Demanding Interviewee



Beberapa waktu lalu gue sempat menjalani beberapa tes dan wawancara kerja di sebuah dink**. Belum ada hasilnya sampai sekarang. Katanya sih akhir juni. Bener2 nothing to loose dulu kirim dokumen ke dink**, udah lama banget juga. Bahkan gatau sebenarnya ada open recruitment posisi DU atau ga di area itu. Kirim, kirim aja.. Eh, alhamdulillah dipanggil.


Dan kemarin dibilang, “ohya, kelengkapan dokumennya kurang ya, dok.” *grin*


Tes kompetensi berjalan biasa, psikotest juga biasa, tes komputer juga biasa -bahkan gue baru tau ada tes komputer pas pengawasnya bilang, “ya, psikotes sudah selesai. Sekarang kita tes komputer” *what, ngapain ya kira2?*


Nah, terakhir sesi wawancara. Kok ya kebagian wawancaranya langsung sama kepala umpegnya. *ga kenapa2 sih* Dan pertanyaannya langsung, “Dok, apakah siap ditempatkan di mana aja? Dalam artian, di seluruh bagian ((dia nyebut daerahnya))?”
Dan jawaban gue adalah... Muter2 diplomatis, yang bisa disimpulkan adalah “Nggak. Gamau yang jauh, yg deket rumah aja.”


Selanjutnya pertanyaan2 standar wawancara kerja sepertinya; seperti karakter diri, pengalaman organisasi, pengalaman kerja, pertanyaan2 manajemen konflik, keBPJSan, pendapatan (??), dan saudara2nya...


Dan pertanyaan yang gue tunggu2 ternyata datang juga, “Dok, kalau bekerja dalam shift gimana? Keberatan ga?”
Akhirnya gue terpaksa berdiplomatis lagi deh. Bahwa “preferensi saya adalah non shift, pak :)”

Ngobrol2 panjang afterwards dan akhirnya ditutup wawancaranya.


Duhduh.. Mohon maaf pak umpeg kalo saya ini demanding sekali. We will see.

Kalo memang kebutuhan dink**, ke-demanding-an gue, dan izin Allah beririsan ya bisa lanjut. Kalo enggak, ya enggak. Hehe. Begitu kan?


Dan tebak, berapa DU yang dipanggil buat ikut tes kemarin? Ada 16 DU yang lain, selain gue. Dan tampaknya mereka ga demanding kaya gue.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR