Postingan

Subhanallah :D

Subhanallah, saya lagi kangen banget sama orang2 rumah. Kangenkangenkangen yang bangetbangetbanget. Orang tua saya bingung kali ya akhir2 ini saya sering banget ngirimin kata2 cinta ke mereka. Kalo biasanya paling seminggu sekali, atau bahkan cuma dua kali dalam sebulan, tapi akhir2 ini saya kirimi satu kali sehari (udah kaya’ minum CTM aja, hhe...) saya memang bukan orang yang malu2 bilang sayang ke orang tua. Toh halal dan menyenangkan. Tidak ada ruginya juga tha? Orang tua mungkin bingung juga kali ya kok saya punya redaksi kata sayang yang banyak banget. Hhe, kalo bicara tentang mereka, tentang rasa sayang saya ke mereka si ga heran kalo imaji kata2 saya banyak banget. Dalam menulis, tema termudah untuk dieksplore bagi saya adalah tentang orang tua. Bagaimana saya begitu memuji mereka, bagaimana saya menaruh mereka dalam posisi sebaik2nya dalam hati saya, bagaimana saya begitu mudah berapi2 atau malah menangis saat berbicara tentang mereka. Malu ngucapin kata sayang ke orang tua...

Saya Belajar

Saya belajar Seberat apa pun cobaan yang diberikan olehNya, pada akhirnya akan membuat kita menjadi manusia yang lebih bertanggung jawab dan berguna. Syukurilah seluruh anugerahNya dengan hati ikhlas dan tulus. Everything happens, happens 4 a reason. Saya belajar Bahwa saya harus bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan, tidak peduli bagaimana perasaan saya. Saya belajar Bahwa saya punya hak untuk marah, tetapi itu bukan berarti saya dapat berlaku sesuka hati saya tanpa memikirkan orang lain. Saya belajar Bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya. Saya belajar Bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda yang sama, tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda. Saya belajar Bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu, dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya. Saya belajar Bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa d...

Ular, Bukan Naga

Ada seorang anak yang sangat pandai melukis, pada suatu hari di sekolahnya diadakan pertandingan melukis, anak ini ikut dalam pertandingan tersebut karena tergiur oleh hadiahnya. Pada pertandingan itu, semua peserta ditugaskan melukis seekor ular, dengan kriteria penilaian lukisan harus semirip mungkin dengan ular dan secepat mungkin menyelesaikan lukisan. Maka pada hari pertandingan, si anak itu sudah hadir di lapangan pertandingan, siap dengan semua alat lukis nya. Ketika aba2 diberikan, semua peserta serentak mulai melukis. Tak lama kemudian si anak itu selesai melukis seekor ular yang sangat mirip, begitu hidup lukisannya. Si anak kemudian mendongakan kepalanya, dilihatnya semua peserta lain belum menyelesaikan tugas mereka, maka si anak kemudian menambahkan empat buah kaki di ular lukisannya, sehingga ularnya semakin garang, ditambahkannya tanduk di atas kepala ular, diberinya lidah api menyembur keluar dari mulut ular tersebut. Ketika si anak menyerahkan lukisannya itu ke panitia...

Sejenak...

Berbekallah…untuk hari yang sudah pasti. Sungguh, kematian adalah muara manusia. Relakah dirimu, menjumpai segolongan orang…mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa…? Apakah yang tergores di hati seorang Khalid bin Walid, panglima perang kaum Muslimin yang terkenal dengan ketangguhannya, yang tidak pernah risau dengan perihnya sayatan pedang, saat ia berkata, " Sesungguhnya kami adalah pasukan yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan…" kepada musuh - musuh Rabbnya ? Itulah sebuah ungkapan yang membuat bergetar musuh - musuh Allah di saat mereka harus berhadapan dengan kaum Muslimin. Itulah sebuah gambaran betapa bayangan kematian begitu melekat pada Rasulullah beserta para sahabatnya. Bayangan kematian yang membawa mereka kepada kesadaran akan hakikat hidup yang sebenarnya. Sabda Rasulullah saw, " Kematian adalah hadiah yang sangat berharga bagi orang - orang yang beriman…" Mari sejenak merenungi ayat ini, " Telah dekat kepada ma...

Jangan Mengeluh

"Berkali kita jatuh, Berdiri jangan mengeluh. Berkali kita gagal, Ulangi lagi dan cari akal" Sampai saat ini, pantun itu terus terpatri di benak saya setiap menemui kegagalan dan jatuh dalam hidup. Intinya adalah dalam hidup ini jangan pernah mengeluh dan teruslah berusaha. Namun, usaha tanpa berusaha memperbaiki cara fikir adalah sia-sia. Untuk itulah, kita harus terus mencari akal-akal baru sehingga peluang untuk berhasil menjadi lebih besar. Mengeluh. Barangkali pekerjaan paling mudah di dunia ini adalah mencari kelemahan dari situasi yang dihadapi dan kemudian mengeluhkannya. Namun, apakah hanya dengan berkeluh kesah masalah yang dihadapi akan hilang? Sepertinya tidak. Malah, masalah baru akan datang dalam bentuk hilangnya rasa percaya diri dan pesimis. Hidup ini, by nature, selalu penuh masalah. Mulai dari masalah sepele sampai besar. Seperti kehilangan kartu praktikum, file penting terhapus, amanah satu dan yang lain bentrok, IP yang terjun bebas, patah hati, atau kehil...

Alasan Bertahan

Mul, Segalanya bisa terjadi. Saat sedih, Dan bahagia. Semua bisa jadi ujian. Sudah banyak yang bisa kamu ambil hikmahnya. Tinggal apakah kamu mau memahami... Dan apakah Allah memberikan hidayahNya. Jangan lupa saling menjaga... Dan mengingatkan. Hati2 dengan hal2 kecil. Tak jarang hal2 besar berawal dari yang kecil... Dan kita tidak peduli. Maka mulailah dari saat ini juga, Untuk memahami segala apa yang terjadi dalam hidup. Baik akibat, Juga alasannya. Mul, Allahlah yang membuatmu mampu tersenyum walau dalam keadaan menangis... Tempatmu bertahan ketika kamu merasa hendak menyerah... Tempatmu berdoa ketika kamu kehabisan kata2... Buatmu tetap berseri, walau hatimu hancur berkali-kali... Untuk tetap mengerti ketika tak satu pun yang memberi arti. Segala sesuatu menjadi mungkin, karena Allah memampukan kamu. Mul, Semangat bukan kata yang diciptakan hanya untuk dikatakan. Sarat arti... Sarat energi... Semoga benar2 memberi. Ketika hancur, Masih ada kata2...

Hati Yang Sempurna

Pada suatu hari, seorang pemuda berdiri di tengah kota dan menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah yang ada di kota itu. Banyak orang kemudian berkumpul dan mereka semua mengagumi hati pemuda itu, karena memang benar-benar sempurna. Tidak ada satu cacat atau goresan sedikitpun di hati pemuda itu. Pemuda itu sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya yang indah. Tiba-tiba, seorang lelaki tua menyeruak dari kerumunan, tampil ke depan dan berkata "Mengapa hatimu masih belum seindah hatiku ?". Kerumunan orang-orang dan pemuda itu melihat pada hati pak tua itu. Hati pak tua itu berdegup dengan kuatnya, namun penuh dengan bekas luka, dimana ada bekas potongan hati yang diambil dan ada potongan yang lain ditempatkan di situ;namun tidak benar-benar pas dan ada sisi-sisi potongan yang tidak rata. Bahkan, ada bagian-bagian yang berlubang karena dicungkil dan tidak ditutup kembali. Orang-orang itu tercengang dan berpikir, bagaimana mungkin pak tua itu mengatakan bahwa hati...