Makanan Halal dan Terkabulnya Doa


Di agenda melingkar kemarin jatahnya saya berbagi dengan teman2 yang lain. Kali ini saya tidak membicarakan tentang taktik kaderisasi, lobi advokasi, tawazun kontribusi - prestasi, atau usaha lahiriah sejenisnya. Tetap usaha lahiriah (spesialisasi :P).. tapi kali ini jenis yang agak beda sedikit. halah..
"............. Wahai orang yang beriman, makanlah yang baik2 dari apa yang Kami rezekikan kepada kalian, kemudian beliau (Muhammad) menyebutkan ada seseorang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Ia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, " Ya Rabbku, Yaa Rabbku.." padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan?" (HR. Muslim)

Hadits di atas adalah hadits arba'in ke 10, tentang hubungan makanan yang halal dengan terkabulnya doa. Masalah apa yang masuk ke perut ternyata bukan masalah sepele. Makan -- kunyah -- telen -- cerna -- serap -- aliran darah -- energi/ saving. Untuk perkara ini, prosesnya akan tetap, akan selalu saja begitu. Kita bicara tentang hubungan input dan output, tanpa melibatkan aspek proses (pencernaan, red).

Mungkin makan makanan halal bukan issue populer, apalagi di negara yang masyarakatnya mayoritas Islam seperti di Indonesia. Tapi Jokowi menjadi walikota percontohan se-Indonesia karena kebijakannya yang dinilai tidak populer. Tidak populer bukan berarti tidak penting. Tidak populer bukan berarti tidak menentukan.

"maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan?" artinya sangat kecil sekali kemungkinan doanya untuk dikabulkan. dari sini, menurut para ulama di antara syarat dikabulkannya doa adalah menggunakan dan memakan sesuatu yang halal.

Laki2 yang disebut dalam hadits di atas sebenarnya sudah memenuhi beberapa sebab dikabulkannya doa, yaitu :
  1. Dalam perjalanan jauh (safar)
  2. Kondisinya prihatin
  3. Mengangkat kedua telapak tangannya "sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Pemurah. Dia merasa malu jika ada seseorang mengangkat kedua tangannya kepadaNya, tetapi Ia membiarkannya dengan tangan kosong, tanpa membawa apa2
  4. Menyebut 'ya rabbi.. ya Rabbi.." sebagai bentuk tawassul kepada Allah dengan rububiyahNya.
Tapi kondisi2 tersebut tetap saja kondisi2nya itu belum cukup membuat Allah mengabulkan doanya, sob. Karena masih ada satu sebab yang belum terpenuhi, yaitu input yang halal atas dirinya. Halal di sini tidak hanya sifat dari makanannya saja loh, ya. tapi juga kehalalan cara mendapatkan makanan tersebut. Hm... Yuk, yuk.. dievaluasi lagi.. doa kita belum terkabul, karena memang Allah sedang menunggu waktu yang tepat, atau menggantinya dengan yang lebih baik, atau jangan2 tidak terkabul gara2 makanan minuman pakaian dll kita tidak halal? Hm...

Mungkin di antara kita banyak yang ngernyit2... "ih ih... kayanya banyak deh yang ga dalam kondisi sebab2 terkabulnya doa.. tapi kok doanya terkabul2 aja? Itu gimana dongs?" Kata Ibnu Taimiyah,
"Orang2 yang dikabulkan doanya disebabkan keyakinannya bahwa Allah akan mengabulkan doa hamba yang sedang berada dalam kesempitan, akan tetapi ia tidak memurnikan kepatuhan kepadaNya dalam menunaikan ibadah dan tidak menaati Allah dan rasulNya, maka apa yang diberikan Allah kepada mereka karena doa yang mereka panjatkan hanyalah kesenangan hidup di dunia saja, ada pun di akhiratnya kelak mereka tidak akan memperoleh apa2."
Semata2 karena sifat pemurahnya Allah... Apa tidak ingin kita disayang juga sama Allah?

Seperti yang sudah kita bahas di post2an sebelumnya... tawakal itu hasil dari kekonsistenan usaha lahir dan usaha batin kita. Yuk2.. kita sempurnakan segala usaha2 kita itu... usaha lahir tidak kita nodai dengan keluhan, suuzhon, atau yang lain... usaha bathin pun kita jaga dengan tidak bersikap riya', makan sesuatu yang haram , atau yang lain. Biar Allah yang nantinya menetapkan takdirNya yang pasti itu terbaik dan teradil bagi hambaNya.

*sambil buka2 syarah hadits arba'in. secaraaa... saya belum apal hadits2 dan bukan jagoan syarah ;)

Komentar

  1. Untuk terkabulnya suatu doa, di dalam Q2:186 dikatakan: "Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu ttg Aku, maka jawablah bahwasanya aku dekat, aku mengabulkan permohonan orang yg mendoa apabila ia berdoa kepadaKu. maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu, dan hendaklah mereka beriman kpdKu, agar mereka dlm kebenaran".
    Jadi jelas bhw, terkabulnya doa, memiliki persyaratan:
    1. Beriman kpd Alloh
    2. Mendoa ketika berdoa
    3. Memenuhi segala perintah Alloh

    wass: umi

    BalasHapus
  2. Terma kasih infonya. Harus SUPER HATI-HATI di Indonesia. Beberapa produk dipasaran tidak jelas halal ato haramnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah membacanya :D dan terima kasih sudah mau komen. hehe...

Postingan populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #4 : KPR

Day 1. Jakarta – Rantau Prapat : Aku Yakin Ini Ujung Dunia!