Rumah #5 : Kesan Pertama

Rumah yang sempat dilihat istri maskodok sangat beragam; baik yang dinilai dari segi lokasi, kondisi, dan harga rumah.

Ada yang menghadirkan ekspresi, “oooh..”
Ada yang cukup dengan,”hm..”
Ada yang, “alamaaaak..”
Bahkan ada yang, “happppaaaaah??” *kaya gayanya Bastian di sitkom Tetangga Masa Gitu*

Tapi tenang tenang… ekspresi2 itu hanya menari2 di dalam pikiran istri maskodok saja kok. Ekspresi wajah yang keluar hanya sebatas senyum2 ceria. Kan ceritanya lagi behave, walau sebenarnya similikiti. *oposih*

Namun ketika diantar oleh seorang agen bernama mbak Novi ke sebuah rumah di Griya Bintaro Estate di sebuah senin yang cerah, ekspresi istri maskodok langsung, “kandaaaa wawawawaaaaa kandaaaaaaa…”

Yang biasanya video rekaman baru dilaporkan ketika maskodok sudah pulang kerja, tapi kali itu istri maskodok ga tahan untuk ga ngeshare video, denah, dan lokasi saat itu juga.

Betapa tidak? Rumah tersebut memiliki semua spesifikasi yang mereka inginkan. Bahkan beyond. Beyond banget.

LOKASI
♡ Rumah tersebut dekat dengan stasiun KRL. Bahkan bisa dicapai berjalan kaki (ini poin paling besar, kakaaak. Juara sekaliiih)
♡ 3 menit dari jalan tol ke/dari arah Serpong, 5-8 menit dari jalan tol ke/dari arah Jakarta.
♡ Puskesmas terletak tepat di depan komplek. Rumah sakit ada beberapa di sekitarannya.
♡ 3 menit jalan kaki ke masjid besar.
♡ 4 menit jalan kaki ke kelurahan (terus? Haha)
♡ Dekat dengan sekolah2 negeri, sekolah2 alam, sekolah2 islam, sekolah internasional, dll.
♡ Dekat dengan mall Bintaro Exchange. Kalo lagi santai, jalan kaki aja juga bisa.
♡ Dekat dengan pasar tradisional, Giant, Lotte, Carefour, ACE, Informa, Ikea.
♡ 10-15 menit naik kendaraan ke rumah orang tuaaa (heaven banget, kan?)
♡ Depan komplek dilewatin angkot.
♡ Bertebaran fotokopi, tukang pulsa, pom bensin, warung2 makan, dan segala sarana kemudahan hidup *tsaah*

RUMAH
♡ Luas tanahnya di atas 100m2
♡ Rumahnya berada di dalam komplek/cluster yang baik; ada petugas keamanan dan kebersihan.
♡ Jalan depan rumah sangat lebar. Bisa muat 3-4 mobil berjejer (di kala cluster lain hanya muat 2 mobil berjejer).
♡ Bagian depan dan belakang rumah terbuka, terang, dan sirkulasi udara baik.
♡ Mendukung dijadikan rumah tumbuh (bahkan oleh pemilik lamanya, bagian atasnya sudah didak separo)
♡ Belakang rumah tidak mungkin tertutup oleh bangunan lain.
♡ Kondisi rumahnya sudah sangat amat layak pakai dan lumayan unyu, karena pemilik lamanya adalah seorang arsitek.
♡ in syaa Allah bebas banjir.

HARGA
♡ Masuk range yang maskodok dan istri tetapkan.
♡ Bahkan teman maskodok yang diceritakan tentang kondisi rumah dan lokasinya, langsung heboh “Ambiiiil, Kriwiiiiil. 750juta itu murah bangeeeeet kalo kondisinya kaya gituu.”
♡ Ada beberapa poin selanjutnya, akan diceritakan di bawah. Kalo diceritain di sini, nanti ga klimaks. Eheheh.  

~ Ini kronologisnya :

16 Februari 2015

Istri maskodok baru melihat rumah dan berbincang sedikit dengan si pemilik rumah tersebut di hari Senin siang, namun akibat ceritanya yang sangat deskriptif dan persuasif *biasa.. suka lebay dia* ke maskodok, maka maskodok menjadi penasaran. Haha. Langsung sepulang kerja di hari yang sama, setelah janjian dengan si pemilik rumah, maskodok melihat dan silaturahim secara langsung ke Mas Donny dan istri (pemilik lama rumah).

Di momen itu, sambil bertanya2 tentang kondisi rumah, maskodok dan istri juga bercerita sejujurnya mereka itu siapa; maskodok adalah seorang PNS dan istri adalah seorang dokter umum fresh graduate. Mereka pun cerita saat itu hanya megang cash berapa, dan rencananya bagaimana ke depannya. Benar2 amblar2an, tidak ada yang mereka lebih2kan agar mereka mendapat “perhatian” dari si pemilik rumah. Karena mereka mikir, “si pemilik rumah berhak mendapat info jujur dan mendapat kesan yang benar. Tidak overvalued, tidak undervalued.”

Si pemilik rumah pun bercerita apa adanya; bagaimana kondisi rumah, kondisi lingkungan sekitar,  betapa mereka sebenarnya sayang dengan rumah tersebut, tapi untuk pengembangan usaha, mereka harus menjual rumah tersebut.

Pemilik rumah pun bercerita, bahwa sebenarnya ia sudah “mengumumkan” rumahnya dijual sejak September tahun lalu. Dan banyak orang yang memang berminat membeli rumah mereka, ada beberapa di antaranya yang hampir deal, bahkan ada juga yang sudah memberikan booking fee. Tapi ajaib, kata mas Donny, ga kejadian terus. Macam2 alasannya. Padahal kalo dilihat kondisinya, kondisi calon pembeli sebelumnya lebih longgar dari kondisi maskodok dan istri. Kata mas Donny, “Memang bukan jodohnya mereka. Semoga jodoh sama mas Heri dan mbak Mulki."

Selesai ngobrol2, di sependek (kan cuma 10 menit) perjalanan pulang ke rumah, maskodok bilang, ”Sayaang… kanda makin cintaaa banget sama kamuuu, soalnya kamuu pinter banget nyari rumah.”

Krik.

Tapi ini sungguh kejadian, sodara2. Memang di antara letup2an keantusiasan dan kegemesan, sering terselip kenorakan yang tidak dapat terkontrol. Haha. Ga usah tanya bagaimana istri maskodok, beliau pun sudah jatuh cinta dengan rumah tersebut, namun tetap memohon..

“Ya Allah, jangan biarkan hati kami terikat pada sesuatu yang tidak Engkau tulis untuk kami.”  

Sesampainya di rumah, maskodok dan istri bercerita dan berkonsultasi ke orangtua.
Abi  : “Yaudah.. besok ditawar aja.”
Ummi  : “Emang kamu punya uang berapa mau beli rumah harga segitu?”
Maskodok  : “Segini…”
Ummi  : “Haaaah? Nekat banget kalian. Trus sisanya darimana?”
Istri maskodok : “Dari Allah, mi.”
Ummi  : “Tapi emang kalo ga nekat, ga kebeli2 nanti.”
Maskodok : “Yaudah.. besok ummi dan abi ikut ngeliat rumahnya aja, yuk.”
Abi : Yaudah, besok kita ke sana.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kita putus dulu ya sampe sini, biar ga kepanjangan. Butuh paracetamol forte soalnya nanti kalo baca kepanjangan. Haha. Bab 5 : Kesan Pertama

Komentar

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR