Jadi Dokter=Baik. Jadi Dokter yang Menulis=Lebih Baik


Dunia kedokteran itu seni. Membicarakan ilmunya tak mesti sepasti matahari. Ketika ada orang2 yang menuliskan sosok dunianya, itulah susastra sebuah ilmu. Banyak yang terasa bisa dituangkan, namun tak semuanya perlu diungkapkan. Karena tidak semuanya tanpa pagar, tidak pula tanpa bingkai. Soal moral dan rahasia yang belum tentu selalu berkenan di hati pasien.

Profesi dokter lebih dari sekedar montir. Manusia bukan hanya mesin tubuh, ia juga bisa menangis, punya keyakinan, boleh kecewa dan merasa jengkel. Maka sebagai montir, pekerjaan dokter dilarang sambilan. Bukan seperti tukang cukur, yang boleh memangkas sambil bersiul, atau melamun. Sikap dokter diminta tetap hormat pada kehidupan. Menaruh penghargaan kepada semua insan. Dokter yang menulis dunianya juga soal hitam atas putihnya mesin manusia yang bisa merasa tidak nyaman.

Menulis bagi seorang dokter berarti sumbangsihnya kepada lebih dari satu pasien di kamar praktiknya. Dokter yang menyimpan mimpi ingin mencerdaskan pasien, masyarakat, dan bangsa itu idealisasi yang mesti diwujudkan. Belum dilarang menjadi dokter yang menuliskan apa2 yang diketahuinya, terpetik dari praktik kesehariannya, dan memuat sekujur jam terbang profesinya kalau cita2nya demi sepenuh2nya kepentingan terbangunnya kesehatan orang banyak.

Betapa mulianya dokter menambah wawasan pasien. Dengan menulis ada ribuan, ratusan ribu, mungkin jutaan pasien lain di luar kamar praktik yang diuntungkan. Pasien yang tercerahkan, bahkan betapa elok jika itu yang diperoleh pasien sejak masih di awal2 kehidupan. Berkat yang terbayar dengan apa pun, karena dengan membaca ”dokter”, pasien, masyarakat, dan bangsa dikuatkan sepola dan segaya hidup yang pernah dokter lakukan dan ucapkan.

Menulis juga pekerjaan menata pikiran. Bagaimana sistematika berpikir dilatih, begitu mengalir sosok tulisan. Karena menulis menuntut kejernihan berpikir. Satu potong manfaat terpetik dari sana. Apabila itu terjadi pada profesi dokter, alangkah indahnya.

Menulis segala sesuatu ihwal keilmuan dalam khasanah kedokteran, berarti lebih mendekatkan jurang kompetensi dokter-pasien. Bangsa yang sehat juga lahir dari pergaulannya dengan banyak dokter yang membiasakan diri menuliskan apa2 saja tentang ilmu di bidangnya dan pernik pekerjaan profesinya. Manakala masyarakat kita masih jauh dari sehat, ketika sekarang human development index (HDI) kita masih di papan bawah, dibutuhkan lebih banyak dokter yang pengetahuan maupun pengalaman profesinya.

Karena dengan menulis berarti menyuluh. Menulis juha berarti membangun komunikasi, informasi, dan edukasi. Ketika paradigma birokrat cenderung memberikan lewat kebijakan perawatan kesehatan, rumah sakit gratis, obat murah, dan makanan tambahan bagi yang kurang gizi, dengan menulis, dokter telah memberi kail dan bukan lagi ikan.

Maka agar menjadi lebih baik, belum keliru kalau masih menjadi dokter yang juga (suka, hobi, gemar, doyan) menulis, selain hanya pintar menulis resep belaka.


-tapi masih belum berani nulis tentang dunia ini (kedokteran, red). Padahal usefull banget, munkin buat pembaca, pastinya buat diri saya sendiri. Semoga saya segera mau dan PD untuk memulai nulis dunia "ini", tanpa mesti menunggu sumpah dulu-

Komentar

  1. Cepetan aja, daripada ntar duluan saya loh. April nanti InsyaAllah diriku launching blog baru, seputar dunia kesehatan. INi lagi ngumpulin naskah, biar ntar langsung isinya banyak, hehehe...

    BalasHapus
  2. btw, saya malah gak pintar nulis resep..hehehe

    BalasHapus
  3. @dr. afie: ya gpp, dok. sy liat dokter dulu deh, sbg contoh gmn blog kedokteran yg bagus. heheh.

    @dr.ala: ah, merendah saja nih...heheh.

    BalasHapus
  4. ayo,,,, nulis yuk,,,, biar bisa saling berbagi dengan orang lain,,,

    BalasHapus
  5. hehehehe...

    hahahaha..

    ibuk ini dokter tah..??

    hwehehehe..

    gut..gut..

    i like it..

    tar lo aq sakit. konfirmasi ke ibuk aja yaaa..

    ngemeng2 dokter apa nee..?

    ^^

    BalasHapus
  6. Jadi Dokter yang Menulis=Lebih Baik, kl profesi lain gimana?

    BalasHapus
  7. @sari:profesi lain juga lebih baik, krn yang punya blog ini dokter ya nulisnya dokter yang menulis, gituh kali ya?
    eit, sorry buat yg punya blog, lancang njawab komentar orang..hehehe

    BalasHapus
  8. wah...gaswat...beban ni..beban...:p

    BalasHapus
  9. @arief furqon: setuju, qon :D nulis buat al-irfan juga, yak.. heheh.

    @jathoe: sy belum jadi dokter, pak. masih mahasiswa semester 3. doakan cepat jadi dokter yah biar sampean bisa cepat konsultasi dgn saya. heheh.

    @sari: sudah dijwb oleh dr.Ala. heheh, maaf yah.. guru yg menulis lebih baik, arsitek yg menulis lebih baik, dll.

    @dr.Ala: thanks yah, dok, sudah dibantu. ga bisa online tiap hari ni masalahnya. heheh.

    dr.Afie: hahaha, kok beban, dok? dilaksanakan sjlah... heheh.

    BalasHapus
  10. mulki wrote:
    @arief furqon: setuju, qon :D nulis buat al-irfan juga, yak.. heheh.


    bener ya? kongkrit ya,,,, jangan ngomong doang (hehe,,, peace),,, ditunggu juga tulisannya di irfanmagz dan www.yai8.org

    BalasHapus
  11. @arief: ah, malu saya. yang nulis di situ sekaliber ente siiiih. saya sih mental :D

    BalasHapus
  12. blom dicoba udah mental duluan

    BalasHapus
  13. mul
    aku setuju...........

    terus menulis..........

    BalasHapus
  14. TFS Mulki, tipsnya oke banget.
    Kalau dicoba utk MaGaMa (Mahasiswa Agak Lama) jg boleh ya =)

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #4 : KPR

Day 1. Jakarta – Rantau Prapat : Aku Yakin Ini Ujung Dunia!