Long Distance Marriage


Haha... Akhirnya saya membahas tentang Long Distance Marriage. As usual, menulis adalah salah satu mekanisme penguatan dan pertahanan diri saya ketika saya merasa hampir “sesuatu”. Berdialog dengan diri sendiri lalu mensenyawakan kata, rasa, ide, dan (tentu) spirit (yang masih ada). Ajigile... kurang melas apa coba gue. Kekekekkk...

FYI, saya baru menjalani LDM dengan suami kurang lebih 1 minggu. Haha... Iye, baru 1 minggu. Tapi saya sudah merasa harus melakukan upaya ini (menulis). Lebay, yak? Iye dah. Kok jadi lebay gini. Padahal maaahh, i am f-i-n-e (autosugesti). Emang se-long apa sih LDMmu? Alhamdulillah, Jakarta-Solo aja kok ^_^

Long Distance Marriage memang bukan kondisi paling ideal untuk sebuah rumah tangga. Ada risiko2nya, ada pahit getirnya, ada sesuatu yang kuranglah. Tapi LDM sungguh tidak dilarang. Bisa juga menjadi suatu alternatif berrumah tangga (tentu dengan harapan, suatu saat akan bersama kembali). Entah karena pekerjaan, pendidikan, berjaulah, atau kondisi wajib militer, kondisi2 yang memang (mau ga mau) harus terjadi LDM, bukan karena keinginan semata.

Zaman Rasulullah dan sahabat pun ada yang namanya LDM, bukan zaman2 sekarang aja. Kapan? Ketika para suami harus pergi berjihad, berdagang, dll. Para istri harus setia dan bersabar menjaga rumah suami mereka. Diriwayatkan, 
Suatu hari Khalifah ‘Umar bin Khattab mendengar seorang perempuan berkeluh kesah karena merindukan suaminya yang belum juga kembali dari medan perang. Maka Khalifah ‘Umar pun bertanya kepada putrinya sendiri, Hafshah, sang Ummul Mu’minun, yang juga istri Rasullullah SAW, berapa lama kiranya seorang istri dapat bersabar ditinggal oleh suaminya. Empat hingga enam bulan, ujar Hafshah. Maka sejak itu, ‘Umar bin Khattab menetapkan bahwa seorang prajurit Muslim tidak boleh pergi ke medan perang lebih dari empat bulan.
Okeee.. Saya LDM-an, mungkin juga kamu, salah satu pembaca tulisan ini. Pertama... saya ingin bilang, LDM memang bukan kondisi paling ideal untuk rumah tangga, tapi mungkin saat ini adalah kondisi paling ideal untuk rumah tangga kita.

Saya sebenernya sedang menginventaris (halah.. bahasanya..) cara2 saya dan suami berLDM, sekalian saya share di sini gapapa, ya? 

1.    Apa pun rasanya, itulah kondisi yang kita butuhkan.

Emang sih sedih. Karena setelah menikah, suami istri itu seperti puzzle. Maka ketika berpisah, otomatis jadi terasa tidak lengkap. Tapi yakinlah... kondisi ini adalah yang kita butuhkan, bukan kutukan. Apa pun bisa kita jadikan hikmah, tergantung kondisi masing2. Misal...

-    Masa 2 tahun berpisah bisa memberikan waktu lebih kepada kita untuk belajar berumah tangga, tanpa dibebani langsung dengan urusan rumah tangga.
-    Pasangan jadi tidak merasa dicuekkin secara langsung kalau waktu kita memang tersita dengan urusan pendidikan yang padat, misal coass :P
-    Jadi bisa lebih fokus mikirin konsep dan bikin proposal S3 :P

Haha.. maap yak, kasuistik banget nih. Tapi kurang lebih begitulah... Yakin, kondisi ini adalah kondisi yang terbaik dan yang kita butuhkan untuk rumah tangga kita saat ini (saat terjadi LDM)

2.    Kata suami, fokuslah pada solusi, bukan permasalahannya.
“Hiks... kasian Kanda yang harus begini terus tiap minggu. Pasti capek bangeett. Hiks hiks.. Mesti ngglesot (bahasa yang bagusnya apa, yak? Hihi) di lantai kereta. Kalo ada kecoa melintas gimana? Kalo ada air tumpah trus ngalir ke Kanda gimana? Kalo masuk angin kena angin malam terus gimana? Hiks hiks... Kanda ga usah ke sini aja deeeh.”
Di sela isak2 dan campur baur perasaan kangen tapi juga khawatir, kurang lebih inilah yang bisa saya tangkap :
“Looh kok malah ga usah ke situ, malah ga bagus, kan.. Kita fokus aja sama solusinya, bukan permasalahannya. Kamu kesepian di sana, makanya Kanda telepon, makanya Kanda minta kamu ajak temen2 kamu untuk nginep di rumput, makanya Kanda seneng kalo rumput jadi tempat liko-melikoi, makanya Kanda seneng dan ga ngelarang kamu banyak kegiatan.

Kandanya mesti bolak-balik Jakarta-Solo, yaudah nanti Kanda beli sleeping bag biar ga dikecoain dan nyaman tidur di kereta, kamu beliin jamu apa kek biar Kanda ga masuk angin, Kanda nanti juga beli madu dan olahraga biar badan Kanda selalu fit.”

Walau memang wajar banget gelisah, khawatir, kasihan sama pasangan, ya... namanya juga mengasihi dan menyayangi, tapi tetap jangan sampai larut dalam kalut sehingga ga produktif, sehingga justru destruktif. Fokus dengan solusi, kata beliau :)

3.    Pake paket2 komunikasi yang memudahkan dan memurahkan komunikasi.

Suami istri yang memang berniat menjaga bangunan rumah tangganya ga usah lagi dinasehatin untuk menjaga komunikasi; teleponan, sms-an, chattingan, video conference-an. Itu pasti terjadi, karena butuhnya komunikasi lebih dari butuhnya terhadap nasi. Hahaaa, lebay meneh. Yang mesti dibahas adalah gimana memudahkan dan memurahkan komunikasi.

-    Tadinya pake provider seluler yang beda, samainlah... Ga mesti ganti total, nambah aja, jadi ga ribet :P
-    Tadinya ga peduli dengan paket2 murah dan bonus, sms tinggal sms, telepon tinggal telepon, tapi sekarang mulailah lebih peduli dengan paket2 murah dan bonus. Karena yang mau kita hubungi kan orang spesial, pasti ga cukup 1-2 sms, ga cukup 5-10 menit :P
-    Maksimalin fasilitas yang ada deh.. kalo laptopnya ada front cameranya atau punya webcam, kan asik tuh chattingan sambil bisa lihat ekspresi pasangannya.. kalo punya BB, kan tinggal kirim recent picture pas BBM-an.

4.    Sedia tissue di spot2 strategis.
Saya sih masih sering nongas-nangis kalo lagi teleponan, kangen boookkk. Kekekeekk.. Makanya butuh tissue. Harus dilap air matanya! Jangan biarkan air matamu menyentuh, halaahh.. membanjiri henponmu. Bisa korslet oy hapenya, sega2nya toucscreennya bisa jadi ga berfungsi. Hiks! Pengalaman nih ayee.. haghaghagg. Salah2 malah apes, mesti keluar biaya tambahan buat service atau beli hape baru lagi. Ga mau, kan? Naaah.. tissue layak dijadikan senjata. Jangan jorok pake jilbab atau baju, yaaa...

5.    Be creative! Sering2lah ngasih Supriyanto, eh surprise maksudnya :P
Di waktu sendiri, bisalah syuro sama otak sendiri, kira2 mau buat apa ya untuk suami (atau istri). Kejutan ga mesti mahal, romantis ga mesti candle light dinner. Kadang hanya perlu 5 menit untuk mikir konsepnya. Atau kalau kita bukan orang yang (terbiasa) “so sweet”, ada Om Google yang bisa ngasih tau caranya. Hayo, mau alasan apa lagi?

Emang kenapa sih, emang mesti banget ya ngasih hadiah atau kejutan? Hm... Should do siih. Pertemuan suami istri yang LDM-an aja sebenernya sesuatu yang spesial, kejutan atau hadiah fungsinya sebagai Booster Love.
“Waah.. aku benar2 dispesialkan sama istriku. Aku jadi sangat merasa dihargai. Terima kasih, istriii.. Jadi makin cinta nih.. Mau apa? Mau Kanda beliin eskrim?”

6.    Atur jadwal pertemuan.
Yang namanya suami istri kudu ketemu! Kuduuu. Tergantung kemampuan, bisa 2 minggu, 2 bulan, asal tidak lebih dari yang disyariatkan. Keberkahan dan kesakinahan rumah tangga lebih penting dari jumlah uang yang ada di tabungan. Sedangkan keberkahan dan kesakinahan bukan dijamin oleh tabungan, tapi lebih ke pertemuan dari suami istri tersebut (kecuali emang sepakat buat nabung, yaa)

Jadii.. jangan pelit. Ketika mampu bertemu 3 minggu sekali dengan nyaman, maka lakukanlah... Lebih aneh lagi jika sebenarnya “longgar” bertemu 2 minggu sekali, tapi jadi 2 bulan sekali karena uangnya kepake buat beli gaun branded yang sebenernya ga terlalu perlu. Sebenernya nikah ama suami apa nikah sama gaun? :P

7.    Bersabar, sholat, berdoa.
Penantian kita adalah penantian berujung. Ujungnya: Tidak lebih dari 3 bulan. Rasanya, akan lebih mudah untuk bersabar, kan? :) dibanding teman2 kita yang belum menikah. Karena kebayang ujungnya.

Mintalah kepada Allah Sang Pencipta Takdir, agar menakdirkan kita dan pasangan dalam LDM yang sakinah dan optimal.
Mintalah kepada Allah Sang Penaut hati, agar selalu menautkan hati kita dan pasangan sejauh apa kita LDMan.

Makin sering kita sholat, biasanya semakin sering kita berdoa. Ya ga? Soo.. sholat nafilahnya ditambah, yuk.
“Hai orang2 yang beriman, jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolongmu.” (Al-Ba*arah: 153)

Abis ditelepon Kanda, 
22.16, 
24 Okt 2011, 
@Rumput

Komentar

  1. Asslm.
    Hai mulki, salam ukhuwah :)
    senang berkunjung ke blog mulki :))

    BalasHapus
  2. wa'alaykumussalam wr wb.
    Terima kasih sudah berkunjung. Mau berkunjung balikk aaa ;) semangat ukhuwah!

    BalasHapus
  3. hihi, makasih mulki untuk kunjungan baliknyaa :)
    ohya, mulki kenal dataari fk uns 2007? kebetulan sy teman rohisnya d SMA dlu ^^

    BalasHapus
  4. kenaaal :) beliau satu angkatan ama akuu. tapi beda kelas :)

    BalasHapus
  5. RUMPUT?? kepanjangannya apa tu Ki??

    BalasHapus
  6. rumput = rumah putih :) hihi. ceritanya ada kok tentang rumput. di arsip bulan juli. judulnya tsurayya to rumput :) monggo2..

    BalasHapus
  7. ada suka duka saat berjauhan,,,
    ada suka duka juga saat selalu bersama...
    :)
    barakallah mbak mulki, semoga Allah selalu menjaga cinta kalian berdua... ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. terima kasih, icha :)

      Hapus
  8. kunjungan balik........salam kenal dari umminya mbak Shafa

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga, ummu shafa :)

      Hapus
  9. emm...jadi kebawa pengen banjir..
    Allah, kuatkanlah.. T_T

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #4 : KPR

Day 1. Jakarta – Rantau Prapat : Aku Yakin Ini Ujung Dunia!