Air dan Gravitasi

Mengalirkan. Impor dari album IR my Mintuno.
 
Saya masih agak ingat, saat2 saya diajarkan tentang sifat2 air. Guru saya di SD kelas 4 bilang... 

“Air punya 5 sifat. Satu. Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Dua. Air melarutkan zat tertentu. Tiga. Permukaan air selalu datar ketika tenang. Empat. Air punya daya kapilaritas. Lima. Air memberikan tekanan.” 

Ketika itu, saya mengangguk2 aja. Telen. Pas ulangan, muntahin. Dapet 100. Hore. Berarti dapet senyum Abi Ummi. Senang.

Yaa, saya dikenalkan begitulah sifat air. Sifat asli, sifat dari sananya. Seperti sifat cahaya adalah membuat terang. Saat itu, saya memang bertanya, kok membuat basah tidak termasuk sifat air sih? Sederhana, jika tidak tega dikatakan bodoh. Tapi bagi saya waktu itu, itu nyata.

Makin tua, jadi kenal sama yang namanya gravitasi. Fenomena alam yang pertama kali disadari oleh orang kedua paling berpengaruh di dunia, Isaac Newton.

Jadi sadar, air itu mengalir ke bawah gara2 adanya gravitasi. Bukan gara2 sifat air itu sendiri. Gravitasilah yang membuat air HARUS turun. Uuum... Pernah denger ada waterfall yang airnya justru ngalir dari bawah ke atas? Nah, itu! Makdarit, boleh tidak kalau saya katakan mengalir dari atas ke bawah bukanlah sifat air?

Huff... iya iya. Memang terkadang sesuatu yang terjadi sebenernya bukanlah sesuatu yang tampak. Kemampuan orang dalam memandang sesuatu itu beda2. Tidak semua orang mampu melihat adanya gravitasi, di saat kebanyakan orang menerima mentah2, nelen bulet2, bahwa sifat air adalah: mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah.

Karena cara pandang orang itu beda2, oke.. kemampuan orang memandang sesuatu itu beda2, maka kurang tepat rasanya kalau kita menyalahkan orang lain sesalah2nya dan merasa diri kita tanpa kesalahan setanpa2nya. Bisa saja suatu saat, kita dalam posisi yang memang "sadar adanya gravitasi". Tapi mungkin, suatu saat lain tidak :)

Komentar

  1. Ini seperti mengatakan bahwa "aku bersedekah dengan usahaku sendiri" padahal sebenarnya ada "gravitasi" yang menggerakkan dirinya untuk bersedekah itu, yaitu Allaah SWT,...
    Sekeren-keren apapun amalan kita, maka satu hal yang harus kita lakukan adalah bersyukur, bahwa Allaah masih menggerakkan kita untuk melakukan hal-hal baik, bahwa Allaah masih memberikan hidayah Beliau...
    Sips (^_^)v

    BalasHapus
  2. Salam alaikum,
    Akur Mbak Mulki..
    ini se-analogi dengan betapa setiap orang setiap hari melihat benda-benda tanpa menghiraukan ruang kosong di antara diri dan benda: hal utama yang membuat mata bisa melihat benda. {bahkan cahaya tanpa jarak hanya akan membutakan (??)}

    se-analogi juga dengan banyak orang merasa mata-lah yang melihat. Padahal orang yang baru mati masih ada biji matanya lengkap dengan susunan syaraf sensorik tapi mengapa tak melihat?

    Dalam tauhid diajarkan betapa yang melihat itu bukan biji mata, tapi zat milik Allah-lah yang melihat. zat itu, adakalanya disebut sebagai ruh. Allahua'lam.


    btw, salam kenal ya, (akhirnya saya temukan juga markasnya, hehehe)

    BalasHapus
  3. tenkyu, brader, atas ulasannya... semakin mempertajam (rautan kali :P)

    salam kenal, mas muxlimo. kok akhirnya? emang susah nemuin markas sy? hehe

    BalasHapus
  4. inilah yang dinamakan hukum relativitas #sokteu

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, bener.. relativ :D tapi setuju kan kalo mengalir ke bawah tidak termasuk sifat air? :D hihi

      Hapus
  5. karena cara pandang yg berbeda2 maka harus berhati2 juga y mba..
    agar tdk terjadi kesalah pahaman.. hohoho


    keep sharing ukhti... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, no :D harus saaaaangat hati2, jangan cepat2 menjudge. bahkan kalo tidak diperlukan, sy memilih utk tdk menjudge jelek orang :D trm ksh, enno :D

      Hapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Pos populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR