. Dia meloncati jemurannya Bu Odah, pagar rumah Pak Mail, dan pohon jambunya Mas Sayuti. (Halah, OB banget!)


Tapi pada suatu hari, saat Ujangwati lagi bobo nyenyak (ngasal banget sih gw!), ada seorang anak bernama Dona –pagi Dona..- yang mencomot –saiia tak menemukan istilah yang tepat untuk mengganti kata mencomot :p- si Ujangwati. Dia berusaha melepaskan diri dari tangan Dona, “Ergh.. Ergh!!” Tapi Dona pun tak membiarkan Ujangwati lepas dari tangannya. Tapi emang dasar Donanya yang iseng ga ada kerjaan atau memang dia sangat jahiliyah (jahiliyah? Pake istilahnya ngasal beut!) dia memasukkan si kutu malang itu ke sebuah kotak, ya anggep aja kotak korek api, yang tingginya hanya 3 cm. Dia membiarkan si Ujangwati terkurung dalam kotak itu selama 3 minggu. (Gw harep ga mati duluan tuh kutu! :p) Nah, teman-teman, apa yang terjadi ketika setelah 3 minggu si Ujangwati dikeluarkan dari kotak itu?
  1. Wuh, dia bakal bisa meloncat lebih tinggi dari 3 meter dong!
  2. Dia akan tetap meloncat setinggi 3 meter.
  3. Dia akan meloncat setinggi kotak (setinggi 3 cm)
  4. Dia akan meloncat lebih rendah dari tinggi kotak.
  5. Ah, kasihan.. Dia sudah tidak suka loncat-loncat lagi.
Ok, bagi yang benar +4, salah -2, tidak menjawab 0 (halah, lebai banget sih!)

Well, jawabannya adalah si Ujangwati bakal meloncat setinggi kotak. Tapi maaf-maaf ya, kalo hal ini tidak berdasarkan data akurat –fakta observatif dan bersifat teoritis- karena memang si Dona ga segitu isengnya mau maenan sama Ujangwati apalagi masukin tuh kutu ke kotak, ketemu aja ga pernah. :p

Ya sebenernya ini sebuah pengalogian aja. Yang pengen aku mark down di sini adalah sebenernya Ujangwati punya kemampuan meloncat setinggi 3 meter kan? Tapi karena dimasukkan ke kotak dia jadi menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Dia meloncat hanya setinggi kotak) Karena ada sebuah pernyataan juga, “Kita bisa berkembang sesuai dengan sejauh mana alam (lingkungan) mengizinkannya.” Ga tau deh tuh quot bener apa ga.

Begitu pula dengan manusia, jangan-jangan kita juga sedang meloncat (mengembangkan diri) di dalam kotak. Maka logikanya kita tak dapat berkembang secara maximal kan? Nah, yang harus kita lakukan sekarang adalah merangsek kotak pengungkung itu. Dan dapatkan diri meloncat setinggii mungkin di kolong langit ini. Jika kau bisa meloncat setinggi 300 meter, ya loncatlah. Bahkan jika kau bisa meloncat sampai menggapai bulan, do it! Lepaskan diri dari kotak yang membelenggu perkembangan potensi diri. Jika kotak itu adalah rasa grogi saat public speaking, ya lakukan tindakan penenangan, mungkin dengan bersemedi atau jogging-jogging dulu sebelum naik ke pentas. Jika kotak itu adalah rasa malas –paling sering menghambat!- maka mungkin bisa dengan membuat sebuah peta hidup sedetail mungkin –tujuan, target, misi, dll- sebesar-besarnya dan tempel memenuhi ruang pribadimu. (baca: kamar atau ruang kerja/belajar). Karena bisa saja dengan cara ini kita jadi terpacu agar tidak malas karena kita sadar bahwa impianmu sangat banyak dan hal-hal itu tak mungkin tercapai jika kau hanya tidur-tiduran (baca: malas-malasan) saja. Atau mungkin dengan memiliki motto hidup “Orang yang paling cerdas adalah orang yang senantiasa ingat mati.” Kita tak tau kapan kita akan mati, maka perbuat banyaklah untuk mengumpulkan bekal akhirat. Dan perbuat banyak dan bersegeralah bahagiakan orang-orang di sekelilingmu, apalagi orang tuamu, karena kita tak tau apakah kita sempat membalas budi mereka jika kita bersikap ntar-ntaran (baca: malas-malasan). Entah orang tua kita yang duluan menghadap Allah, atau justru malah kita duluan.

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk merangsek kotak pengungkung kita dan keluarlah untuk meloncat setinggi mungkin, jangan sampai nasib kita pun seperti Ujangwati yang naas tersebut. Kasihan oh kasihan.

Komentar

  1. betul sekali, hidup adalah perjuangan, siapapun orangnya harus berjuang sendiri untuk merubah hidupnya..jangan lupa berdoa dan berusaha.

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #4 : KPR

Day 1. Jakarta – Rantau Prapat : Aku Yakin Ini Ujung Dunia!