Buat yang Suka Stress

“Ngerjain soal karvas barusan, bisa2 bikin cardiac respiratory arrest.” Itu komentar salah satu teman saya, sambil berlalu keluar ruang ujian. Baiklah, soal karvas di sini maksudnya adalah soal ujian blok kardiovaskuler (system pengangkutan tubuh, yang terdiri dari jantung sebagai pompa, pembuluh darah yang bertindak sebagai pipa, dan darah sebagai cairan yang dipompa dan dialirkan). Ngerjain soal karvas lantas bisa henti jantung? Ya, walau lebay, tapi apa sih yang ga mungkin? Bayangkan saja, 80 soal kasus-sekali lagi, kasus- mesti dikerjakan dalam waktu kurang dari 100 menit. Belum lagi mengisi data diri dan menghitamkan jawaban, untung saja saya ga lupa bernafas.

Jika dulu kardiovaskular dengan cardiac respiratory arrestnya, musculoskeletal dengan kifosisnya, dan kini kembali saya menemukan fenomena bahwa mempelajari suatu system, bisa menjadi salah satu factor risiko dari kondisi patologis system tersebut (pernyataan ini tidak ilmiah, jangan sekali2 dijadikan rujukan. Heheh).

Sekarang, saya sedang berkelana di blok Gastrointestinal Tract (GIT : saluran pencernaan) dan kenyataannya saking banyaknya materi yang mesti dipelajari (ga mesti sih, sebenarnya bagi yang mau aja. Heheh...), ada beberapa teman yang dilarikan ke medical center dan kemudian didiagnosis gastritis oleh dokternya. Yang saya pelajari, diagnosis gastritis tuh ga segampang itu. Gastritis bukanlah gastritis jika tidak disertai erosi mukosa lambung. Nah, taunya ada erosi apa ga, maka perlu pemeriksaan gatroendoscopy.

Baik, gastritis adalah nama lain dari radang mukosa lambung. Jadi ga hanya tenggorokan aja yang bisa radang, teman. Hal ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara faktor agresif lambung dengan faktor defensifnya. Sindrom dispepsia menjadi keluhan dari pengidap gastritis. Apa saja? Mual, anoreksia, banyak sendawa, atau keluhan yang lebih berat seperti nyeri epigastrium (tau letak lambung, kan? Nah, di situ nyerinya), muntah, perdarahan saluran cerna berupa hematemesis (muntah darah) dan melena (BAB bercampur darah, tapi berhubung darahnya sudah dilisis, jadi warnanya cokelat/ hitam, bukan merah).

Sebenernya ga hanya anak FK aja, kok, banyak mahasiswa, siswa, atau orang2 yang sudah bekerja pun pernah, bahkan sering, mengalami keluhan seperti yang sudah saya ceritain. Bagi kalian yang suka stress karena mikirin ujian, laporan, syuro’, atau mikirin bapaknya (maksudnya bapak dari anak2nya kelak. Heheh, bercanda. Maaf2), kebanyakan ngerasa jadi malas makan, kan? So, ga ada intake ke lambung. Padahal saat stress, saraf parasimpatis yang bertugas meningkatkan fungsi pencernaan itu meningkat, baik kontraktilitas maupun sekresi kelenjarnya. Termasuk HCl. Kita sama2 tau HCl itu sifatnya korosif terhadap mukosa lambung dan semua jaringan hidup lainnya. Dengan ga adanya intake makanan, ditambah produksi HCl yang meningkat (ada peran pepsin juga nantinya), plus fungsi defensif lambung yang menurun, maka bisa banget bikin makin tingginya kemungkinan gastritis.

Makanyeee, ga usah stress2, Pak, Bu... ga baik untuk kesehatan. Heheh. selain bikin gatritis, banyak lagi, loh, efek jelek stress, termasuk salah satunya hipertensi. Kalau di gastritis, saraf parasimpatisnya yang terangsang, kalau di hipertensi, saraf simpatisnya yang berperan. Ah, sudah, lupakan. Baca lanjutannya, malah bikin stress nanti. Heheh.


Hayo, yang lagi atau akan ujian. Jangan sampe stress, yah! Pun jangan lupa makan. Jangan lupa tidur. Jangan lupa tilawahnya. Jangan lupa berdoa dan saling mendoakan. Dan yang ga kalah penting, jangan lupa mandiii.

Komentar

  1. sama ga sih sama sakit maag?

    BalasHapus
  2. Pesan Umi mulki:
    Ketika manusia menjalani kehidupan, berbagai keinginan dan harapan selalu menghinggapi diri manusia. Stress terjadi, bila ada kesenjangan antara keinginan pribadi dengan kenyataan yang ada (kehendak allah). Obat stress adalah ridho dengan kehendak Alloh. "Ala bidzikrillah tath'mainnul-qulub".

    BalasHapus
  3. tuuuuuuullll.... cekali
    saya sampai pernah berpendapat
    1."STRESS" is sumber banyak penyakit
    2. ada tipe dokter yang lebih mirip doukoun cuz bisa diagnosa tanpa banyak periksa
    bener nggak kak?

    BalasHapus
  4. @ anonim smuanya ;D

    heheh, anamnesis (wawancara pasien-dokter) itu emang bisa bikin dokter punya 80% diagnosis.

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #4 : KPR

Day 1. Jakarta – Rantau Prapat : Aku Yakin Ini Ujung Dunia!