Lembut

Bolehkah saya mengaku? KelembutanMu sungguh tak terkalahkan. Seperti tak berbatas dan tak berakhir. LembutMu lebih lembut dari air, juga sutera.

Engkau yang mencondongkan hati saya untuk memberikan tempat duduk kepada ibu-ibu hamil dan menjadikan gelisah kala berkata kasar. Itu semua karena kelembutanMu. LembutMu pun lebih lembut dari kapas, juga bulir salju.

Engkau tidak membutuhkan saya. Bahkan saya punya ruang besar yang pengap dengan kesalahan. Tapi tetap saja kelembutanMu tidak berkurang. Hm, lembutMu pun lebih lembut dari udara.

Bahkan saya pernah mendengar, kelembutanMu di dunia ini hanya  0,01 dari yang sesungguhnya. Lantas yang 1 itu seperti apa? Saya ingin merasakannya. Bisa, Yaa Lathiif?

Terima kasih telah mengizinkan saya merasakan lembutnya rahim ummi saat saya masih janin. Saya yakin itu lembut sekali. Karena jika tidak, ketika saya lahir mungkin tubuh saya memar-memar dan penyok di sana-sini. Semua orang tau kalau bayi itu sangat lemah, ringkih, dan hm... lembek.

Ah!! Apakah ummi merasakan kelembutanMu juga? Abi? Saya mohon, berilah kelembutan untuk mereka lebih dari yang Engkau berikan untuk saya. Sungguh, mereka pantas. Berilah kelembutan kepada mereka. Bahkan saat Izroil menjumpai mereka, tolong perintahkan Izroil untuk bersikap lembut pula kepada mereka. Perintahkan juga Munkar dan Nakir. Ridwan juga. Malik? Katanya Malik itu seram dan kasar, ya. Tolong,  jangan Engkau pertemukan mereka dengan Malik. Tapi... Tapi nanti saja, ya. Engkau tau? Ummi dan Abi pun lembut kepada saya. Ingin sekali saya merasakannya lebih lama. Sangat lebih lama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #4 : KPR

Day 1. Jakarta – Rantau Prapat : Aku Yakin Ini Ujung Dunia!