Merapi : Episode Ristiningtias


 “ Jangankan manusia sehat jiwa raga, yang sakit salah satunya pun senang jika dimanusiakan, dengan sebaik2nya…”
Tatapan matanya tidak seajeg gadis seumurannya, nanar. Tolah kiri dan kanan perlahan saja, tapi bukan perlahannya anggun atau santun, lebih lambat lagi. Senyumnya, pun responnya, anak kelas 4 SD pun bisa menyadari ada yang berbeda dengan dirinya.

“Mbak, boleh kenalan?” suara dan tepukan di pundak membuat saya menoleh kepada asal rangsang. Oh, gadis itu. Suaranya datar saja. “Boleh dooong. Aku Mulki, mbak siapa?” Saya : petakilan seperti biasa. Pengungsi yang lain; anak2, ibu2, sampe mbah2, begitu memperhatikan awal perkenalan kami. Ada yang berusaha memberi kode sesuatu, tapi saya tak berusaha menangkapnya, sepertinya saya sudah tau maksud mereka.

Saya banyak bicara dengannya. Walau berbeda, gadis itu masih bisa diajak bicara. Sekejap, saya merasa langsung kembali pada blok Psikiatri, ketika istilah2 kejiwaan dan gangguannya saya pelajari. Tidak perlu waktu lama untuk mengetahui ia adalah pasien psikotik. Ia merasa ada yang membuatnya senantiasa was2, ada yang mengajak ia bercanda (maka dilihat orang suka senyum2 sendiri), ada yang membuatnya anyel karena merasa tertular suka berkata kotor. Ada sesuatu yang ia dengar, ia rasakan, tapi orang lain tidak mendengar, juga tidak merasakannya. Dan dirinya terpengaruh, tidak dapat membebaskan diri dari sesuatu yang sebenarnya tidak ada itu (halusinasi, waham). Itulah psikotik.

Gadis itu merasa ada seorang Wid dan Lies, tapi tidak dengan orang lain. Wid dan Lies hidup dalam batinnya, mengajaknya bicara, mencandainya, dan menyuruhnya melakukan sesuatu. Ia yakin betul Wid dan Lies itu ada. Padahal sebenarnya tidak ada.  Tanda lain dari jiwa yang butuh “diterapi”, yaitu gangguan tidur, pun ada pada dirinya.

Tapi sekali lagi, gadis ini masih bisa diajak bicara. Ia menceritakan masa kecilnya yang pahit, diperlakukan buruk oleh teman2nya, kepalanya dimasukkan ke bak air lama sekali sampai ia megap2, lalu ditarik ke atas, lalu dimasukkan lama lagi, megap2 lagi, dst. Sampai merasa mau mati. Di rumah pun sering dimarahi oleh keluarga. Pun ia cerita tentang rasa mutung dengan dirinya sendiri karena sulit sekali mengikuti pelajaran di kelas. Ia pun mengungkapkan rasa tersinggungnya kepada ibunya ketika memasukkannya ke RSJ, betapa marahnya ia ketika di tempat asing itu dirinya diikat, betapa sebalnya ketika orang lain meyoraki ia punya kelainan.

Ia pun cerita, ia suka dengan majalah Trubus, maka ia ingin menjadi pengusaha tanaman. Ia senang dengan majalah Koki, maka ia ingin menjadi pengusaha kue. Ia bertanya, “gimana mbak cara berbisnis?” tapi olala… ia sangat takut dengan pisau. Alergi, katanya.

 Ia bertanya tentang korespondensi. Saya simpulkan ia ingin bicara dengan orang lain, ingin bercerita, dan tukar pikiran. Karena di kesehariannya, ia hanya di dalam rumah. Tak punya teman. Hanya ada mamak, mbah, dan 2 adik sepupunya yang masiiih kecil2. Ketika saya tanya dengan siapa ia biasa mengobrol, “dengan mamak, tapi aku suka dimarahin, dibilang punya kelainan dan kuper, kuper, kuper.”

Gadis ini sangat butuh dukungan dari sekelilingnya. Ia gadis baik, ingin mencari penghasilan sendiri untuk bantu sekolahkan sepupunya, ingin juga berbakti pada mamaknya, tidak ingin jadi durhaka. Ia butuh teman cerita, orang yang membimbingnya dzikrullah ketika ia was2, orang yang menenangkan ketika ia ingin bunuh diri karena putus asa, teman yang melipur laranya, dan menafikkan kekuperannya. Orang yang tak lelah meyakinkan bahwa Wid dan Lies itu tidak ada. Orang yang terus tanamkan untuk tidak usah hiraukan Wid dan Lies, jika memang ia belum bisa hilangkan sosok2 itu. Ia butuh orang lain dengan fungsi konselor… Pun yang tak henti mendoakannya. Siapapun. Mamaknya, sebayanya, atau siapapun. Lebih banyak lebih baik.

Tidak hanya orang yang memastikan ia minum obat antipsikotiknya; Haloperidol 2-5 mg, 1 sampai 3 kali sehari, atau chlorpromazine 100-200 mg,  1 sampai 3 kali sehari, dan obat antiansietasnya; lorazepam 1-2 mg, 1 sampai 3 kali sehari.

Ia butuh orang lain. Dengan perlakuan sebaik2nya.
Semoga sekembalinya ia dari pengungsian ke daerah asalnya, Cepogo, ia menemukan apa yang ia juga butuhkan…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #4 : KPR

Day 1. Jakarta – Rantau Prapat : Aku Yakin Ini Ujung Dunia!