Menyapa Samudera; Mengenal Diri

Assalamu'alaykum, Samudera

Sebagai anak udik, adalah keharusan bagiku memperluas pergaulan agar tidak menjadi semakin udik. Jika tidak mampu bebas sepenuhnya dari udik, setidaknya aku bisa menjadi anak udik yang memiliki banyak teman. Itu motif pertamaku dulu, saat aku mendaftarkan diri untuk masuk ke sebuah organisasi saat aku masih siswa. Dan yang namanya motif pertama, tentu akan ada yang kedua, ketiga, dan seterusnya.    

Aku mengikuti alur kaderisasinya dengan polos (dan udik tentunya). Salah satu momen berharga untukku adalah ketika ditanya, "Apa kelebihan dan kekuranganmu? Bagaimana karaktermu? Jelaskan dengan jujur." dan aku terdiam 1 detik, 10 detik. Aku digertak. 1 menit, 10 menit. Aku dimaki. "Bagaimana kamu ini? Teman2mu yang lain bisa menjawabnya dengan mudah. Ini bukan pertanyaan sulit!" tapi entah mengapa aku merasainya sulit. Sejak itu aku menganggap, pelajaran yang sulit bukanlah matematika atau fisika, melainkan mengenal diri sendiri dengan jujur.    

"PR! Tulis 10 kelebihanmu, 10 kekuranganmu! Kumpulkan besok sebelum bel masuk kelas!" Apakah aku bisa menepatinya? Jika boleh untuk menuliskan kelebihanku adalah kelebihan lemak di pipi dan kekuranganku adalah kekurangan rambut di alis sih rasanya aku bisa segera mengumpulkannya. Tapi ini? Dan akhirnya beberapa hari kemudian, entah tiga atau empat, aku baru bisa mengumpulkan PR itu. Setelah mencari tau dulu tentang bagaimana cara kita mengenali diri sendiri- DENGAN JUJUR. Pertanyaan yang tampaknya ringan, namun menurutku berlainan tampak dengan hakekatnya. Kenapa aku begitu serius? Karena aku percaya, orang yang tidak berhasil mengenal dirinya sendiri dengan sebenar2nya adalah orang yang akan gagal mengembangkan dirinya dan akan kalah dalam persaingan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #4 : KPR

Day 1. Jakarta – Rantau Prapat : Aku Yakin Ini Ujung Dunia!