Rumah #1 : Rencana

Rencana Allah vs Rencana kita

Aku termasuk orang yang mengimani :
“Rencana Allah adalah rencana yang terbaik.  Selalu yang terbaik, karena Ia adalah kombinasi dari Maha Tau dan Maha Penyayang. Di satu sisi, Ia ga pernah salah- ga pernah tidur-  dan tau segalanya. Di sisi yang lain, Ia Maha Penyayang; selalu baik dan ga mungkin nakalin, ngisengin, apalagi jahatin hambaNya.”  

Makdarit.. Jika rencanaNya precisely match dengan rencana kita, bersyukurlah.
Namun jika rencanaNya berbeda dengan rencana kita, yuk lebih, lebih, dan lebih bersyukur lagi.

Loh, kenapa? Kok gitu?
Karena aku yakin, sebenarnya kita sedang diamankan dari apa2 yang buruk jika rencana kita itu justru malah kejadian- yang kita gatau apa- yang di luar perhitungan kita.
Atau karena kita sedang dianugerahi apa2 yang jauh lebih cocok untuk kita – yang akal kita kadang suka ga nyampe – yang sering di akhir2 kita malah ngucap “Alhamdulillah.. blessing in disguise euy.”  

♥ Misalnya maskodok.  

Ketika ditarik ke Jakarta tahun 2010, ia awalnya sempet KZL *bahasa gue kurang gaul apa lagi cobak? Ahahah*

Kenapa KZL?
Karena ia mikir, ia bakal ga bisa menikmati segarnya ikan Indonesia timur setiap hari lagi, udah gitu... pasti jadi ga bisa sering2 diving lagi, dan yang paling bikin ia males adalah ia jadi harus repot2 berjibaku dengan kusut masainya jalanan ibukota.

Tapi sebenarnya – ditariknya ia ke Jakarta itulah awalan ia bisa seriiing banget menjadi tokoh utama atau sebab utama dari tulisan2 alayku di blog ini. Muehehe. Dan kebahagiaannya kini berlipat ganda, for sure. Tanya aja.  

♥ Dan misalnya maskodok (lagi).  

Masih di tahun yang sama- 2010, mas kodok ada rencana membeli rumah di kawasan bintaro sektor 9. Dan seperti pada umumnya, orang muda yang menapaki hidup dari nol *bukan anak ningrat dan ga punya pohon duit* pasti akan habis2an bahkan minus2an ketika fase membeli rumah, apalagi rumah di kawasan Bintaro *cry*.

Dan bakal begitu pula maskodok.

Beliau gamang. “Kalo gue beli rumah sekarang, pasti gue abis2an banget. Padahal gue juga pengen nikah. Tapi kalo gue abis banget, gue ga pede minta anak orang buat jadi istri gue. Bakal gatau deh kapan gue bisa nikahnya. Duh.. Beli rumah dulu atau nikah dulu, ya?”  

Tapi karena waktu itu maskodok belum ketemu calon istri, *calonnya masih sibuk ngupil di pinggiran bengawan solo* lojiknya bilang.. “wes.. beli rumah siklah.”

Maka dilaluilah tahap2 untuk membeli rumah di tahun tersebut. Tapi dirasa2… kok terjal, ya? Kok tenaganya ga cukup, ya? Kok anu, ya? Kok itu, ya? Lantas… maskodok ga jadi beli rumah. Gagal. Dan ga jadi abis2an.  

Long story short, Alhamdulillah maskodok nikah di tahun 2011. Pertanyaannya dulu terjawab; ternyata beliau nikah lebih dulu, baru kemudian (in syaa Allah) punya rumah. Setelah menikah, maskodok dan istri bersepakat untuk berusaha daftar haji dulu, sebelum yang lain2. Karena mereka menganggap haji itu wajib bagi yang (berusaha) mampu, sedangkan rumah-mobil-dkk itu ga wajib.  

Maka, mereka berencana untuk memiliki rumah di tahun keempat pernikahan mereka. Selain karena alasan di atas, mereka berdua pun masih mencar2, dan dananya juga masih mencar2. In syaa Allah semua akan terkumpul di tahun ke empat pernikahan.  

Tapi rencana Allah kembali berkata lain. Di tahun ketiga pernikahan, justru Allah memberi maskodok hak kepemilikan atas sebuah rumah. Lebih cepat dari rencana maskodok dan istri. Bahkan rumah yang didapat pun beyond dari harapan mereka berdua. Alhamdulillaah…   Alhamdulillah.. Alhamdulillah...

Percaya deh.. “Jika emang hal itu penting buat kita- jika hal itu yang terbaik buat kita- jika hal itu sesuai dengan kebutuhan kita- jika hal itu cocok buat kita, in syaa Allah kita bakal nemu cara- nemu jalan- nemu aja kuncinya, walo si kunci itu ketelingsut di tumpukan jerami- yang jerami itu berada di dalam gudang yang terkunci juga . Haha. *mumet yak?* Tapi jika bukan yang penting- bukan yang terbaik- bukan yang kita butuh- atau bukan yang cocok, yang bakal kita temuin adalah hambatan, hambatan yang lebih besar, dan hambatan yang lebiih besar lagi."

Jadi ringkasnya begini : berencanalah, berusahalah, berdoalah; BUKAN HANYA agar impian2 kita tercapai seluruhnya. Bukan hanya. Tapi berencanalah, berusahalah, berdoalah; agar Allah ridho atas setiap kerja sel dalam tubuh kita- karena kita sudah memanfaatkannya sebaik2 dan sebenar2nya. See the difference? :) 

~~~~~~~~~~~~~~~~

Okeh. Bab 1 selesai :)
Untuk kelanjutan cerita bagaimana keluarga sederhana ini bisa memiiki rumah, in syaa Allah di postingan selanjutnya, ya :)
semoga soba dan sobi bisa nemu manfaat walo baru baca satu bab ya; bab rencana.

Salam hangat, the Kodok's.

Komentar

  1. kak Mulki :) walaupun sederhana selalu suka dengan tulisan ny, they are inspiring me ^^ Smg Allah mdhkan urusannya ya kak

    BalasHapus
  2. Keren skaliii mulkiiii ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #4 : KPR

Day 1. Jakarta – Rantau Prapat : Aku Yakin Ini Ujung Dunia!