Rumah #2 : Kesepakatan dan Kenekatan

Sebenarnya: Sungguh setiap keluarga tidak wajib memiliki rumah sendiri- atas kepemilikan pribadi. Tidak ada kewajiban atas itu. Kewajiban suami kepada istri dan kewajiban istri kepada suami adalah hanya saling melindungi; dalam aspek yang luas namun terbatas. Jadi bagi yang masih mengontrak rumah, atau tinggal di rumah bapak ibunya, atau memang memutuskan menemani mertuanya, kalian tetap sah sebagai sebuah keluarga yang hebat. *hormat sepenuhnya*
~~~~~~~~~~~~~~~~~

Rencananya beli rumah tahun keempat pernikahan, kok tahun ketiga malah sudah terbeli (baca : sebagian hutang)? Kok bisa?  

Ini bermula dari kegelisahan istri maskodok. Kegelisahannya bukan berasal dari irihati dan dengki melihat orang2 lain yang sudah memiliki rumah, bukan. Melainkan karena selepas sumpah dokter, istri maskodok sempat punya waktu selo untuk mempelajari dan memikirkan banyak hal lainnya; termasuk rumah. Begitu tau, jawdrop! Harus reschedule, pikirnya.  

Loh? Kenapa terkesan  istri maskodok yang memulai memikirkan rumah?
Enggak. Enggak pernah seperti itu.
Tetap maskodoklah yang selalu dan paling into tentang kebutuhan keluarga kecilnya. Hanya saja maskodok, sebagai kepala keluarga, lebih banyak hati2nya- lebih banyak perhitunganny- tentang kesiapan, tentang risiko dan peluang, dan macem2. Sebenarnya pun dalam sunyi, ia terus memantau harga property di bintaro yang terus meninggi, ia terus mengukur kemampuan keluarga kecilnya, ia terus mempelajari situasi- mempelajari konsep hutang syariah di bank- terus berdoa-  dan terus menguatkan diri *menguatkan diri itu komponen penting jika melihat harga property di Bintaro* pikirnya : okeh. In syaa Allah tahun depan! Seperti rencana semula.

Memang mereka memiliki pikiran awal yang berbeda; istri ingin reschedule, maskodoknya stick to their plan. Tapi alhamdulillah, maskodok dan istri SELALU BERUSAHA  berkomunikasi dengan baik. Baik itu bagaimana? Menurut mereka, baik itu ketika mereka menghadirkan mereka seutuhnya ketika sedang komunikasi; tidak sekenanya, tidak sekadarnya. Mereka selalu berusaha terbuka satu sama lain, mau mendengarkan satu sama lain, terbiasa menyelesaikan masalah hingga tuntas, menghargai kesepakatan akhir dengan sepenuh hati; tidak ada mangkel2an, tidak ada yang merasa terkorbankan, tidak ada sekarepmu, sehingga tidak ada kumpulan gerutu yang sewaktu2 bisa meledak. Semua harus clear dan ridho :)  

Ketika istri maskodok mengajukan wacana untuk reschedule rencana membeli rumah,alhamdulillah seperti biasa- maskodok menimpali seutuhnya. Maka terjadilah pembicaraan tentang rumah. Pembicaraan yang panjang dan berat, karena kondisi mereka memang belum kondisi ideal / mudah untuk membeli rumah; belum kumpul orang dan dananya di tahun ini. Di dalamnya terjadi tarik ulur- tawar menawar- dan ukur mengukur ulang.  Tisu yang habis untuk pembicaraan ini pun  cukup banyak. Muehehehe.  

Menurut istri maskodok, hal yang membuat maskodok awalnya sempat kuatir dan berpikir panjang adalah tentang pemenuhan kebutuhan (baca : gaya hidup) keluarga- terutama istri *sadar diri huks* maskodok gamau membuat istrinya akan bersikap sok nestapa akibat goncangan ekonomi di tahun2 awal beli rumah yang -pasti ga pasti- akan terjadi. Tapi setelah mendengar, “Gapapa, Nda. Memang kondisinya sepertinya akan pelik, tapi ini adalah kondisi pelik yang membuat semangat.”  

Maksudnya gimana kondisi pelik yang bersemangat? Kurang lebih bisa terjelaskan dengan kalimat di bawah ini :  

“Mungkin kalo kita disuruh nambah (misal) 10ribu lagi buat nabung per bulannya itu ga bisa, susahhh pake banget- lantas dipangkatin duabelas. Tapi kalo punya HUTANG (misal) 10ribu per bulan, in syaa Allah bisa kita kuat-kuaaaaatttttiiinnnn banget nyicilnya. Bismillah!”  

"Ngeliat harga rumah zaman sekarang emang bikin hati jeri, ngilu, dan ngeri. Makanya kudu nekat. Orang yang nekat itu bukan orang tanpa rasa takut kok. Bukan. Tapi orang nekat itu adalah orang yang betul2 bulat tekadnya, lantas tekadnya itu bermitosis berulang-ulang kali, sehingga tekad yang sudah betul2 bulat itu semakin berlipat2 dan berganda2  jumlahnya."  

Dan akhirnya : seperti senyum yang memiliki sifat menular, begitu pula dengan energi positif, pun begitu pula dengan tekad (baca : nekat bahaha). Kenekatan (yang terukur) itulah yang akhirnya dimiliki maskodok, setelah istri maskodok menunjukkan kesungguhan- kengeyelan- dan ke(sok)siapannya untuk mendukung satu fase ini untuk dipercepat USAHA pemwujudannya.  

Mereka berSEPAKAT untuk memulai "LIHAT2" rumah satu tahun lebih cepat dari rencana semula. Ga buru2 sih, serius tapi santai aja. Iya bener, pehlis banget jangan buru2 :)

Dan doa sederhana ini selalu menemani,
“Ya Allah, tolong jangan biarkan hati kami terikat pada sesuatu yang tidak Engkau tulis bagi kami.”

#kalem #cieeekalem #gagalkalem

~~~~~~~~~~~

Sedari dulu the kodok's amblar2an banget ya kalo cerita? Semacam sudah putus urat malunya. *nyadarnya telaaaaat* aaaah syyudahlah... kepalang terlanjur. Pffft~

Okeee.. Sekian dulu ya bab 2nya : tentang komunikasi, kesepakatan, dan kenekatan :) semoga bermanfaat. *sisi mananya yang bermanpaat tulisan macam beginiiiih cimuuul.. hauuuum. Graus.. graus.. graus*

Komentar

  1. semangat mba Mulki, pasti bisa pasti bisaaaa :)))0

    BalasHapus
  2. jadi KPR apa gimana mulki? ah elah aku harus curcol juga ih haha balada beli rumah :D

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR