Muamalah Ala Lidah


Kawan, kita kali ini membicarakan lidah. Sepele kan?
Dia sering tidak terlihat dari luar, tapi nyata sekali fungsi dan perannya. Dan segala mekanisme kerjanya ternyata sangat berimpitan dengan pesan arif tentang muamalah, interaksi sosial, dan kepercayaan. Lanjut bacanya, yah?

Indra pengecap tidak punya indra khusus layaknya indra-indra lain. Seperti Choclea pada pendengaran, Vestibulum (Utrikulus,Sacculus) & Canalis Semicircularis pada keseimbangan, Serabut Olfaktorius untuk Penghidu, dan indra lainnya.

Indra pengecap hanya berupa PAPIL2 RASA (TASTE BUD) yang menempel pada organ lain; yaitu lidah. Saya menangkap kesan tulus tanpa pamrih. Untuk berperan besar itu tidak perlu tampak diri. Tidak juga perlu berposisi tertentu. cukup dengan kita berbuat. Seperti layaknya taste bud yang tulus memberikan rasa nikmat bagi manusia.

Saya jadi ingat penyampaian dari salah seorang sahabat Nabi yaitu Fudail bin Iyadh, “jika bisa menjadi orang yang tidak dikenal maka lakukanlah. Apa ruginya jika kita tidak dipuji di hadapan manusia tetapi terpuji di hadapan Allah? Apa ruginya jika kita tercela di hadapan manusia tapi terpuji di hadapan Allah? Dan betapa ruginya ketika dipuji di hadapan manusia tetapi tercela di hadapan Allah…”

Indra pengecap kita berupa papil kecap (taste bud) yang terdiri dari sel-sel kecap, sel pendukung, dan sel saraf. Tokoh utama kita kali ini adalah SEL KECAP (sel gustatoria). Dia merupakan reseptor khusus yang menerima rangsang zat kimia. Sel kecap itu terletak di punggung lidah, makanya jika kita meletakkan makanan di bawah lidah, kita tidak merasakan rasa apapun.

Semua Reseptor bisa menerima rasa, tetapi pada letak yang berbeda.
• Rasa Manis, terletak di ujung lidah
• Rasa asin, terletak di lateral (samping) depan
• Rasa asam pahit, terletak di lateral (samping) belakang
• Rasa Pahit, terletak di belakang.
Ada yang kalian sadari tidak, kawan???

Ya, ternyata rasa itu makin ke belakang, makin tidak disukai. Paling depan itu manis (paling disukai), kemudian dilanjutkan asin (gurih, relatif disukai), kmudian asam (agak kurang disukai) dan paling belakang itu pahit (paling tidak disukai).

Coba jika pahit itu ditaruh di depan, pasti tidak ada yang bisa nyaman untuk makan, dan imbasnya adalah nafsu makan turun dengan akibat lanjutnya adalah kesehatan yang tidak optimal.

Apa yang bisa kita petik?
Ternyata dalam bermuamalah juga seperti itu. Untuk keindahan berukhuwah, maka TAMPILKANLAH SIKAP PALING MENYENANGKAN PADA GARDA TERDEPAN POLA SIKAP KITA. Nuansa manis menjadi tampilan terluar kita dalam berinteraksi. Berusaha menjadi pribadi yang menyenangkan untuk saudara2 kita.

Kita juga sebisa mungkin TEMPATKAN SIKAP BURUK KITA SETERSEMBUNYI MUNGKIN. Memberi tabir serapat mungkin, sehingga setiap orang di sekitar kita tidak sampai menyadari dan terganggu oleh sikap buruk yang sebenarnya kita miliki.

Subhanallah. Indah bukan? ^_^
 ---------------------------------------------------------------------------------------------------

Okay, kita masih belajar dari lidah ;) lanjut, yah?

Hm... Pada dasarnya semua reseptor itu akan menerima semua rasa yang masuk ke mulut, tapi semua akan bereaksi sesuai dengan perlekatan reseptor dengan zat kimia rasa itu. Jadi rasa itu menyebar merata, hanya saja punya porsi berbeda-beda. Faham, kan? Afwan, sedikit belibet. Jelasnya lanjut dulu bacanya ;)

Rasa manis itu memiliki porsi terbesar. Maksudnya porsi terbesar adalah setitik rangsang manis yang sedikit biasanya belum cukup membuat rasa manis itu terasa oleh lidah kita. Harus dengan jumlah yang banyak, baru rasa manis itu akan muncul..

Ini disebabkan oleh karena rasa manis itu umumnya DIMILIKI OLEH SUMBER ENERGI. Jadi dengan rasa manis yang harus dirangsang dengan jumlah banyak, akhirnya mau tidak mau, energi yang sangat kita butuhkan juga masuk dalam jumlah banyak. Subhanallah….

Hal di atas ternyata sangat seseuai dengan gambaran sikap manusia. Sikap manis dan baik umumnya belum cukup berkesan kepada seseorang. Baru ketika terus menerus dilakukan, dan biasa, tumbuhlah respon positif berupa rasa terima kasih, senang, kasih, sayang, dan bahagia. Jadi agar rasa manis itu muncul, kita jadi dituntut untuk memelihara sikap utama kita, menjaga sikap terbaik kepada lingkungan di sekitar kita. Tidak hanya sekali dua kali kita harus berlaku hasan (baik), tetapi di manapun, kapanpun, kita dituntut untuk melestarikan itu jika kita ingin mendapatkan perlakuan yang hasan pula dari masyarakat di sekitar. Sepakat?


Rasa asin di lidah terletak sedikit di belakang rasa manis. Rasa asin relatif lebih disukai (identik dengan zat elektrolit yang dibutuhkan tubuh, gurih). Porsi rasa asin juga relatif cukup besar. Filosofi ini kurang lebih sama dengan rasa manis di atas.


Rasa asam di lidah terletak sedikit lebih ke belakang rasa asin. Rasa asam relatif kurang disukai karena identik dengan sifat iritatif dari rasa asam itu. Porsi yang dibutuhkan rasa asam sudah mulai kecil. Sedikit rangsang asam masuk, kita sudah langsung merasakannya, dan bisa dengan cepat mengeluarkannya. Ini menguntungkan bagi tubuh. Dengan sifat itu, tubuh jadi sedikit terlindung dari sifat negatif iritatif asam tadi

Hal ini juga sesuai dengan gambaran sosial manusia. Sikap jelek itu kadang cepat sekali dirasakan oleh lingkungan kita. Walaupun intensitasnya kecil. Hayyo, iya apa iyaaa?

Ini yang terakhir. Rasa pahit itu terletak paling belakang. Rasa pahit memiliki kebutuhan porsi yang paling kecil. Sedikit saja rasa pahit masuk, lidah langsung merasa tidak nyaman dan mengeluarkannya.

Ini sangat menguntungkan bagi tubuh, karena rasa pahit itu identik dengan zat-zat toxic. Coba jika rasa pahit membutuhkan porsi besar, dan coba bayangkan jika rasa pahit baru bisa kita rasa jika rangsangan yang masuk sudah cukup banyak, berarti tubuh kita sudah terlanjur kemasukan zat-zat toksik dalam jumlah banyak dan kita terlambat meresponnya. Ketika toksik sudah masuk, efeknya susah dihilangkan.

Hal inilah yang harus diperhatikan. PERBUATAN YANG MENYAKITKAN. Perbuatan yang menyinggung lingkungan kita, akan langsung terasa dan berkesan dalam. Walaupun sikap itu hanya kita lakukan sekali saja. BAYANGKAN SEKALI SAJA!!!!

Sekali kita melakukan hal buruk, hal itu akan langsng terasa seperti halnya rasa pahit yang langsung terasa dalam lidah walau dalam jumlah kecil.

Walaupun kita sudah meminta maaf, efeknya akan susah hilang dalam hati orang2 yang kita sakiti seperti halnya efek toksik yang terlanjur masuk dan merusak tubuh kita….

Subhanallah.
Allah menitipkan pesan agung dan ternyata Dia letakkan begitu dekat dengan kita.
Mengapa kita tidak menyadarinya…???
Menjadi insan yang utama tidaklah mudah,
tapi minimal kita mulai dengan berlaku utama.

Utama dalam sikap.
utama dalam ukhuwah.
utama dalam muamalah.

Komentar

  1. Firman Allah SWT : " dan di dalam dirimu, apakah engkau tidak memperhatikan ? ". Benar2 semua ciptaan Allah membawa pesan kesempurnaan.
    Btw, kalo kita sudah bisa menganalisa 'hikmah' dan 'inspirasi' dalam setiap benda dan peristiwa, insya Allah siap jadi penulis ... tetap semangat blogger dakwah !!

    BalasHapus
  2. trm kasih, ustadz :) belum kontinu dan PD, ustadz :)

    BalasHapus
  3. keren.

    *kasih jempolnya gimana ini?

    BalasHapus
  4. @kak penggalih: ciee... yang mau bikin buku :)
    @kak ichsan: ayoooo, updateeeee....

    BalasHapus
  5. lagi sibuk apdet skripsi :P..
    hwahaha...

    BalasHapus
  6. subhanallah,, semua ciptaan Alloh memang tidak ada yang sia-sia,. jzkllh atas tulisannya,.ana kutip bwt tugas laporan.. maju terus tuk cari hikmah dibalik penciptaan-Nya.

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #4 : KPR

Day 1. Jakarta – Rantau Prapat : Aku Yakin Ini Ujung Dunia!