Mas dan Mpok Kodok #5


Semenjak tanggal 21 Mei 2011, aku mulai memiliki sebuah diari khusus. Hanya terbuat dari puluhan kertas putih A4 yang kubagi 2, lalu kujilid spiral di toko fotokopi dekat kosan. Bagian depan dan belakang hanya kuberi mika bening. Medit banget, ya? Hahaha.
.
.
Dalamnya kutulis dan kugambar dengan spidol warna-warni. Apakah isinya? Isinya adalah semua info seputar maskodok, apapun yang ada di pikiranku; pendapatku, persepsiku, list pertanyaanku untuknya, jawaban2nya, juga tentang siapa aku sedetail2nya, harapan2ku, KEGALAUANKU, kesablenganku, ringkasan2 buku dan ta'lim tentang pernikahan di kurun masa itu, quote2 penguat, perkembangan proses kami di hampir setiap harinya, termasuk perkembangan perasaanku kepadanya *hadeh.
.
.
Aku tipe yang ekspresif dan ekstrovert, tapi yang kufahami walau sudah dikhitbah tapi selama belum akad, obrolan dan ekspresi dengannya harus tetap dijaga. Susah memang. Kondisi seperti itu aku mengumpamakan seperti hm... ah, aku lupa. Sahabatku saksinya betapa aku "berdarah2" kala itu. Maka, buku itulah solusinya (baca : korbannya). Ceriwis sekali aku di dalamnya. Hehe. Saat itu, aku berencana memberikan diari putih itu ke maskodok di hari pernikahan kami; sebagai kado pernikahan untuknya. Ga modal banget, ya? Hahaha.
.
.
Aku ingin melihat bagaimana ekspresinya membaca diari itu; yang aku tulis sejujur dan seapa adanya aku. Dan hahaha, benar2 menyenangkan melihat senyumnya, raut wajah terkejutnya, tertawa terkikiknya, dan juga titikan air matanya, -berganti2an- ketika di hari pertama pernikahan kami, setelah tamu2 pada bubar, ia menelaah lembar demi lembar buku sederhana itu. Tapi sepertinya, setelah ia selesai membacanya, aku merasa telah berhasil membuat dia... bahagia.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Sarang Kodok #2 : Mencari Kompor

Rumah #6 : Deal! Alhamdulillah :)

Rumah #4 : KPR