Episode Anak Jalanan

Jawara. Impor dari album people Kanda.

Mbak, aquanya Mbak buat oleh2.” “Enggak, Mas. Terima kasih.”
“Mau kemana, Mbak?” “Solo.”
“Memang tadi darimana?” “Jakarta, Mas.”
“Di Solo ngapain? Kuliah?” “Iya, alhamdulillah.”
“Jurusan apa?” “Kedokteran, Mas.”
Percakapan biasa untuk memulai sebuah perkenalan, selanjutnya tukeran nomer henpon (ya gaklah, kaya sinetron aja). Ya.. itulah awal pertemanan saya dengan Mas Jono.

“Saya ini anak jalanan, Mbak. Jadi hidupnya ya di jalan.” 
Jawabannya ketika saya tanya rumahnya dimana. Awalnya memang basa-basi. Tapi justru karena itu saya tertarik untuk ngobrol lebih lanjut dengannya. Diagnosis selanjutnya: beliau belum berkeluarga. Padahal saya taksir, usianya sudah hampir kepala 4. Ya gimana? Tidak kenal rumah.

“Tidur dimana saja, ikut kereta kemana saja, jualan.”
Pertemuan kami memang terjadi di kereta ekonomi Bengawan, jurusan Tanah Abang – Jebres. Kebetulan sudah lepas Klaten, sekeliling saya sudah sepi. Beliau duduk di depan saya, mungkin istirahat.

“Jakartanya (rumah saya maksudnya) jauh Mbak dari Blok M? Saya dulu sempat di Blok M. Makanya saya punya teman banyak di sana, dari yang ekonomi bawah sampai menengah. Manusia itu kan tergantung pribadinya. Miskin harta bukan berarti miskin teman. Kalo saya baik, orang juga insya Allah akan baik sama saya.”
Ya, saya relatif sepakat. Karena memang ketika kita mau kaya, maka bergaullah... Mau kaya dengan teman, maka bergaullah dengan orang. Mau kaya dengan ilmu, maka bergaullah dengan buku dan sumber ilmu lainnya. Mau kaya dengan pengalaman, maka bergaullah ke “lapangan”. Mau kaya dengan pahala, maka bergaullah dengan amalan sholeh. Siapa pun, bergaullah dengan baik :)

“Dulu saya suka main ke tempat Iwan Fals, ke tempat Christine Hakim. Ketika masih zaman2nya layar lebar. Dulu orang2 terkenal dan kaya itu (artis maksudnya) baik sama kita, anak jalanan. Sekarang malah kayanya mereka anti dan takut. Seperti anak jalanan = bahaya. Makin modern, tapi hakikat yang seharusnya dipertahankan malah hilang.”
Waduh... dia ngomongin hakikat, ga nyandak saya mah :P Hm... orang biasanya takut dengan anak jalanan, karena penampilannya. Pakaian terkesan kusam (kalau tidak sampai dibilang kotor),  garis muka keras, nada suara yang terkesan kasar, ya karena memang mereka hidup di jalanan. Masa’ iya pake jas atau kebaya. Masa’ iya lipstikan, kalo emang duitnya kepake buat yang lebih primer. Masa’ iya nuntut muka mereka celemik-celemik kaya artis Korea, kalo emang hidupnya nuntut kerja keras (kerja keras dalam arti denotatif).

“Mbak takut ga sama saya?”
Haha, malah ditanya. Belum sempat saya jawab, saya diselamatkan oleh seorang Bapak tua yang nasibnya secara KASAT MATA tidak lebih beruntung dibanding laki2 seumurannya yang dirawat dengan baik oleh anak2nya. Beliau tuna netra, berkeliling di kereta untuk bertahan hidup, dan mungkin menanggung hidup orang lain (entah istri, anak, cucu?)

Mas Jono mengeluarkan lembaran uangnya dari saku, lalu memberinya ke Bapak tua itu. Cukup membuat saya tertegun. Setelah bersama2 mendengarkan dan mengaminkan doa Bapak tua itu,  
“Ya... mari, Mbak. Semoga lain kali, kita bisa bertemu lagi. Mungkin nanti ketika Mbak sudah jadi Dokter. Moga bukan karena saya sakit. Oya, nama saya Jono. Bismillah... (dan beliau beranjak)”

Mas Jono membuktikan bahwa bukanlah kesempitan harta yang membuat orang itu sulit berbagi. Ternyata bukan kelapangan harta yang menjamin seseorang semakin mudah memberi, tapi ada kelapangan yang lain. Siapa saja PANTAS bersedekah. Siapa saja BISA bersedekah. Mas Jono tau, utamanya tangan di atas. Mas Jono tau, rezekinya tidak berkurang dengan bersedekah. Tapi Mas Jono tidak tau rahmat Allah datang dari arah mana. Tapi Mas Jono tidak tau pertolongan Allah datang karena doa siapa. Maka ia berbuat maksimal yang ia bisa.

Komentar

  1. Bento (anak jalanan di kampus UI Salemba) adalah contoh nyata. Dianggap tak berpendidikan, namun bahasa inggrisnya malah lebih jago dari mahasiswa YAI Salemba. Sering dihindari mahasiswi karena wajahnya yang hitam legam membuat mereka takut. Tapi, justru saya berhutang budi sama manusia ini. Di saat kantong kering, belum makan seharian, dia ada memberi saya makan. Allah SWT menggunakan siapa saja sebagai perantaraNya dalam memberikan pertolongan.

    BalasHapus
  2. Subhanallah :) terima kasih sharenyaaaa...

    BalasHapus
  3. don't look the book just from the cover..
    itulah perumpamaan yg tepat dalam menilai seseorang, karena Allah tdk melihat dari ketampanan, kecantikan ataupun seberapa byk hartanya, melainkan nilai2 ketaqwaannya...

    BalasHapus
  4. super sekali :" salam kenal mbak :)

    BalasHapus
  5. Allah memang Maha Keren kalau sudah urusan mengingatkan hambaNya ya, Bre? :) Lembut banget sampai kadang kalau kita enggak ngeh kita ga nyadar tuh kalau lagi dikasih ibroh kehidupan. ah, semoga senantiasa dilembutkan dan dilapangkan ya hati kita. Biar lebih sensitifan sama pelajaran-pelajaran itu, aamiin. InsyaALlah :)

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR