Engkau, aku, dan Surga

Bening. Nyomot dari album IR cowok saya ;)
Rabbi, sungguh ada 1000 jalan menuju surgaMu dengan melalui 8 pintu: pintu syahadat, pintu shalat, pintu zakat dan sedekah, pintu shawm, pintu jihad, dan lainnya yang tak kuketahui. Rabbi, Kau tahu aku pernah menunda 1 jalan menuju panggilan semua pintu, maka cukupkan bagiku rahmat dan maghfirahMu sebagai penggantinya. Rabbi, jika aku tak lagi miliki kesempatan dipanggil dari semua pintu, mohon kiranya Engkau berbaik hati membiarkan satu pintu memanggilku. Kuharap Engkau berkenan mencatat namaku di salah satunya.

Rabbi, untuk surgaMu para ahlinya berlomba-lomba. Abu Bakar menjadi juara pertama di jajaran ummat Muhammad karena ia senantiasa memenangkannya. Dialah ash-Shidiq yang keimanannya membuat ia terbang menyambut setiap panggilan amal. Delapan pintu pun memanggil-manggil namanya dengan kerinduan. Umar bin Khatthab pun selalu merasa kalah darinya pada setiap perlombaan. Mereka, para shahabat dan shahabiyah, yang sangat kaya raya! Rabbi, surga yang samakah untuk hamba yang miskin dan hina?

Rabbi, di hadapanku tergambar sirath dan orang-orang berjalan di sana dengan berbagai cara: merangkak, tertatih, berjalan biasa, berlari dan berlomba, bahkan terbang secepat kilat. Lantas, bagaimanakah caraku menyambut panggilan jannahMu? Jangan perlama perjalananku, Rabbi, nyalakanlah pelitaku, dan perkenankanlah kudengar salam sambutan untukku di balik pintu itu segera, “Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji’ii ilaa Rabbiki raadhiyatan mardhiyyah, fadkhulii fii ‘ibaadii, wadkhulii jannatii…”

Rabbi, rugilah mereka yang tak menyambut panggilan surgawi. Membaca ayat-ayatMu mereka menggigil, tapi kemudian mengingkari untuk yang fana sambil berkata, “inilah sihir!”. Membaca ayat-ayatMu mereka berlarian sambil menutup mata dan telinga karena tak sudi merasakan takut. Membaca ayat-ayatMu mereka semakin mati rasa dan tak kuasa untuk “merasakannya” karena hatinya telah ditutup. Na’udzubillah… Membaca ayat-ayatMu, izinkan hamba faqir dan berlumpur dosa pun semakin hidup dalam menikmatinya.

Rabbi, adakah mereka yang buta dan kehilangan cahaya dapat berjalan di atasnya? Adakah mereka yang punggungnya digaruk sisir besi sepanjang jalannya dapat merasakan manisnya perjalanan? Adakah mereka yang terjatuh dan terusir dari jalan tak rasakan penyesalan luar biasa? Tidak, Rabbi, jangan Kau biarkan aku satu di antara mereka: munafiqin, zhalimin, dan musyrikin… meski di antara zhalimin ada yang masuk surga, mereka merasakan perjalanan itu terasa amat berat karena tiada kecintaan akan jihad di hatinya.

Rabbi, inilah penghambaanku yang sungguh tiada artinya bagiMu. Entah yang mana yang tercatat sebagai harga, entah yang mana yang mampu membuatMu bangga, entah yang mana yang bisa menebus surga… andai tak satu jua pun Kau lihat layak di antara amal-amalku yang jauh dari sempurna, cukuplah bagiku menjadi hamba dari Yang Maha Pengasih… tapi layakkah aku mendapatkan kasihMu?

curahan hati…
laiknya seorang pedagang, kuserahkan diri pada teriknya doa
sebab aku bukanlah dan belumlah apa-apa yang layak untuk kedudukan syahid.
#chie135#

Komentar

  1. subhanalloh, berasa ditonjok bacanya, mantep bgt... makasih untuk muhasabahnya ukhti

    BalasHapus
  2. sama2, ukhti :) smoga kita termasuk org yg mendapat rahmat Allah.

    BalasHapus
  3. bagus bgt, menyentuh hati membacanya...
    aq share ya mbak, salam kenal..
    aq baru mau bljr bikin blog, hehe

    BalasHapus
  4. kayak kenal dengan fotonya hehehe...

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #4 : KPR

Day 1. Jakarta – Rantau Prapat : Aku Yakin Ini Ujung Dunia!