Less Your Sleep Time

Baik. Kembali bertemu dengan exam. Memang begitu. 3 weekday, dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, saya ngampus. Entah tutorial, entah kuliah, skill lab, field lab, atau praktikum. Ditambah lagi pretest yang biasa dilaksanakan jam setengah 6 pagi, atau tentiran yang benar2 akan memakan waktu sampai maghrib. Memang begitu. Terus dan teruuuss. Setelah menjalani 3 minggu yang, well, melelahkan, sampailah di minggu terakhir, yaitu minggu ujian. Dan begitu sampai di H-1 ujian, selalu merasa, ”oh, again! i have not prepared, yet. At all.” Mungkin memang saya yang salah, tapi begitulah!

Kemana waktu malam2 saya? Dont you know, dalam seminggu setidaknya saya harus menyelesaikan 3 laporan (belum lagi kalau dapat refrat). Kalau besoknya ada praktikum, saya mesti bersuntuk ria dengan ngonsumsi dopingan untuk menghadapi pretest (walau judulnya pretest, sungguh ga bisa disepelekan). Kalau besok ada tutorial, setidaknya mesti taulah apa yang mau saya sampaikan besok. Kalau besok ada skill lab, ada buku rencana kerja yang harus dibuat. Dan kalau-kalau yang lain. Begitu menyenangkan! (saya harap, saya tulus mengucapkannya). Belum lagi, tugas2 lain dan belajar2 lain yang tidak bisa saya tinggalkan tersangkut status saya sebagai mahasiswa yang juga ingin berkontribusi.

Okelah, itu excuse pengecut atas semua ketidaksiapan saya di tiap ujian. Sama sekali tidak gentle(wo)man. Jadwal membaca slide kuliah pun kembali tidak saya tepati. Terus begitu, dari semester satu, hingga kini saya di semester genap tahun kedua kuliah saya. Dengan kata lain, payah.

Kebiasaan kebut semalam yang sudah saya niatkan buang jauh2 terus menggelayuti setiap ujian. Apakah memang saya yang tidak bisa belajar dari yang telah lalu? Jawabannya, mungkin, emhh, jelas iya.

Rasanya memang tidak pantas saya menikmati waktu istirahat seperti mahasiswa2 lain. Mungkin inilah, waktu tidur saya lagi2 harus saya potong, saya korbankan. Agar ketidaksiapan menghadapi ujian seperti yang telah saya alami selama 4 semester ini bisa tergantikan dengan pernyataan ”saya siap ujian!” Oh, honey. I’m not going to be sorry again.


Berkorban belumlah berkorban sehingga ada bagian dari diri kita yang rasanya berkurang. Demi prestasi saya. Demi kontribusi saya.

Komentar

  1. kalo bahasa anak2 psikologinya:

    don't procrastinate...

    ah, susah sekali untuk cinta dgn kata2 tsb.

    BalasHapus
  2. umi mulki berkata:
    Umi punya dan baca buku: "124 kiat manajemen waktu". Disitu dicontohkan orang-orang yg sukses memenej waktu. Sampai-sampai soal makan, dia hitung waktunya, lebih memilih roti basah krn lebih hemat waktu. Sisa waktunya digunakan untuk hal yg bermanfaat. Lakukan POAC: Planning,Organizing, Actuating and Controling. Orang yg sukses dan beruntung spt tercantum dalam Q:103(Al-Ashr):1-3

    BalasHapus
  3. @kak tyo: tenkyuw, boss.

    @umi: loh, itu bukannya buku mulki, yah? heheh.

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR