Rumah #3 : Mencari Calon Rumah

1. Tentukan spesifikasi rumah yang dicari.

Menurut maskodok dan istri, menentukan spesifikasi rumah yang dicari adalah bagian pertama juga utama dalam pencarian rumah.

Spesifikasi maskodok : a) Luas tanah di atas 100m2, luas bangunannya kecil aja gapapa, kondisi bangunan jelek gapapa. b) Dekat dengan stasiun KRL. c) Harga 500-800juta. d) jalan depan rumah muat untuk mobil lewat. Poin ini penting jika rencananya akan mengambil KPR.

Spesifikasi istri maskodok : a) Bintaro. b) Bintaro. c) Bintaro. d) Bintaro. Muehehehe. *plakk!*  


2. Mencari Rumah

Banyak jalan menuju Mekkah, begitu pula banyak jalan treasuring rumah. Ini yang mereka tempuh :

● Web.
Web yang paling sering diakses : (www.rumah123.com)
Tinggal masukkan spesifikasimu di baris pencarian, maka voilaaa! Akan muncul foto + deskripsi singkat tentang rumah yang dijual.

Misal : “Rumah mungil untuk kantong mungil. LT : 100m2, LB : 36m2. Lokasi strategis, 10 menit dari kelurahan, 5 menit dari tukang mi ayam, 3 menit dari tukang pulsa. Bebas tsunami. Air pake sumur timba. Harga 780juta. Hubungi Ani 08xxxxxxx (Eyke Grande)  

Lantas istri maskodok akan mencatat atau screencapture info2 yang diperlukan, lalu menghubungi nomor2 yang tertera. Mayoritas memakai agen property sebagai perantara, sisanya akan tertulis Tanpa Perantara (TP)  

● Datengin agen property di Bintaro.

Di kantor agen kita bisa lihat2 katalog rumah yang dijual. Kurang lebih informasinya mirip2 dengan yang tertera di web. Ada rumah baru, ada rumah second. Tinggal bilang aja mana yang sesuai dengan selera kita. *gaya*  

Nanti selanjutnya akan diantar oleh staf kantor agen tersebut untuk melihat kondisi rumahnya secara langsung. Selain lihat2 katalog, ga ada salahnya bertanya ke stafnya, ada rumah lain atau ga yang kiranya belum masuk ke katalog. Maskodok dan istri cuma sempet datengin dua kantor agen sih; Bumina dan Era Grande.  

● Muter2in sendiri kawasan yang kiranya diinginkan.

Ini sih alasan istri maskodok aja buat jalan2 keluar rumah berduaan maskodok. Kalo ada yang terpasang label “Dijual. Hubungi Ani 08xxxxx” Langsung ckrik, saved. Urusan jadi atau enggak menghubungi CP yang tertera, urusan nanti :)  

Oh iyaa.. zaman sekarang, kebanyakan orang jual rumah ga pake masang label tulisan "Dijual" di pagar. Mungkin demi alasan kemanan dan kenyamanan. Mereka lebih suka menitipkan infonya ke agen atau orang yang mereka percaya. Jadi... bisa aja kita tidak melihat tanda rumah itu dijual, tapi sebenarnya rumah itu dijual. Maka dengan kata lain, keberadaan web dan agen itu sangat membantu kita :)


3. Menghubungi Contact Person.

Berpuluh2 no.HP sempat istri maskodok sms atau telfonin.
Ada yang membalas, “iya masih ada. Mau saya antar untuk lihat rumahnya kapan?”
Ada yang membalas, “Maaf, sudah terjual.”
Ada juga, “Maaf, rumah yang itu sudah booked. Ada lagi rumah lain yang dijual di kawasan blabla, harga blabla, LT LB blabla. Mau lihat?”
Namun ada juga yang tidak membalas. Mungkin pulsanya sedang habis.  

Selanjutnya janjian ketemuan dengan agen atau yang jual rumah. Namun karena keterbatasan waktu yang dimiliki maskodok- beliau hanya bisa lihat2 pas weekend, maka maskodok mengizinkan istrinya untuk janji ketemuan dengan agen on weekday. Soal selera, diserahkan sepenuhnya ke istrinya *yang seleranya rewel kan istrinya*. Alhamdulillah, istri maskodok walau masih similikiti, pede aja tuh sok2an nyari rumah sendiri.

Pesan maskodok cuma satu; boleh janjian sendiri lihat rumah pas weekday, asal agen yang menemani perempuan. Kalo agennya laki2, ga boleh. Muehehe.  


4. Janjian melihat rumah.

Atur jadwal dengan baik, jangan sampai merugikan pihak manapun. Sudah dewasa, kan? Harus bisa doong mengatur waktu dan mengukur diri :) Walaupun kita customer, etika dan profesionalisme ga boleh ketinggalan. *tsaaaah* maklum, istri maskodok sudah kenyang dengan ceramah dan keteladanan maskodok tentang profesionalisme dan integritas diri. *tsaaah lagi*

Misal janjian ketemu dengan agen B jam 11, tapi karena masih asik muter2 dengan agen A, ga boleh dengan seenaknya bilang, “Mbak.. nanti jam 3 aja ya?” Atau “Mbak.. Hari ini ga jadi, ya.” Apalagi kalo ngasih taunya mendadak. Kasihan agennya. Dia itu kerja. Gara2 sudah janjian sama kita, akhirnya dia ga bisa janjian sama customer lain, yang jangan2 lebih “beres” dibanding kita. Merugikan tha?  

Nah.. monggo mawon per harinya mau ketemu dengan berapa agen atau berapa pemilik rumah, bisa satu- bisa dua- bisa tiga. Menurut pengalaman istri maskodok, ia hanya merasa mampu janjian dengan maksimal dua agen per hari. Karena biasanya satu agen saja bisa ngajak kita muter2 ke tiga atau empat tempat. Tapia ada juga sih agen yang hanya nganter ke tempat yang kita tanyakan di sms/telpon aja. Macem2 :)  

Pas janjian2 gini bayar apa enggak ke agen itu? Enggak. Istri maskodok pun enggak ngasih tips ke mereka. Karena ia merasa, 1) kerjaan agen ya seperti ini. 2) sepertinya mereka sudah tumpe2 dompetnye. Haha.  

Ohya.. kalo dengar dan terlibat urusan dengan agen ga usah antipati, ga usah arogan, atau malah minderan.  Ga usah underestimate, bahkan suudzon ke  agen. Just be kind to everyone aja. Mereka ga jahat :) Agen itu bagaikan matchmaker di dunia perjodohan kok. Hehe.  


5. Melihat rumah

Karena istri maskodok cuma lihat sendiri- karena maskodoknya ngantor, maka setelah kenalan dan sepik2 dengan pemilik rumah atau agen, istri maskodok akan minta izin ngerecord video rumah tersebut. Tujuannya sih agar lebih tergambarkan dan hidup aja kalo pas nanti laporan ke maskodok. Kalo pake video kan seakan2 maskodoknya juga datang ke sana dan melihat langsung kondisi rumahnya. Iya kan?

Jadi… shoot mulai dari luar; shoot jalanan depan, ke rumah2 tetangga, ke selokan.. lalu ke carport, ke garden depan, teras, masuk ke rumah, dan seterusnya.. sambil istri maskodok mengisi suaranya ini lagi di ruang apa dan kondisinya bagaimana. Yang jadi point of interestnya disorot lebih banyak, yang kerusakan2nya juga jangan lupa diliput juga.  

Selain video, sebaiknya menanyakan apakah memiliki denah dan blueprint dari rumah tersebut, baik rumah baru atau rumah second. In syaa Allah akan berguna suatu hari. Ohya.. Tanyakan juga tentang kondisi air, kondisi listrik, kondisi tetangga, iuran bulanan, keamanan, pajak, bisa nego atau enggak, harus cash atau enggak, harus DP berapa, dan info2 lain yang kiranya perlu diketahui.  

Nah.. Kalo gayanya the kodok’s kan emang hampir selalu apa adanya. Maka mereka bercerita bahwa mereka adalah keluarga sederhana, tidak punya banyak uang, harus hutang sana-hutang sini, jadi mungkin butuh waktu 2 minggu – 1 bulan untuk pencairan pijaman jika jadi, pun cerita tentang pekerjaan secara apa adanya. Sampaikan saja dengan santai, tapi mantap. Tujuannya agar si pemilik rumah dan si agen tidak overvalued atau undervalued ke kita.  

Mereka juga berhak memiliki penilaian awal yang benar atas calon pembelinya. Biarkan itu menjadi kesan pertamanya. Jika si penjual ga keberatan, ke depannya in syaa Allah mereka akan tetap terbuka. Jika sebaliknya, berhenti saja sedari awal, tidak berbelit di kemudian. Menjadi apa adanya dan jujur akan senantiasa baik, sedari awal, tengah, hingga akhir :)  

~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sekian dulu, ya :) mungkin postingan depan tentang mencari KPR.

Salam hangat, the kodok’s ~

Komentar

Pos populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR