Dr. Iskandar Zulkarnaen, Sp.A (K)

Bias. Mungkin ekspresi itu yang saya lihat jika saya bercermin ketika itu. Everything has come to an end. Kali ini bukan tentang perpisahan sepasang kawan demi rendaan cita2, bukan pula tentang berakhirnya pelayaran kasih sepasang suami istri, tapi perpisahan dengan alam dunia untuk sebuah alam yang baru.

Selain para keluarga, dr. Mustarsid, Sp.A mungkin adalah pihak yang paling berduka atas dipanggilnya sejawat terdekatnya, (alm) dr. Iskandar Zulkarnaen, Sp.A (K). Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Dr. Is telah selesai menunaikan tugas2nya di dunia. Menyembuhkan para pasiennya, menjadi panglima SMF Anak RSUD Dr. Moewardi, memberikan lecture kepada mahasiswanya, menginfokan update-an ilmu pediatri terutama subbagian asma bronkial, menjadi suami terbaik untuk istrinya, menjadi ayah juga kakek teladan bagi anak cucunya.

Memang saya belum pernah diajar langsung oleh dokter sepuh yang ramah ini, tapi saya telah memiliki banyak kesan baik tentang beliau. Saya amat menyukai tawanya! Renyah dan meneduhkan. Benar.

Perihal kesibukannya, wah, jangan ditanya! Saya pernah ditolak berkali2 untuk bertemu. Pertama di kampus, ”apa lagi? besok siang saja, langsung temui saya di RS.” kenapa saya, mahasiswa yang masih berilmu secuil, bisa berurusan dengan orang sepenting beliau? Amanah sebagai PJ ilmiah sebuah acara simposium nasionallah yang memberi saya kesempatan banyak berdialog dengan banyak dokter full competence seperti beliau. Jadilah saya sering bolak-balik SMF Anak Moewardi untuk sekedar konsultasi atau menyerahkan TOR materi.

Selain beliau, sekretarisnya pun mulai hafal dengan saya. Karena beliaulah yang mau ga mau ngajak ngobrol saya sambil menunggu giliran menghadap dr.Is. Pernah, suatu hari, saya telah memupuk harap bisa bertemu dr.Is lebih dari 1 jam. Saat itu sedang ada co-Ass yang prekas (presentasi kasus), tapi begitu para co-Ass selesai, ketika saya masuk ruangan dan mengucap salam, ”Wah, mau apa lagi? Besok saja ya datang lagi kemari.” pecah sudah uap harap yang sudah membumbung lebih dari 1 jam itu. Pasti beliau sedang diburu pekerjaan yang lain.Walau hati saya sudah mawut banget, saya harus mengerti, ”baik, dok. Besok saya kembali lagi. Kira2 pukul berapa dr. Is punya waktu luang?”

Saya begitu menyukainya. Walau memang beliau adalah dokter paling susah saya temui dalam proses dealing simposium, tapi sikapnya yang ramah, segar, dan tawanya yang renyah sudah cukup mengobati dan membayar sekian waktu yang sudah coba saya korbankan. Tidak segan beliau berbagi tentang ilmunya, tentang kabar terbaru di bangsal anak, tentang perkembangan asma bronkial terkini, tentang tips jitu mencari dr. Mustarsid kalau tidak menemukannya di ruangan atau di bangsal, yaitu di mushola, heheh. urusan pokok saya sebenarnya bisa selesai dalam 10 menit saja, tapi bisa 1 jam saya habiskan mengobrol dengannya. Itu kalau beliau sedang luang! Kalo tidak? Ucapan khasnya, ”apa lagi? Besok saja kembali lagi.”

Tiba2 saya kangen banget dengan dr. Is, dokter hebat tapi too humble. Unique, bagaimana tidak? Beliau datang ke acara simposium nasional, sebagai pembicara, dengan memakai stelan jas rapi, tapi berkendaraan mobil vw kodok! Warna hijau pula. Tidak habis saya tersenyum kala menyambut beliau di pintu masuk Puri Kencono, Hotel Lor In.

Banyak mahasiswa yang kaget ketika saya menjarkom berita duka ini. Begitu banyak orang tua maupun muda yang sendu wajahnya ketika ta’ziah untuk terakhir kali melihatnya, berniat memberi penghormatan terakhir. Saya amat merindukanmu, dok! Seperti baru kemarin saya mendengar dirimu berkata, ”Hebat kamu, Nak.”

Semoga engkau diberi alam kubur yang lapang dan terang.
Semoga malaikat kubur pun berlaku lembut kepadamu.
Semoga ilmu bermanfaat yang telah kau jariahkan kepada mahasiswamu menjadi salah satu yang bisa memberatkan amal kebaikanmu di hadapanNya.

Sekali lagi kau mengajariku, dok. Tidak hanya tentang bangsal, tentang aktivitas kehidupan, tapi kau pun mengajariku untuk mengingat kematian. Jadi ingat perkataan Rasulullah, ”Orang yang pandai adalah orang yang menundukkan dirinya dan beramal sebagai bekal sesudah mati.”

Saya yakin kau pun memilih Tuhanmu, seperti dulu pun Rasulullah memilih Rabbnya, peristiwa ini adalah spesial untukmu. Seperti yang telah Rasulullah katakan, ”hadiah bagi orang mukmin adalah kematian.”


Terakhir, saya ingin mengatakan, ”I’m Proud of You, Dok! Prestasimu telah terukir, kontribusimu telah mengalir. Semoga Allah merahmatimu dan menerima segala amalanmu.”

Komentar

  1. Tenangkan hatimu mbak....
    Sabar ya...
    Seperti katamu: "Gugur satu tumbuh seribu"

    BalasHapus
  2. iya dek,,,
    rasanya baru kemarin ya,, kita konsul sama beliau, mendengarkan pengarahan, wejangan, sampai cerita tentang pasien-pasien beliau,,
    mbak jadi ingat kejadian di rumah dr. is waktu mengantarkan TOR dan Jadwal acara simposium,,

    yah, semoga beliau mendapat tempat kembali terbaik..
    dan semoga kita semua bisa meneladani beliau,,,

    benar-benar salut,, dokter hebat,,, dokter yang ramah,,,

    BalasHapus
  3. @icha B: makasih ya, tetangga kamar.. masih sedih nih. kangen dr. Is!

    @mba ariana: iya, mbaaaaak. aamiin ;D subhanallah dr. Is punya banyak fans... yang merasa sedih ditinggalkan. itu karena smua tau, beliau orang baik!

    BalasHapus
  4. ih, ngomongin orang udah meninggal... kpn pulaang?

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #4 : KPR

Day 1. Jakarta – Rantau Prapat : Aku Yakin Ini Ujung Dunia!